Kamis, 13 Desember 2018 | 12:07 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

AS Ancam Sanksi Keras Setelah Serangan Gas Beracun di Suriah

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
courtesy
courtesy
<p>Amerika Serikat dan negara-negara Barat menuduh rezim Suriah melancarkan serangan dengan senjata kimia di kota Douma. Serangan itu menurut aktivis Suriah menyebabkan sedikitnya 49 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, termasuk anak-anak.</p><p>"Kami memiliki banyak opsi militer dan kami akan membiarkan Anda tahu segera ...," kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan setelah sesi sidang khusus di Dewan Keamanan PBB membahas serangan itu hari Senin (9/10).</p><p>Uni Eropa dan negara-negara Barat di Dewan Keamanan PBB juga menuduh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang didukung oleh Rusia dan Iran, melakukan serangan dengan senjata terlarang.</p><h3>Rusia bantah penggunaan senjata kimia</h3><p>Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley dalam sidang DK PBB mengatakan, "Amerika Serikat akan menanggapi penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil di Suriah."</p><p>"Kami telah mencapai saat ketika dunia harus melihat keadilan dilaksanakan," kata Nikki Haley. "Sejarah akan mencatat ini sebagai saat di mana Dewan Keamanan melakukan tugasnya, atau menunjukkan kegagalan sepenuhnya untuk melindungi rakyat Suriah."</p><p>Namun Duta Besar Rusia di PBB Vassily Nebenzia membantah penggunaan senjata kimia di Douma. Die mengatakan, peneliti Rusia yang dikirim ke Douma selama akhir pekan tidak menemukan bukti bahwa ada agen gas saraf atau klorin digunakan dalam serangan itu.</p><p>Rusia menggambarkan tuduhan barat itu sebagai "berita palsu" dan menyatakan, hal itu hanya dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari kasus kacau di Inggris soal serangan senjata kimia terhadap mantan agen dinas rahasia Rusia, Sergei Skripal.</p><h3>Investigasi sedang berlangsung</h3><p>Organisasi Pelarangan Senjata Kimia OPCW mengatakan telah memulai proses penyelidikan atas dugaan serangan gas beracun di Suriah. OPCW menerangkan, mereka akan mengumpulkan informasi tentang insiden dengan mengirim misi pencari fakta.</p><p>Meskipun membantah adanya penggunaan senjata kimia dalam serangan hari Sabtu (7/4) di Douma, Rusia mengatakan siap untuk bekerja sama dengan OPCW. Vassily Nebenzia mengatakan, para penyelidik OPCW harus terbang ke Suriah hari Selasa (10/11) untuk menyelidiki serangan itu. Rusia menawarkan perlindungan kepada tim OPCW.</p><p>Sebuah rancangan resolusi yang disirkulasikan menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB hari Senin mengusulkan pembentukan badan baru untuk menyelidiki dugaan serangan senjata kimia. Namun negara-negara Barat menolak permintaan Rusia untuk memiliki hak veto atas temuan badan pemeriksa itu.</p><p>hp/as (afp, rtr, dpa)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 13 Desember 2018 - 12:04 WIB

BNN gagalkan penyelundupan 15 ribu pil ekstasi dari pasutri

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:53 WIB

Presiden berikan pengarahan pada Jambore Sumber Daya PKH

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:43 WIB

KSAU resmikan Sathar 65 di Lanud Iswahjudi

Manajemen | 13 Desember 2018 - 11:35 WIB

Waspadai investasi bodong dengan melihat ciri-cirinya

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:26 WIB

Sandiaga tanggapi soal isu HAM dalam visi misi

Hukum | 13 Desember 2018 - 11:15 WIB

KPK tuntut maksimal Bupati Cianjur agar jera

<p>Amerika Serikat dan negara-negara Barat menuduh rezim Suriah melancarkan serangan dengan senjata kimia di kota Douma. Serangan itu menurut aktivis Suriah menyebabkan sedikitnya 49 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, termasuk anak-anak.</p><p>"Kami memiliki banyak opsi militer dan kami akan membiarkan Anda tahu segera ...," kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan setelah sesi sidang khusus di Dewan Keamanan PBB membahas serangan itu hari Senin (9/10).</p><p>Uni Eropa dan negara-negara Barat di Dewan Keamanan PBB juga menuduh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang didukung oleh Rusia dan Iran, melakukan serangan dengan senjata terlarang.</p><h3>Rusia bantah penggunaan senjata kimia</h3><p>Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley dalam sidang DK PBB mengatakan, "Amerika Serikat akan menanggapi penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil di Suriah."</p><p>"Kami telah mencapai saat ketika dunia harus melihat keadilan dilaksanakan," kata Nikki Haley. "Sejarah akan mencatat ini sebagai saat di mana Dewan Keamanan melakukan tugasnya, atau menunjukkan kegagalan sepenuhnya untuk melindungi rakyat Suriah."</p><p>Namun Duta Besar Rusia di PBB Vassily Nebenzia membantah penggunaan senjata kimia di Douma. Die mengatakan, peneliti Rusia yang dikirim ke Douma selama akhir pekan tidak menemukan bukti bahwa ada agen gas saraf atau klorin digunakan dalam serangan itu.</p><p>Rusia menggambarkan tuduhan barat itu sebagai "berita palsu" dan menyatakan, hal itu hanya dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari kasus kacau di Inggris soal serangan senjata kimia terhadap mantan agen dinas rahasia Rusia, Sergei Skripal.</p><h3>Investigasi sedang berlangsung</h3><p>Organisasi Pelarangan Senjata Kimia OPCW mengatakan telah memulai proses penyelidikan atas dugaan serangan gas beracun di Suriah. OPCW menerangkan, mereka akan mengumpulkan informasi tentang insiden dengan mengirim misi pencari fakta.</p><p>Meskipun membantah adanya penggunaan senjata kimia dalam serangan hari Sabtu (7/4) di Douma, Rusia mengatakan siap untuk bekerja sama dengan OPCW. Vassily Nebenzia mengatakan, para penyelidik OPCW harus terbang ke Suriah hari Selasa (10/11) untuk menyelidiki serangan itu. Rusia menawarkan perlindungan kepada tim OPCW.</p><p>Sebuah rancangan resolusi yang disirkulasikan menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB hari Senin mengusulkan pembentukan badan baru untuk menyelidiki dugaan serangan senjata kimia. Namun negara-negara Barat menolak permintaan Rusia untuk memiliki hak veto atas temuan badan pemeriksa itu.</p><p>hp/as (afp, rtr, dpa)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

Senin, 10 Desember 2018 - 10:28 WIB

IHSG alami tekanan searah bursa Asia

Minggu, 09 Desember 2018 - 21:53 WIB

Kapolri: Separuh polisi belum punya rumah

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com