Jumat, 20 April 2018

Serangan Suriah: Kelompok pro jihadis di Indonesia 'berterima kasih' pada serangan AS

Sabtu, 14 April 2018 13:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Serangan sekutu AS ke Suriah tidak berdampak langsung pada Indonesia namun bagi kelompok pro jihadis di Indonesia, serangan Barat yang biasanya dianggap musuh, justru 'sejalan' dengan dengan tujuan mereka.

Hal itu dikatakan pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman.

Ia menyatakan, serangan gabungan militer AS, Inggris dan Prancis ke lokasi-lokasi senjata kimia Suriah itu sangat disesalkan karena "tidak seizin Dewan Keamanan PBB".

"Dalihnya juga bukan sesuatu yang sudah teruji, baik (Presiden AS Donald) Trump maupun (PM Inggris) Theresa May menyebut alasan penyerangan itu karena serangan kimia di Douma," kata Dina.

"Tapi belum ada penyelidikan langsung dari PBB apakah betul militer Suriah yang melakukannya karena ada beberapa kejanggalan dari informasi yang beredar", tambah Dina, yang pernah tinggal di Iran itu.

Dampak ke Indonesia

Biasanya, serangan barat terhadap negara berpenduduk Islam, memancing kemarahan dan kecaman di negara-negara seperti Indonesia, diikuti berbagai aksi demonstrasi. Namun kali ini situasinya lain, kata Dina. Ia menyebut, serangan ini justru disambut baik oleh pendukung kelompok-kelompok pro jihadis Suriah yang ada di Indonesia, baik yang mendukung ISIS maupun Al Qaida.

"Biasanya kelompok Islamis itu menyatakan anti Amerika namun sekarang mereka melihat kenyataannya justru Amerika yang melakukan serangan. Tapi mereka tentu tidak mungkin berterima kasih terang-terangan kepada Amerika," papar Dina.

Selain itu, kontradiksi ini akan menjadi "perdebatan narasi terutama di sosial media menjadi pukulan buat mereka (kelompok pro Jihadis)."

"Kubu anti perang akan bilang 'itu buktinya kalian kerjasama dong dengan Amerika karena Amerika yang melakukan serangan langsung ke Suriah'," kata Dina.

"Tidak akan menjadi perang besar"

Serangan ini berperan sebagai peringatan atau hukuman ke pemerintah Suriah yang sudah berulang kali dituduh melakukan serangan dengan senjata kimia, namun menurut Dina Sulaeman, perang ini tidak berpotensi menjadi perang besar.

"Kalau saya lihat dari tanggapan Rusia, (saya) tidak memprediksi kalau terjadi perang besar-besaran karena Rusia masih cool. Kita lihat selama serangan sejak tadi malam tidak ada reaksi keras yang ditunjukkan okleh Rusia. Kemungkinan Rusia masih memilih untuk berada di balik layar," ujar Dina.

"S-400 yang selama ini digembor-gemborkan juga belum kelihatan dipakai."

"Rusia tentu berhitung juga kalau perang besar-besaran, bagaimana dengan logistik yang dia miliki."

"Amerika pun kalau harus perang besar-besaran saya pikir terlalu banyak yang harus dikorbankan juga. Jadi mungkin ini akan jadi serangan terbatas saja."

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar