Senin, 17 Desember 2018 | 18:04 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Musibah

Teror miras oplosan

Selasa, 10 April 2018 - 09:30 WIB    |    Penulis :    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi miras oplosan. Sumber foto: https://bit.ly/2RAXiAm
Ilustrasi miras oplosan. Sumber foto: https://bit.ly/2RAXiAm

Minuman keras oplosan masih menjadi momok mematikan hingga saat ini. Di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, miras oplosan telah menyebabkan sejumlah warga menjadi korban meninggal dunia. 

Reporter Elshinta, Endang Sudrajat melaporkan, Selasa (10/4), reaksi dari miras oplosan yang terjadi di Cicalengka dimulai sejak Jumat (6/4) lalu. Kemungkinan ada yang sudah bereaksi satu hari setelah mengonsumsi miras oplosan dan ada pula yang dua atau tiga hari baru bereaksi. 

Seorang warga, An, memeriksakan suaminya ke rumah sakit yang mengalami muntah-muntah setelah berdasarkan pengakuan suaminya mengonsumsi miras oplosan.

Kepada Elshinta, ia mengatakan, sejak Jumat suaminya sudah tidak dapat bekerja. “Sejak Jumat udah enggak keluar, enggak ngojek, malam muntah-muntah dan ada darahnya. Saya enggak tahu kalau dia mengonsumsi miras oplosan, karena saat itu sedang di rumah,” ungkapnya. 

Berdasarkan data yang belum dapat dinyatakan valid karena belum ada keterangan resmi dari rumah sakit, jumlah pasien yang dirawat di RSUD Cicalengka sejak Jumat (6/4) lalu diperkirakan sudah lebih dari 86 orang. Untuk korban meninggal dunia hampir mencapai 30 orang dan saat ini yang masih dalam perawatan berjumlah 17 orang, di antaranya 10 orang di ruang perawatan dan 7 masih di UGD.

Reporter Elshinta melaporkan, untuk sementara data tersebut dapat berubah sewaktu-waktu, entah bertambah atau pun berkurang karena ada yang harus dirujuk ke RSUD Majalaya, RS Hasan Sadikin, atau pun rumah sakit lainnya.

Mengenai penjagaan di sekitar RSUD Cicalengka dilakukan oleh TNI/Polri dan Satpol PP sejak Senin kemarin.

Menurut penjelasan Kapolres Kabupaten Bandung, AKBP Indra Hernawan, terjualnya miras oplosan ini sudah seminggu ke belakang. Sejak Kamis (5/4) sudah terjual semua miras oplosan di beberapa tempat di Kecamatan Cicalengka. Sehingga mulai dari Minggu (8/4) mengonsumsi dan hingga hari ini mereka terkena dampaknya.

“Sampai saat ini posko sudah terbentuk, namun pemerintah setempat belum menetapkan kasus ini sebagai kejadian luar biasa. Menurut pihak rumah sakit ini hanya peningkatan status pasien saja bukan KLB. Posko sudah berdiri dan nama-nama korban pun sudah mulai disosialisasikan sejak Senin kemarin. Koordinasi yang dilakukan oleh Bimas Polres Kab Bandung atau pun dari Kodim 06/09, menyusur sejumlah masyarakat dan mengumumkan dengan berkoordinasi dengan RT/RW, apabila ada keluhan silakan secepatnya berobat agar nanti tidak terkena dampaknya,” papar Kapolres.

Dari pantauan Reporter Elshinta, korban meninggal, setelah dikonfirmasi ke beberapa tim medis, mengalami muntah, mual, mata buram, dan sesak napas. 

 

Penulis : Yuno.

Editor : Dewi Rusiana.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 17 Desember 2018 - 17:55 WIB

Sembilan orang tewas akibat bom mobil di Suriah

Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 17:33 WIB

KPU jamin hak pemilih yang belum masuk DPT

Pileg 2019 | 17 Desember 2018 - 17:12 WIB

Jokowi sebut caleg PKB punya militansi tinggi

Minuman keras oplosan masih menjadi momok mematikan hingga saat ini. Di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, miras oplosan telah menyebabkan sejumlah warga menjadi korban meninggal dunia. 

Reporter Elshinta, Endang Sudrajat melaporkan, Selasa (10/4), reaksi dari miras oplosan yang terjadi di Cicalengka dimulai sejak Jumat (6/4) lalu. Kemungkinan ada yang sudah bereaksi satu hari setelah mengonsumsi miras oplosan dan ada pula yang dua atau tiga hari baru bereaksi. 

Seorang warga, An, memeriksakan suaminya ke rumah sakit yang mengalami muntah-muntah setelah berdasarkan pengakuan suaminya mengonsumsi miras oplosan.

Kepada Elshinta, ia mengatakan, sejak Jumat suaminya sudah tidak dapat bekerja. “Sejak Jumat udah enggak keluar, enggak ngojek, malam muntah-muntah dan ada darahnya. Saya enggak tahu kalau dia mengonsumsi miras oplosan, karena saat itu sedang di rumah,” ungkapnya. 

Berdasarkan data yang belum dapat dinyatakan valid karena belum ada keterangan resmi dari rumah sakit, jumlah pasien yang dirawat di RSUD Cicalengka sejak Jumat (6/4) lalu diperkirakan sudah lebih dari 86 orang. Untuk korban meninggal dunia hampir mencapai 30 orang dan saat ini yang masih dalam perawatan berjumlah 17 orang, di antaranya 10 orang di ruang perawatan dan 7 masih di UGD.

Reporter Elshinta melaporkan, untuk sementara data tersebut dapat berubah sewaktu-waktu, entah bertambah atau pun berkurang karena ada yang harus dirujuk ke RSUD Majalaya, RS Hasan Sadikin, atau pun rumah sakit lainnya.

Mengenai penjagaan di sekitar RSUD Cicalengka dilakukan oleh TNI/Polri dan Satpol PP sejak Senin kemarin.

Menurut penjelasan Kapolres Kabupaten Bandung, AKBP Indra Hernawan, terjualnya miras oplosan ini sudah seminggu ke belakang. Sejak Kamis (5/4) sudah terjual semua miras oplosan di beberapa tempat di Kecamatan Cicalengka. Sehingga mulai dari Minggu (8/4) mengonsumsi dan hingga hari ini mereka terkena dampaknya.

“Sampai saat ini posko sudah terbentuk, namun pemerintah setempat belum menetapkan kasus ini sebagai kejadian luar biasa. Menurut pihak rumah sakit ini hanya peningkatan status pasien saja bukan KLB. Posko sudah berdiri dan nama-nama korban pun sudah mulai disosialisasikan sejak Senin kemarin. Koordinasi yang dilakukan oleh Bimas Polres Kab Bandung atau pun dari Kodim 06/09, menyusur sejumlah masyarakat dan mengumumkan dengan berkoordinasi dengan RT/RW, apabila ada keluhan silakan secepatnya berobat agar nanti tidak terkena dampaknya,” papar Kapolres.

Dari pantauan Reporter Elshinta, korban meninggal, setelah dikonfirmasi ke beberapa tim medis, mengalami muntah, mual, mata buram, dan sesak napas. 

 

Penulis : Yuno.

Editor : Dewi Rusiana.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com