Selasa, 20 Februari 2018

Hari Radio Internasional

Ini komentar para jurnalis radio Indonesia di mancanegara

Selasa, 13 Februari 2018 16:37

Sumber foto: Radio Elshinta Sumber foto: Radio Elshinta
Ayo berbagi!

Hari ini, 13 Februari diperingati sebagai Hari Radio Internasional, atau dalam Bahasa Inggris World Radio Day. Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB, UNESCO merupakan lembaga yang mempelopori pertama kali Hari Radio Internasional untuk meningkatkan di kalangan masyarakat akan pentingnya radio terutama untuk mendorong pengambilan keputusan dalam membangun dan menyediakan akses informasi melalui radio, serta meningkatkan jaringan dan kerjasama  di antara lembaga penyiaran.

Radio Elshinta menanyakan kepada sejumlah penyiar radio yang bertugas di lembaga mitra yang berada di luar Indonesia kegiatan apa saja yang dilakukan untuk memperingati hari Radio Internasional itu.

“Nggak ada, karena memang nggak ada perayaannya kalau di radio Jepang, di NHK ini. Setahu saya di media lain di sini, nggak ada perayaan khusus sepertinya,” ungkap Sigit Purnomo, rekan penyiar yang bertugas di NHK World Jepang.

Image title

Sumber foto: Twitter @RadioElshinta

Sementara Muhammad Susilo, yang sejak menjadi bagian dari BBC London sejak  tahun 2000, tidak ada kegiatan khusus untuk menandai Hari Radio Internasional. “Tidak ada kegiatan khusus untuk divisi di London sendiri terkait peringatan itu. Saya kerja sejak tahun 2000 di London sepertinya tidak ada kegiatan secara khusus untuk menandai peringatan khusus untuk itu,” ungkapnya kepada Radio Elshinta.

Hal senada juga disampaikan oleh Eva Mazrieva dari VOA. Bahkan dia mengaku VOA sedang fokus pada berbagai isu di Amerika sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan untuk merayakan Hari Radio Internasional. “Jujur saja, nggak banyak yang dilakukan VOA untuk merayakan Hari Radio Internasional  13 Februari, bisa jadi karena teman-teman di sini sedang fokus pada berbagai isu yang kini sedang mengemuka di Amerika, misalnya soal penghentian sebagian operasi Pemerintah pekan lalu yang bikin jantungan, kontroversi UU Imigrasi, bangkitnya gerakan perempuan yang mendorong korban pelecehan dan serangan seksual untuk angkat bicara, insiden penembakan yang nggak kunjung berhenti dan juga beberapa isu lain di luar Amerika yang terus terang saja, menguras energi kami untuk meliput dan melaporkannya,” ungkap Eva.

Image title

Ilustrasi: Twitter @RadioElshinta

Agak berbeda dengan rekannya sesama jurnalis radio, Sri Dean dari SBS Australia biasanya yang dilakukan untuk Hari Radio Internasional adalah membuat liputan khusus. “Yang biasa kami lakukan adalah membuat satu liputan khusus, di antaranya melihat kembali, banyak sekali memang itu yang dapat dilakukan. Tapi di antaranya melihat kembali fungsi radio ini terhadap komunitas,” katanya.

Sri melanjutkan bahwa seiring kemajuan teknologi maka fungsi radio menjadi sedikit berbeda. Jika dahulu radio menjadi alat bagi pendengar mendapatkan berita dan informasi apa saja, sekarang dengan ada internet dan media lainnya, maka peran radio juga harus disesuaikan.

Tahun 2018 adalah tahun ketujuh sejak UNESCO menggagas Hari Radio Internasional. Dengan tema di tahun ini “Radio dan Olahraga”, UNESCO menekankan pada faktor-faktor seperti keanekaragaman dan kesetaraan gender, dalam memuat peristiwa olahraga. Selamat Hari Radio Internasional!

Masih ada lagi informasi #ElshintaIsMe menarik untuk anda, klik disini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar