Sabtu, 21 April 2018

Skandal kerahasiaan informasi di medsos

Pejabat sementara CEO Cambridge Analytica mundur mendadak

Kamis, 12 April 2018 14:40

Sumber foto: https://tcrn.ch/2ILwWam Sumber foto: https://tcrn.ch/2ILwWam
Ayo berbagi!

Dalam sebuah siaran pers, perusahaan konsultan politik Cambridge Analytica mengumumkan mundurnya pelaksana tugas Chief Executive Officernya. Hal ini merupakan pergantian posisi CEO dalam waktu kurang dari dua bulan, setelah terkuaknya skandal penyalahgunaan informasi oleh perusahaan tersebut menggunakan data yang dihimpun dari platform media sosial terpopuler di dunia, Facebook.

Cambridge Analytica mengumumkan bahwa pejabat sementara Direktur Utama, Alexander Tayler akan mengosongkan posisi itu dan kembali ke peran lamanya sebagai Chief Data Officer di perusahaan yang sama. Sebelumnya di penghujung bulan Maret, Dirut yang lama, Alexander Nix dibebastugaskan, seperti dilaporkan oleh situs teknologi informasi Techcrunch, usai sebuah pemberitaan dari hasil investigasi jurnalistik oleh Channel 4 News dari Inggris terkait penyalahgunaan informasi dan praktek-praktek tidak etis dari konsultan politik tersebut.

Meski belum ada pengumuman resmi, namun berdasarkan laporan dari The Wall Street Journal, diperkirakan bahwa posisi Dirut yang ditinggalkan akan diisi oleh Julian Wheatland, yang merupakan pimpinan dari SCL Group, yang merupakan perusahaan terafiliasi dengan Cambridge Analytica.

Sementara pendiri dan Dirut Facebook, Mark Zuckerberg tengah menghadapi secara sukarela Komisi  Energi dan Persaingan Usaha dari Kongres AS. Di antara sejumlah kekhawatiran yang diangkat oleh para perwakilan legislatif yang duduk di komisi tersebut adalah jaminan kerahasiaan informasi pengguna Facebook, serta seberapa besar peran dari penyalahgunaan data Facebook dalam mempengaruhi pemilih jelang Pilpres 2016 yang berujung pada terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS ke 45. Diperkirakan lebih dari 87 akun Facebook terkena dampak dari penyalahgunaan informasi yang berhasil dihimpun oleh perusahaan konsultan Cambridge Analytica melalui pihak ketiga.

Indonesia sendiri adalah termasuk dalam sepuluh besar negara yang pemilik akunnya berpotensi terkena dampak dari skandal ini dengan 1.1 juta akun yang dilaporkan terkena imbasnya. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informati telah mengeluarkan sejumlah peringatan tertulis kepada Facebook untuk memberikan penjelasan yang memadai. Selain itu, Polri sebagai otoritas yang berwenang juga telah berencana memanggil Facebook untuk sejumlah klarifikasi.

Sebagian dari pemerintahan daerah tingkat I dan II akan memasuki pilkada dalam waktu dekat di tahun ini yang sangat diharapkan partisipasi masyarakat oleh Bawaslu. Sementara tahun 2019 merupakan ajang perhelatan pesta akbar demokrasi, yaitu Pilpres 2019. Menjadi kepentingan nasional untuk mengetahui sejauh apa kemungkinan-kemungkinan yang dapat saja disalahgunakan pihak ketiga untuk mempengaruhi hasil daripada pemilihan tersebut.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar