Kamis, 13 Desember 2018 | 12:14 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Kasus Eks Spion Rusia di Inggris: Yulia Skripal Sudah Meninggalkan Rumah Sakit

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
courtesy
courtesy
<p>Yulia Skripal, bersama ayahnya diracuni dengan agen syaraf Novichok di Saliybury, Inggris, bersama ayahnya, telah keluar dari rumah sakit hari Selasa (10/4) dan kini dibawa ke lokasi yang aman, demikian laporan media di Inggris.</p><p>Dokter mengatakan kesehatan Yulia, 33 tahun, dan ayahnya Sergei Skripal, 66 tahun, telah membaik dengan cepat selama beberapa minggu terakhir. Keduanya ditemukan dalam kondisi kritis 4 Maret di kota Salisbury, Inggris selatan, setelah diracuni dengan agen saraf yang tampaknya ditujukan pada ayahnya.</p><p>Pekan lalu, Yulia Skripal untuk pertama kalinya setelah serangan itu membuat pernyataan publik dan mengatakan, kekuatannya bertambah pulih setiap hari. Ayahnya masih tetap di rumah sakit.</p><h3>Belum ada bukti yang jelas</h3><p>Insiden serangan dengan senjata kimia beracun itu telah memicu ketegangan antara Inggris serta aliasinya dengan Rusia, yang dituduh Inggris melakukan serangan itu. Peristiwa itu kemudian berdampak pengusiran diplomat Rusia dari negara-negara Barat, yang dibalas oleh Rusia dengan langkah yang sama.</p><p>Inggris menyatakan bahwa kedua korban &bdquo;kemungkinan besar&quot; diserang dengan racun saraf &bdquo;bertaraf militer&quot; yang hanya mungkin diproduksi oleh sebuah negara. Inggris lalu menuduh Rusia, mengacu kepada kasus-kasus sebelumnya, di mana bekas agen rahasia Rusia yang lari ke Inggris kemudian terbunuh.</p><p>Kasus yang paling mendapat sorotan media adalah serangan terhadap Alexander Litvinenko tahun 2006, yang diracuni dengan Polonium-210. Litvinenko sempat dirawat di rumah sakit, namun meninggal tiga minggu kemudian. Polisi Inggris menuduh seorang warga Rusia, Andrey Lugovoy, berada di balik serangan itu dan menuntut ekstradisinya dari Rusia ke Inggris. Rusia menolak tuntutan itu dengan alasan hal itu bertentangan dengan konstitusinya.</p><h3>Perang dingin baru Barat dengan Rusia?</h3><p>Amerika Serikat dan Uni Eropa dan sejumlah negara pro Barat mendukung langkah Inggris, dan mengusir para diplomat Rusia. Lebioh dari 100 diplomat Rusia harus meninggalkan negara-negara itu. Moskow membalas langkah tersebut dengan mengusir diplomat barat.</p><p>Moskow hingga kini tetap membantah terlibat dalam serangan racun terhadap Sergei Skripal dan meminta Inggris menunjukkan bukti-bukti konkret. Rusia bahkan balik menuduh Inggris dan aliansi Barat yang melakukan serangan itu untuk mendiskreditkan Rusia.</p><p>&quot;Karena pemerintah Inggris berani menyatakan dengan &#39;tingkat probabilitas tinggi&#39; bahwa Rusia berada di belakang insiden Salisbury, kami juga, dengan &#39;tingkat probabilitas yang tinggi&#39; menganggap bahwa badan-badan intelijen negara-negara tertentu berada di belakang provokasi besar ini,&quot; kata Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya dalam sebuah sidang Dewan Keamanan PBB. Dia menambahkan, kemungkinan besar kasus ini hanyalah &bdquo;rekayasa&quot; untuk melemahkan kekuasan Presiden Putin.</p><p>hp/rn (rtr, afp)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Pemilu | 13 Desember 2018 - 12:12 WIB

KPU akan gelar pertemuan dengan parpol bahas DPT hasil perbaikan II

Kriminalitas | 13 Desember 2018 - 12:04 WIB

BNN gagalkan penyelundupan 15 ribu pil ekstasi dari pasutri

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:53 WIB

Presiden berikan pengarahan pada Jambore Sumber Daya PKH

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:43 WIB

KSAU resmikan Sathar 65 di Lanud Iswahjudi

Manajemen | 13 Desember 2018 - 11:35 WIB

Waspadai investasi bodong dengan melihat ciri-cirinya

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:26 WIB

Sandiaga tanggapi soal isu HAM dalam visi misi

<p>Yulia Skripal, bersama ayahnya diracuni dengan agen syaraf Novichok di Saliybury, Inggris, bersama ayahnya, telah keluar dari rumah sakit hari Selasa (10/4) dan kini dibawa ke lokasi yang aman, demikian laporan media di Inggris.</p><p>Dokter mengatakan kesehatan Yulia, 33 tahun, dan ayahnya Sergei Skripal, 66 tahun, telah membaik dengan cepat selama beberapa minggu terakhir. Keduanya ditemukan dalam kondisi kritis 4 Maret di kota Salisbury, Inggris selatan, setelah diracuni dengan agen saraf yang tampaknya ditujukan pada ayahnya.</p><p>Pekan lalu, Yulia Skripal untuk pertama kalinya setelah serangan itu membuat pernyataan publik dan mengatakan, kekuatannya bertambah pulih setiap hari. Ayahnya masih tetap di rumah sakit.</p><h3>Belum ada bukti yang jelas</h3><p>Insiden serangan dengan senjata kimia beracun itu telah memicu ketegangan antara Inggris serta aliasinya dengan Rusia, yang dituduh Inggris melakukan serangan itu. Peristiwa itu kemudian berdampak pengusiran diplomat Rusia dari negara-negara Barat, yang dibalas oleh Rusia dengan langkah yang sama.</p><p>Inggris menyatakan bahwa kedua korban &bdquo;kemungkinan besar&quot; diserang dengan racun saraf &bdquo;bertaraf militer&quot; yang hanya mungkin diproduksi oleh sebuah negara. Inggris lalu menuduh Rusia, mengacu kepada kasus-kasus sebelumnya, di mana bekas agen rahasia Rusia yang lari ke Inggris kemudian terbunuh.</p><p>Kasus yang paling mendapat sorotan media adalah serangan terhadap Alexander Litvinenko tahun 2006, yang diracuni dengan Polonium-210. Litvinenko sempat dirawat di rumah sakit, namun meninggal tiga minggu kemudian. Polisi Inggris menuduh seorang warga Rusia, Andrey Lugovoy, berada di balik serangan itu dan menuntut ekstradisinya dari Rusia ke Inggris. Rusia menolak tuntutan itu dengan alasan hal itu bertentangan dengan konstitusinya.</p><h3>Perang dingin baru Barat dengan Rusia?</h3><p>Amerika Serikat dan Uni Eropa dan sejumlah negara pro Barat mendukung langkah Inggris, dan mengusir para diplomat Rusia. Lebioh dari 100 diplomat Rusia harus meninggalkan negara-negara itu. Moskow membalas langkah tersebut dengan mengusir diplomat barat.</p><p>Moskow hingga kini tetap membantah terlibat dalam serangan racun terhadap Sergei Skripal dan meminta Inggris menunjukkan bukti-bukti konkret. Rusia bahkan balik menuduh Inggris dan aliansi Barat yang melakukan serangan itu untuk mendiskreditkan Rusia.</p><p>&quot;Karena pemerintah Inggris berani menyatakan dengan &#39;tingkat probabilitas tinggi&#39; bahwa Rusia berada di belakang insiden Salisbury, kami juga, dengan &#39;tingkat probabilitas yang tinggi&#39; menganggap bahwa badan-badan intelijen negara-negara tertentu berada di belakang provokasi besar ini,&quot; kata Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya dalam sebuah sidang Dewan Keamanan PBB. Dia menambahkan, kemungkinan besar kasus ini hanyalah &bdquo;rekayasa&quot; untuk melemahkan kekuasan Presiden Putin.</p><p>hp/rn (rtr, afp)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

Senin, 10 Desember 2018 - 10:28 WIB

IHSG alami tekanan searah bursa Asia

Minggu, 09 Desember 2018 - 21:53 WIB

Kapolri: Separuh polisi belum punya rumah

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com