Sabtu, 21 Juli 2018 | 03:05 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

/

Menjawab sejumlah tantangan ekonomi kreatif Indonesia

Wawancara Kepala Badan Ekonomi Kreatif

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mario Vau    |    Editor : Administrator
Sumber foto: Elshinta.com
Sumber foto: Elshinta.com
<p>Ekonomi kreatif merupakan salah satu sumber ekonomi yang dapat menghadapi arus globalisasi dan bahkan bersaing apabila dikelola dengan tepat. Pada hari Jumat (13/04) Elshinta Media Group berkesempatan untuk mewawancarai Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf bertempat di kantornya di bilangan Medan Merdeka Selatan.</p><p><br></p><p>Salah satu penggalan wawancara yang lengkapnya dapat disimak di siaran jaringan Radio Elshinta adalah terkait kesiapan Indonesia dalam melaksanakan Industri 4.0. Seperti diketahui Industri 4.0 adalah perkembangan daripada revolusi industri tahap keempat yang menitikberatkan pada tren otomatisasi sistem fisik secara siber, <i>Internet of Things</i> (IoT) dan komputasi awan / cloud computing.</p><p><br></p><p>Menanggapi tantangan pada implentasi itu di Indonesia, Kepala Bekraf melihat ketersediaan sumber daya manusia yang memadai baik dalam jumlah dan kualitas sebagai salah satu tantangannya. Untuk itu adanya keterbukaan untuk kerjasama pendidikan dengan lembaga akademis dari luar negeri juga dapat membantu menjembatani hal tersebut karena adanya biaya yang cukup besar apabila harus menimba ilmu di luar negeri dengan biaya sendiri.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Seperti anda ketahui, untuk dapat sekolah di luar negeri jika tanpa beasiswa bisa memakan biaya antara 2-3 milyar rupiah," ungkap Triawan kepada Tengku Mazira dari Radio Elshinta.&nbsp;</p><p><br></p><p>Keberadaan kerjasama-kerjasama dengan universitas di luar negeri untuk memperoleh sebagian dari pendidikan di sini tentunya dapat memperbanyak adanya tenaga yang handal.&nbsp;</p><p>Inisiatif dari Pemerintah juga terus dilakukan di berbagai bidang; salah satunya yang masuk industri kreatif yaitu perfilman. Dengan menghapus industri produksi dan distribusi serta penayangan film dari Daftar Negatif Investasi, memungkinkan pemodal asing untuk ambil bagian dalam sektor tersebut, yang pada akhirnya dapat memicu gairah di industri perfilman nasional.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Selama ini, dilarang - sebelum dicabut - untuk investasi dari luar negeri. Satu persen pun tidak boleh selama puluhan tahun dibatasi. Tapi akhirnya atas usul kami dan disetujui oleh Presiden dan semua pihak, dan dikeluarkan dari daftar negatif investasi. Sekarang asing pun boleh masuk di bidang production, distribution dan di bioskop," jelasnya.</p><p><br></p><p>Pelaku ekonomi kreatif juga ditantang untuk dapat partisipasi secara aktif dan inovatif dalam pameran terutama yang di luar negeri. Triawan berbagi pengalaman yang dialami oleh Presiden Jokowi sendiri ketika masih sebagai warga negara yang merupakan seorang entrepreneur. Kala itu banyak kehadiran kementerian di ajang internasional yang belum maksimal.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Pengalaman dan keluhan Pak Jokowi dan sering dialami beliau, dulu itu ketika melihat ada kementerian atau lembaga dari Indonesia ikut pameran di luar negeri itu seadanya. Kadang itu boothnya dekat WC, dan itu dialami beliau karena beliau di bidang furniture.&nbsp;Sejak 2016, 2017 hingga sekarang 2018 kami mengikuti pameran-pameran yang besar dengan cara yang sangat representatif," kata Triawan.</p><p><br></p><p>Dengan segala tantangan yang ada ternyata, posisi ekonomi kreatif itu sebagai kontributor pada perekonomian nasional di Indonesia itu cukup besar porsinya, di mana pada tahun 2017 saja sudah merupakan 7.44 persen dari produk domestik bruto Indonesia.&nbsp;Sebagai perbandingan, Triawan menjelaskan bahwa kontribusi tersebut termasuk dalam tiga besar dunia. Adalah Amerika Serikat yang ekonomi kreatifnya berkontribusi 11 persen pada ekonomi nasionalnya, kemudian disusul oleh Korsel dengan 8 persen, lalu diikuti oleh Indonesia dengan angka 7.44 persen itu.&nbsp;</p><p>Kepada generasi muda khususnya, yang merupakan potensi-potensi pelaku ekonomi kreatif yang handal di masa depan, Kepala Bekraf berpesan dua hal.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Pertama, gunakan produk dalam negeri. Karena dengan kita percaya produk kita sendiri, semakin lama akan semakin baik. Jangan khawatir akan kualitasnya, supaya kita bisa membendung impor dengan tidak melarang [produk asing].&nbsp; Kan ini adalah <i>choice</i> (red. pilihan), orang tidak bisa dilarang," kata Triawan.&nbsp;</p><p><br></p><p>Kemudian Kepala Bekraf memberikan contoh ponsel Korea yang awalnya produk jelek namun lama-lama bisa merajai dunia, begitu pula dengan otomotifnya.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Kalau kita tidak punya nasionalisme seperti itu, membantu produk sendiri yang lebih baik, ya dibeli dong. Akhirnya kita bisa membentengi dari impor."</p><p><br></p><p>Pesan kedua dari Triawan adalah untuk tidak serta-merta mengandalkan pada komoditas saja, oleh karena faktor-faktor seperti fluktuasi harga, serta minimnya nilai tambah yang ada.&nbsp;</p><p><br></p><p>Pada kesempatan yang sama, rombongan Elshinta Media Group juga berkesempatan memperkenalkan aplikasi jurnalisme karya anak bangsa, Infodarianda dengan situsnya <a href="http://www.infodarianda.com" rel="nofollow">www.infodarianda.com</a>. Sebuah akun resmi juga rencananya diserahkan kepada Bekraf untuk memuat sejumlah informasi penting terkait perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Sukses untuk industri kreatif Indonesia!&nbsp;</p><p><br></p><p><br></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pileg 2019 | 20 Juli 2018 - 21:30 WIB

PKB: Menteri jadi caleg tidak ganggu kinerja kementerian

Sosbud | 20 Juli 2018 - 21:19 WIB

KPPPA: Anak cermin keberhasilan-kegagalan orang tua

Aktual Dalam Negeri | 20 Juli 2018 - 21:07 WIB

Kemenhub targetkan aturan angkutan online berlaku September

Pembangunan | 20 Juli 2018 - 20:44 WIB

Angkasa Pura tegaskan Terminal 4 Soetta bukan untuk LCC

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com