Senin, 17 Desember 2018 | 18:09 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Darurat! Awali pendidikan antinarkoba dengan pemahaman bahaya rokok

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2tjjmYZ
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2tjjmYZ
<p>Pendidikan antinarkoba kepada anak-anak dan remaja dinilai seharusnya diawali dengan pengetahuan dan kesadaran tentang bahaya rokok.</p><p>Hal itu dikatakan Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari di Jakarta, Minggu (4/3). "Karena menurut Badan Narkotika Nasional, rokok merupakan pintu gerbang narkoba," jelasnya. </p><p>Menurut Lisda, pendidikan antinarkoba baik dan perlu dilakukan untuk memberikan penguatan kepada anak dan mencegah penyalahgunaannya di kalangan anak-anak, termasuk ketika mereka dewasa.</p><p>Namun, Lisda menilai, upaya melakukan pencegahan dini, yaitu mencegah anak-anak menjadi perokok, akan lebih efektif dalam upaya mencegah mereka terjerat bahaya narkoba.</p><p>"Pemerintah mencanangkan darurat narkoba, seharusnya juga mencanangkan darurat rokok. Apalagi, usia merokok di Indonesia semakin muda bukan isapan jempol karena didapat melalui penelitian dan survei yang ilmiah," tuturnya, dikutip <i>Antara</i>.</p><p>Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014 menunjukkan, terdapat 20,3 persen remaja Indonesia berusia 13 tahun hingga 15 tahun yang merokok.</p><p>Sedangkan data Riset Kesehatan Dasar 2014 menyatakan, perokok pemula remaja usia 10 tahun hingga 14 tahun pada 10 tahun terakhir naik dua kali lipat dari 9,5 persen pada 2001 menjadi 18 persen pada 2013.</p><p>"Kementerian Kesehatan menargetkan prevalensi perokok usia di bawah 18 tahun menurun. Namun, kenyataannya malah meningkat signifikan. Indonesia sudah darurat rokok," katanya.</p><p>Kementerian Kesehatan menargetkan prevalensi perokok usia di bawah 18 tahun menurun menjadi 6,4 persen pada 2016 dan 5,4 persen pada 2019. Namun, prevalensi perokok usia tersebut pada 2015 malah meningkat dari 7,2 persen menjadi 8,8 persen.</p><p><br></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 17 Desember 2018 - 17:55 WIB

Sembilan orang tewas akibat bom mobil di Suriah

Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 17:33 WIB

KPU jamin hak pemilih yang belum masuk DPT

Pileg 2019 | 17 Desember 2018 - 17:12 WIB

Jokowi sebut caleg PKB punya militansi tinggi

<p>Pendidikan antinarkoba kepada anak-anak dan remaja dinilai seharusnya diawali dengan pengetahuan dan kesadaran tentang bahaya rokok.</p><p>Hal itu dikatakan Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari di Jakarta, Minggu (4/3). "Karena menurut Badan Narkotika Nasional, rokok merupakan pintu gerbang narkoba," jelasnya. </p><p>Menurut Lisda, pendidikan antinarkoba baik dan perlu dilakukan untuk memberikan penguatan kepada anak dan mencegah penyalahgunaannya di kalangan anak-anak, termasuk ketika mereka dewasa.</p><p>Namun, Lisda menilai, upaya melakukan pencegahan dini, yaitu mencegah anak-anak menjadi perokok, akan lebih efektif dalam upaya mencegah mereka terjerat bahaya narkoba.</p><p>"Pemerintah mencanangkan darurat narkoba, seharusnya juga mencanangkan darurat rokok. Apalagi, usia merokok di Indonesia semakin muda bukan isapan jempol karena didapat melalui penelitian dan survei yang ilmiah," tuturnya, dikutip <i>Antara</i>.</p><p>Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014 menunjukkan, terdapat 20,3 persen remaja Indonesia berusia 13 tahun hingga 15 tahun yang merokok.</p><p>Sedangkan data Riset Kesehatan Dasar 2014 menyatakan, perokok pemula remaja usia 10 tahun hingga 14 tahun pada 10 tahun terakhir naik dua kali lipat dari 9,5 persen pada 2001 menjadi 18 persen pada 2013.</p><p>"Kementerian Kesehatan menargetkan prevalensi perokok usia di bawah 18 tahun menurun. Namun, kenyataannya malah meningkat signifikan. Indonesia sudah darurat rokok," katanya.</p><p>Kementerian Kesehatan menargetkan prevalensi perokok usia di bawah 18 tahun menurun menjadi 6,4 persen pada 2016 dan 5,4 persen pada 2019. Namun, prevalensi perokok usia tersebut pada 2015 malah meningkat dari 7,2 persen menjadi 8,8 persen.</p><p><br></p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Minggu, 16 Desember 2018 - 16:13 WIB

Ini cara cegah kejahatan `SIM swap fraud` ala Bareskrim

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:27 WIB
Hari Menanam Nasional 2018

PKSM dan Pramuka bagikan 3.500 batang pohon kepada pengguna jalan

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:19 WIB

Disdukcapil Kotabaru memusnahkan ratusan KTP-el rusak

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com