Rabu, 26 September 2018 | 22:42 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames kuping kanan paragames
emajels

/

Benarkah berita palsu pengaruhi Pilpres AS 2016?

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Presiden AS Donald Trump. Sumber foto: https://bit.ly/2EHPmGv
Presiden AS Donald Trump. Sumber foto: https://bit.ly/2EHPmGv
<p>Studi dari Ohio State University mengemukakan berita palsu mungkin saja berperan dalam memenangkan Donald Trump pada Pemilu Presiden Amerika Serikat 2016 lalu.</p><p>Studi ini memang belum dikaji ulang oleh peneliti lain, namun, memberi gambaran bagaimana berita palsu mempengaruhi pilihan, dalam kasus ini sekitar 4 persen pendukung Barrack Obama pada 2012 termakan berita palsu sehingga tidak jadi memilih Hillary Clinton pada 2016, demikian siaran berita dari The Washington Post.</p><p>Tiga penulis studi tersebut, Richard Gunther, Paul A. Beck dan Erik C. Nisbet memuat tiga berita palsu populer yang beredar pada kampanye 2016 lalu untuk survei YouGov kepada 585 pendukung Obama. 23 persen dari orang-orang yang menjadi sampel itu tidak memilih Clinton, mereka memilih golongan putih atau memberikan suara ke kandidat lain (10 persen memilih Trump).</p><p>Ketiga berita palsu yang dipilih adalah Clinton menderita sakit parah (12 persen), Paus Fransiskus mendukung Trump (8 persen) dan Clinton mendukung penjualan senjata untuk kelompok jihadis termasuk ISIS (20 persen).</p><p>Seperempat dari para responden mempercayai paling sedikit satu dari berita tersebut, 45 persen dari mereka memilih Clinton. Sementara bagi orang yang tidak percaya ketiga berita palsu tersebut, 89 persen memilih Clinton.</p><p>Penelitian ini juga mempertimbangkan faktor lain seperti gender, ras, usia, pendidikan, pandangan politik, serta pandangan personal tentang Trump dan Clinton dengan metode multiple regression analysis, mengukur dampak relatif dari berbagai variable independen.</p><p>Jika digabungkan, semua faktor tersebut memberi penjelasan mengapa 38 persen pendukung Obama membelot dari mendukung Clinton. Sementara mempercayai berita palsu menambah 11 persen.</p><p>Bagi mereka yang tidak berbelok dari Clinton, mempercayai berita palsu berdampak lebih besar, para pendukung Obama yang percaya salah satu dari berita tersebut “3,9 kali cenderung membelot dari Demokrat pada 2016 dari pada mereka yang tidak percaya berita palsu sama sekali, setelah dinilai dari semua faktor”.</p><p>“Kami tidak bisa membuktikan percaya berita palsu menyebabkan mantan pemilih Obama membelot dari kandidat Demokrat pada 2016. Tapi, data ini secara kuat menunjukkan paparan berita palsu memiliki dampak signifikan terhadap keputusan memilih,” kata mereka.</p><p>Studi lain yang dipimpin oleh universitas Princeton mengenai konsumsi berita bohong selama kampanye 2016 juga menunjukkan artikel palsu mengisi 2,6 persen pemberitaan selama masa tersebut, kebanyakan menjangkau partisan yang mungkin tidak mudah terbujuk. (Ant) </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 26 September 2018 - 21:55 WIB

Prabowo-Sandiaga bisa hadirkan pemerintahan yang kuat

Pembangunan | 26 September 2018 - 21:43 WIB

Persoalan kemiskinan dan kekeringan harus jadi fokus kerja Emil-UU

Aktual Dalam Negeri | 26 September 2018 - 21:38 WIB

Komunitas haji nilai Ma`ruf Amin mampu redam benih radikalisme

Asian Games 2018 | 26 September 2018 - 21:24 WIB

Indonesia bisa dikenang sebagai negara ramah disabilitas

Ekonomi | 26 September 2018 - 21:12 WIB

Dubes Donovan pastikan Freeport tambah investasi Rp298 triliun

Ekonomi | 26 September 2018 - 20:57 WIB

KAI siap buka rute kereta Garut-Jakarta

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com