Sabtu, 15 Desember 2018 | 15:15 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Kurang tidur mungkin tingkatkan risiko Alzheimer

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: https://health.clevelandclinic.org/wp-content/uploads/sites/3/2013/01/iStock_000054327644_Small.jpg
Ilustrasi. Sumber Foto: https://health.clevelandclinic.org/wp-content/uploads/sites/3/2013/01/iStock_000054327644_Small.jpg
<p>Kurang tidur bisa meningkatkan risiko terkena penyakit Alzheimer. Sebuah penelitian yang melibatkan 20 orang yang kurang tidur menemukan bahwa kondisi itu meningkatkan protein beta-amyloid di salah satu bagian otak hingga lima persen.</p><p>Orang yang lumayan pikun memiliki 21 persen beta-amyloid lebih banyak di otak mereka dibandingkan lansia sehat lain, sementara penderita Alzheimer punya 43 persen lebih banyak.</p><p>Tidur bisa membersihkan beta-amyloid yang bisa menumpuk dan menghalangi jalan penting untuk daya ingat di otak seperti dilansir Daily Mail.&nbsp;Meski demikian belum jelas apakah dampak kurang tidur sehari berlangsung untuk jangka panjang atau hanya keesokan harinya.</p><p>Ketua penelitian, Dr Ehsan Shokri-Kojori, dari National Institutes of Health in Maryland, mengatakan: “Meningkatnya beta-amyloid di otak orang yang kurang tidur sepertinya merupakan proses yang merugikan. Prediksi yang memungkinkan berdasarkan hasil ini adalah kebiasaan tidur buruk menciptakan risiko penyakit Alzheimer. “</p><p>Para peneliti mengamati efek kurang tidur para 20 orang bertubuh sehat berusia antara 22 dan 72 selama dua malam. Ada yang diperbolehkan tidur mulai pukul 10 malam hingga 7 pagi, sisanya begadang.&nbsp;Otak mereka kemudian dipindai untuk menunjukkan peningkatan beta-amyloid secara signifikan di dua bagian otak yang rentan terdampak pada pasien Alzheimer.</p><p>Hippocampus berperan penting untuk daya ingat, sementara thalamus berperan sebagai pusat penyampaian untuk sinyal saraf motor dan sensori. Setelah begadang, kelompok yang kurang tidur memiliki beta-amyloid lima persen lebih banyak, seperti dimuat di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.&nbsp;Peneliti percaya tidur sepertinya punya peran penting dalam sistem “pembuangan sampah” alami yang membersihkan bahan yang mengancam tubuh, termasuk membuang amyloid-beta dari otak. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Politik | 15 Desember 2018 - 15:09 WIB

SBY geram bendera Partai Demokrat dirobek dan dibuang

Aktual Pemilu | 15 Desember 2018 - 14:56 WIB

Lumajang lumbung suara Hanura Jatim 2019

Megapolitan | 15 Desember 2018 - 14:37 WIB

Satgas Saber Pungli temukan dugaan pungli di BUMN

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 14:25 WIB

Menhan RI berkunjung ke Pekalongan

Sosbud | 15 Desember 2018 - 14:14 WIB

Ribuan santri di Kudus ikuti jalan sehat

<p>Kurang tidur bisa meningkatkan risiko terkena penyakit Alzheimer. Sebuah penelitian yang melibatkan 20 orang yang kurang tidur menemukan bahwa kondisi itu meningkatkan protein beta-amyloid di salah satu bagian otak hingga lima persen.</p><p>Orang yang lumayan pikun memiliki 21 persen beta-amyloid lebih banyak di otak mereka dibandingkan lansia sehat lain, sementara penderita Alzheimer punya 43 persen lebih banyak.</p><p>Tidur bisa membersihkan beta-amyloid yang bisa menumpuk dan menghalangi jalan penting untuk daya ingat di otak seperti dilansir Daily Mail.&nbsp;Meski demikian belum jelas apakah dampak kurang tidur sehari berlangsung untuk jangka panjang atau hanya keesokan harinya.</p><p>Ketua penelitian, Dr Ehsan Shokri-Kojori, dari National Institutes of Health in Maryland, mengatakan: “Meningkatnya beta-amyloid di otak orang yang kurang tidur sepertinya merupakan proses yang merugikan. Prediksi yang memungkinkan berdasarkan hasil ini adalah kebiasaan tidur buruk menciptakan risiko penyakit Alzheimer. “</p><p>Para peneliti mengamati efek kurang tidur para 20 orang bertubuh sehat berusia antara 22 dan 72 selama dua malam. Ada yang diperbolehkan tidur mulai pukul 10 malam hingga 7 pagi, sisanya begadang.&nbsp;Otak mereka kemudian dipindai untuk menunjukkan peningkatan beta-amyloid secara signifikan di dua bagian otak yang rentan terdampak pada pasien Alzheimer.</p><p>Hippocampus berperan penting untuk daya ingat, sementara thalamus berperan sebagai pusat penyampaian untuk sinyal saraf motor dan sensori. Setelah begadang, kelompok yang kurang tidur memiliki beta-amyloid lima persen lebih banyak, seperti dimuat di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.&nbsp;Peneliti percaya tidur sepertinya punya peran penting dalam sistem “pembuangan sampah” alami yang membersihkan bahan yang mengancam tubuh, termasuk membuang amyloid-beta dari otak. (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com