Senin, 25 Juni 2018 | 12:55 WIB

Daftar | Login

/

Berita Palsu Menyebar Lebih Cepat Secara Daring Ketimbang Kebenaran

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
(Courtesy: AustraliaPlus) Momok "berita palsu" menghantui media sosial, dari Twitter sampai Facebook.
(Courtesy: AustraliaPlus) Momok "berita palsu" menghantui media sosial, dari Twitter sampai Facebook.
<p>Siapa yang harus disalahkan karena menyebarkan desas-desus palsu secara daring? Sebuah studi baru menunjukkan bahwa itu bukan hanya andil aplikasi perangkat lunak otomatis yang berbahaya. Kita-pun turut berperan.</p><p>Sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat (AS) menemukan, berita palsu menyebar "lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih luas" dari berita sebenarnya di Twitter antara 2006 dan 2017.</p><p>Studi mereka, yang diterbitkan pada hari Jumat (9/3/2018) di jurnal Science, adalah salah satu penyelidikan jangka panjang terbesar tentang berita palsu di media sosial yang pernah dilakukan.</p><p>Peran media sosial dalam menyebarkan informasi yang keliru, yang didorong oleh aplikasi perangkat lunak otomatis berbahaya telah banyak diteliti sejak terpilihnya Presiden AS Donald Trump pada tahun 2016.</p><p>Pada bulan Februari, Departemen Kehakiman AS menuduh 13 orang Rusia dengan tuduhan mencoba "mempromosikan perselisihan di Amerika Serikat" dengan berlagak sebagai orang Amerika di media sosial.</p><p>"Kebetulan studi kami selesai pada saat yang sama dengan 'berita palsu' menjadi pembicaraan di kota ini," kata Dr. Soroush Vosoughi dari Institut Teknologi Massachusetts.</p><p>Temuan penelitian itu menunjukkan bahwa kebenaran mungkin merupakan komoditas langka: kebenaran biasanya memakan waktu sekitar enam kali sepanjang berita palsu mencapai 1.500 orang.</p><p>Axel Bruns, seorang profesor di Pusat Penelitian Media Digital Universitas Queensland, yang bukan bagian dari penelitian ini, mengatakan bahwa hasilnya membantu membuktikan peribahasa: </p><aside class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-pullquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Kebohongan bisa tersebar setengah jalan dari keliling dunia sebelum kebenarannya muncul.&quot;</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </aside><p>Sementara studi ini didanai oleh Twitter (yang juga memberi tim itu akses ke arsip tweet yang sungguh bersejarah), Dr Vosoughi mengatakan bahwa hal itu dilakukan secara independen.</p><h2>Mana yang benar dan mana yang salah?</h2><p>Meski kekhawatiran tentang "berita palsu" yang baru-baru ini muncul berfokus pada cerita politik, Dr Vosoughi dan rekannya juga melihat pada cerita rakyat, bisnis, terorisme, sains, hiburan dan bencana alam.</p><p>Mereka menganalisa 126.000 "terusan rumor " -postingan Twitter yang berisi tautan, komentar atau gambar tentang sebuah cerita -yang disebarkan oleh 3 juta orang sebanyak lebih dari 4,5 juta kali.</p><p>Berita politik adalah kategori rumor terbesar dengan sekitar 45.000 "terusan".</p><p>Misalnya, lonjakan gosip terjadi selama peristiwa geopolitik seperti aneksasi Crimea pada tahun 2014 dan Pemilihan Presiden AS 2012 dan 2016 berlangsung.</p><p>Para peneliti memilih cerita yang telah diteliti oleh enam situs pengecekan fakta termasuk <a class="external" href="http://snopes.com/">snopes.com</a> dan <a class="external" href="http://politifact.com/">politifact.com</a>.</p><p>Tapi metode ini mungkin telah melewatkan cara lain yang lebih halus untuk menyebarkan berita palsu, kata Profesor Bruns.</p><p>"Ada juga kecenderungan orang-orang yang menyebarkan informasi keliru atau kekurangan tak utuh untuk menyembunyikan berita palsu ini dalam sebuah cerita yang menurutnya cukup logis dan berdasarkan fakta," sebutnya.</p><p>"Mungkin ada area setengah-kebenaran dan cerita setengah palsu abu-abu yang disebarluaskan."</p><div class="view-image-embed-full" > <div class="view-richTallCaptionByline linked" > <figure> <div class="component comp-image"> <img src="http://www.abc.net.au/cm/rimage/9533958-16x9-thumbnail.jpg?v=2" data-sizes="auto" data-src="http://www.abc.net.au/cm/rimage/9533958-16x9-thumbnail.jpg?v=2" data-srcset="http://www.abc.net.au/cm/rimage/9533958-16x9-thumbnail.jpg?v=2 160w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/9533958-16x9-small.jpg?v=2 220w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/9533958-16x9-medium.jpg?v=2 460w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/9533958-16x9-large.jpg?v=2 700w " title="Socmed" alt="Perwakilan dari Facebook, Twitter dan Google menghadap Komite Kehakiman Senat AS pada bulan Oktober 2017 di Wahington DC." class="lazyload" data-expand="0" /> </div> <figcaption> <div class="caption">Perwakilan dari Facebook, Twitter dan Google menghadap Komite Kehakiman Senat AS pada bulan Oktober 2017 di Wahington DC.</div> <div class="comp-rich-text credit clearfix" id="comp-rich-text7" > <p>Getty Images: Chip Somodevilla</p> </div> </figcaption> </figure> </div> </div><h2>Aplikasi perangkat lunak otomatis itu buruk tapi seberapa burukkah?</h2><p>Baru-baru ini, perusahaan media sosial diminta untuk menghadapi anggota Parlemen AS dan Inggris tentang peran aplikasi perangkat lunak otomatis di platform mereka.</p><p>Para peneliti menemukan bahwa aplikasi perangkat lunak otomatis berbahaya mempercepat penyebaran berita, namun ada sedikit perbedaan dalam bagaimana berita palsu atau benar menyebar saat aplikasi otomatis itu dihapus dari analisa.</p><p>"Kami tidak mengatakan bahwa aplikasi otomatis berbahaya tidak memiliki efek, tapi mereka tidak bisa menjelaskan semuanya," kata Dr Vosoughi.</p><p>Ia mengatakan bahwa dirinya tidak yakin apakah aplikasi perangkat lunak otomatis akan lebih menonjol jika penelitian tersebut hanya berfokus pada berita politik.</p><p>"Jika kami membatasi penelitian kami hanya pada rumor politik seputar Pemilu 2016, maka dugaan saya - dan ini hanya dugaan - Anda akan melihat aplikasi perangkat lunak otomatis memainkan peran yang jauh lebih besar," kata Dr Vosoughi.</p><p>Tidak semua aplikasi perangkat lunak otomatis berbahaya, misalnya, penerbit menggunakan mereka untuk secara otomatis mengunggah berita utama.</p><p>Profesor Bruns menunjukkan bahwa memasang aplikasi otomatis secara strategis juga bertujuan untuk membuat postingan terlihat pada tab cerita yang sedang tren di Twitter dengan retweeting massal, misalnya, daripada menyebarkan cerita palsu terlebih dahulu.</p><aside class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-pullquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Aplikasi otomatis bisa memulai visibilitas, tapi karena itu terlihat, manusialah yang berperan besar dalam menyampaikannya,&quot; kata Prof Burns.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </aside><h2>Mengapa kita menyebarkan berita palsu?</h2><p>Studi ini hanya memberikan satu bagian gambaran tentang bagaimana kepalsuan menyebar secara daring.</p><p>Untuk satu hal, itu hanya melihat rumor berbahasa Inggris, kata Dr Vosoughi.</p><p>Sementara para peneliti menunjukkan bahwa berita palsu dibagikan lebih sering karena sifat kebaruannya, Dr Vosoughi mengatakan bahwa lebih banyak penelitian tentang motivasi orang-orang yang berbagi konten ini dan dampaknya dibutuhkan.</p><p>Apakah itu benar-benar mengubah pikiran orang?</p><p>Sejauh ini, Twitter sebagian besar menolak menjadi "arbiter kebenaran," kata Nick Pickles, kepala kebijakan publik Twitter untuk Inggris.</p><p>"Kami tidak akan menghapus konten berdasarkan fakta bahwa ini tidak benar," katanya kepada anggota Parlemen Inggris pada bulan Februari.</p><p>"Saya tidak berpikir perusahaan teknologi harus memutuskan selama Pemilu apa yang benar dan yang tidak benar, yang Anda minta kami lakukan."</p><p>Dr Vosoughi sekarang melihat intervensi untuk mencoba dan menghentikan penyebaran berita palsu.</p><p>Misalnya, orang-orang yang cenderung berbagi informasi, tapi begitu reseptif terhadap pesan tentang apakah item itu benar atau salah, bisa bertindak sebagai "simpul pengaruh" agar berita yang dipertanyakan tidak menyebar.</p><p>Dalam kondisi panik atau tidak, Dr Vosoughi mengatakan perusahaan media sosial mungkin perlu campur tangan.</p><p>"Di satu sisi, semakin banyak keterlibatan yang diperoleh Twitter, semakin baik kondisinya untum model bisnis mereka."</p><aside class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-pullquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Saya tak akan bilang bahwa platform ini terlena tapi mereka punya peran besar untuk mengatasi isu ini,&quot; sebut Dr Vosoughi.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </aside><p>Twitter menolak berkomentar.</p><p><a class="external" href="http://www.abc.net.au/news/science/2018-03-09/who-spreads-false-news-on-twitter-bots-and-us-study/9519402" target="_blank" title="">Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.</a></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 25 Juni 2018 - 12:55 WIB

LRT Palembang dijadwalkan diresmikan Presiden pertengahan Juli

Pilkada Serentak 2018 | 25 Juni 2018 - 12:45 WIB

Bawaslu temukan masalah DPT-C6 di Sumut

Aktual Dalam Negeri | 25 Juni 2018 - 12:34 WIB

Ganjar senang sistem tetap berjalan lancar selama cuti kampanye

Aktual Dalam Negeri | 25 Juni 2018 - 12:24 WIB

Wagub Malut imbau masyarakat jangan golput

Aktual Dalam Negeri | 25 Juni 2018 - 12:07 WIB

Panglima Hadi Tjahjanto kembali tegaskan netralitas TNI

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 22 Juni 2018 - 17:27 WIB

Aceh, Sumsel, Jawa, siaga kebakaran

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com