Selasa, 20 Februari 2018

Waspadai ancaman dalam negeri

Selasa, 13 Februari 2018 08:56

Sumber foto: http://bit.ly/2Emglfr Sumber foto: http://bit.ly/2Emglfr
Ayo berbagi!

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamananan (Menko Polhukam), Wiranto, berpesan agar kepala daerah jeli dalam memantau kerawanan saat Pilkada serentak 2018, pada Juni mendatang. Sebab, hal itu menjadi sorotan banyak negara belakangan ini.

"Kemarin, saya masih bertemu dengan Perdana Menteri Singapura, Menteri Pertahanan Singapura, saya ditanya bagaimana kondisi Indonesia dan persiapan Pilkada. Mereka tahu persis," kata Wiranto belum lama ini dalam acara Rakor Gubernur, Sekda dan Kepala Kesbangpol Provinsi se-Indonesia, seperti diinformasikan melalui laman resmi Kemendagri, Senin (12/2) .

Menko Polhukam kemudian bercerita pengalamannya pada 1998 saat masih menjabat sebagai Panglima TNI. Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Kuan Yew, pernah mengingatkan agar dirinya mampu menjaga kondusifitas di negara ini.

"Katanya, Pak Wiranto jaga negara Anda. Apapun yang terjadi di negara Anda akan sangat berpengaruh terhadap Singapura," ungkap Wiranto kembali mengutarakan pesan Lee Kuan Yew pada masa silam.

Ia membenarkan pesan mantan pemimpin Singapura tersebut. Makanya, ia minta kepada kepala daerah agar benar-benar mampu menjaga kawasannya masing-masing. Terlebih, jelang Pilkada, kerawanan daerah mesti diantisipasi.

"Negara lain pun mengkhawatirkan negara kita, karena perkembangannya menjadi perhatian mereka," tambah Wiranto dalam sambutannya.

Dengan indikator Bawaslu atas daerah-daerah yang dianggap rawan, kata Wiranto, sebenarnya bisa menjadi pedoman pemerintah, termasuk daerag dalam mengamati perkembangan dinamika saat pilkada.

"Untuk itu, daerah yang indeks kerawaanan tinggi, kita mohon pejabat daerah bisa berkoordinasi dengan kepolisian-TNI untuk meredam potensi tersebut," tambah Wiranto.

Sementara itu, Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menilai bahwa salah satu ancaman bagi Indonesia adalah masalah teknologi (cyber). Hal ini terlihat dari banyaknya berita-berita yang dapat mempropaganda seseorang.

"Kita mengantisipasi ancaman cyber tadi. Kita lihat perkembangan ilmu pengetahuan digitalisasi," kata Hadi usai acara tersebut.

Menjadi masalah serius, bila kondisi tersebut malah melahirkan bibit-bibit terorisme. Apalagi, polanya adalah lonewolf, atau aksi teror perorangan, sehingga harus betul-betul menjadi perhatian pemerintah, termasuk tingkat pemda.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius, mengatakan, bahwa lonewolf ini adalah anak-anak muda yang terkena brainwashing (cuci otak) dari internet/gadget. Maka itu, pihak BNPT punya program merangkul anak pemuda sebagai duta damai. "Supaya menyebarkan pesan damai," kata dia.

Dalam acara Rakor tersebut, Suhardi menyatakan, telah melakukan sharing dengan para pejabat pemda terkait isu dan tantangan tersebut. Di antaranya, mereka yang baru kembali dari Suriah, ada di tengah-tengah masyarakat.

"Kami mengingatkan para gubernur dan pejabat lainnya, tolong dipantau, jangan sampai dimarjinalkan, karena khawatir akan kembali pada ideologi kekerasan," tambahnya.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-der

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar