Jumat, 20 April 2018

Perang Suriah: Dilaksanakan sempurna, kata Presiden Trump

Minggu, 15 April 2018 00:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memuji serangan udara atas Suriah sebagai 'dilaksanakan sempurna' dengan menambahkan 'misi tercapai'.

Dalam pesan Twitter Sabtu (14/04) pagi waktu Washington, dia juga mengucapkan terimakasih kepada Inggris dan Prancis karena 'kearifan mereka dan kekuatan militer yang baik'.

Serangan udara Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis disebutkan sebagai tanggapan atas serangan senjata kimia oleh pemerintah Suriah terhadap warga sipil di Douma, pekan lalu.

Trump, lewat cuitan bangun tidurnya, juga menambahkan rasa bangga atas kekuatan militer Amerika Serikat, yang menurutnya, "akan menjadi, setelah anggaran miliaran dolar yang sudah disetujui, terbaik yang pernah dimiliki Negara."

https://twitter.com/realDonaldTrump/status/985130802668294144

Sebelumnya, Departemen Pertahanan Amerikat Serikat menyebut ada tiga sasaran dari serangan udara Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

  • Sarana pusat penelidian di Damaskus, yang diduga berkaitan dengan produksi senjata kimia dan biologi.
  • Gedung penyimpanan senjata kimia di sebelah barat Homs
  • Gedung penyimpanan peralatan senjata kimia dan pos komando yang penting, juga dekat Homs

Di Suriah, Presiden Bashar al-Assad, mengatakan bahwa serangan rudal atas negaranya oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis membuat dia semakin lebih bertekad untuk memerangi terorisme.

Assad juga menuduh Barat kehilangan kredibilitas.

Sementara itu Iran -sekutu utama Presiden Assad- mengutuk serangan dengan pemimpin agung Ayatulah Ali Khamenei menyebut para pemimpin Barat sebagai 'penjahat'.

Dan Dewan Keamanan PBB langsung menggelar sidang darurat di New York, (Sabtu 14/04), atas permintaan Rusia. Saat membuka sidang, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, meminta semua anggota Dewan Keamanan PBB agar mengendalikan diri dan menghindari eskalasi di Suriah.

Rusia tuding serangan sebagai 'agresi'

Rusia -yang juga merupakan pendukung utama Suriah lainnya- lebih dulu mengecam serangan rudal tiga negara barat terhadap Suriah, dan memperingatkan bahwa "tindakan semacam itu tak akan dibiarkan begitu saja."

Presiden Rusia Vladimir Putin mengutuk "sekeras-kerasnya" serangan itu dan meminta sidang darurat Dewan Keamanan PBB.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di TV Rusia, Putin mengatakan, menyerang Suriah adalah 'tindakan agresi.'

Dia mengatakan tuduhan serangan senjata kimia yang diduga di kota Douma pekan lalu dibuat-buat dan digunakan sebagai dalih untuk serangan itu.

Sebelum Presiden Rusia melontarkan kecaman melalui twitter kedutaan mereka di AS. Duta Besar Rusia di Amerika, Anatoly Antonov, dalam cuitannya menyatakan "Lagi: kami diancam. Kami peringatkan bahwa tindakan semacam itu tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa konsekuensi," katanya.

"Seluruh tanggung jawab akan dipikul oleh Washington, London dan Paris," tegasnya.

"Penghinaan terhadap Presiden Rusia tak dapat dibenarkan dan tak dapat diterima. Amerika Serikat, pemilik persenjataan kimia terbesar di dunia, tak punya landasan moral untuk menuding negara lain," tambah Antonov dalam cuitan itu.

https://twitter.com/RusEmbUSA/status/984980480234868736

Israel telah pula mengeluarkan pernyataan tentang serangan udara di Suriah:

"Tahun lalu, Presiden Trump menekankan bahwa penggunaan senjata kimia merupakan hal yang melintasi garis merah. Malam ini, di bawah kepemimpinan Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris menegaskan garis itu."

"Suriah terus melakukan dan membiarkan terjadinya tindakan pembunuhan, antara lain oleh Iran, yang membuat wilayah, pasukan dan kepemimpinan negara itu jadi rentan terhadap risiko," kata Israel pula.

Televisi Pemerintah Suriah menyatakan, sistem pertahanan rudal Suriah menembak jatuh sejumlah rudal AS. Sementara Menteri Pertahanan AS, James Matis mengatakan kepada wartawan bahwa sejauh ini tak ada laporan tentang kerugian di pihak AS.

Ia mengatakan, sejauh ini serangan mereka dilancarkan sebagai serangan 'sekali itu saja,' namun akan melihat perkembangannya.

Sasaran persenjataan kimia

Donald Trump mengatakan serangan itu dilancarkan terhadap lokasi-lokasi senjata kimia Suriah, bersama dengan Inggris dan Prancis sebagai balasan terhadap serangan kimia di Douma pekan lalu, yang menurutnya dilakukan pemerintah Suriah.

Berbagai ledakan dilaporkan terjadi dekat ibukota Suriah, Damaskus.

https://twitter.com/Dalatrm/status/984968585859739648?ref_src=twsrc%5Etfw&ref_url=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Fnews%2Fworld-middle-east-43762251&tfw_creator=BBCWorld&tfw_site=BBCWorld

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengukuhkan keterlibatan Inggris. Dikatakannya "tidak ada alternatif praktis selain penggunaan kekuatan (militer)".

Namun dia juga mengatakan serangan itu dilancarkan bukan dengan maksud melakukan "perubahan rezim".

Presiden Trump mengatakan serangan itu diarahkan "pada sasaran-sasaran yang terkait dengan kemampuan senjata kimia pemerintah Suriah."

Presiden AS menambahkan tujuan serangan adalah "untuk membangun pencegahan yang kuat terhadap produksi, penyebaran dan penggunaan senjata kimia" pemerintah Suriah.

Dugaan serangan kimia di Douma -yang menurutnya dilancarkan pasukan Presiden Bashar al-Assad- dia menyebut sebagai " bukan tindakan yang dilakukan seorang lelaki, melainkan kejahatan yang dilakukan oleh monster," katanya.

Suriah membantah tuduhan melakukan serangan kimia. Dan sekutu mereka, Rusia, memperingatkan bahwa serangan militer Barat akan berisiko meletuskan perang.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada kantor berita Reuters, bahwa rudal-rudal jelajah Tomahawk digunakan dalam serangan itu.

Reuters juga mengutip seorang saksi mata di Damaskus yang mengatakan bahwa, "setidaknya terdengar enam ledakan keras" di ibukota Suriah itu.

Syrian Observatory for Human Rights, sebuah lembaga pemantau HAM Suriah yang bermarkas di Inggris mengatakan, serangan-serangan menghantam Fasilitas Riset Ilmiah Suriah dan sejumlah fasiitas lain di Damaskus.

Trump juga secara khusus menunjuk Rusia dan Iran, dua negara sekutu Suriah.

"Rusia harus memutuskan sendiri apakah akan terus menempuh jalan gelap itu atau bergabung dengan negaraa-negara yang beradab sebagai kekuatan untuk stabilitas dan perdamaian. Semoga suatu waktu kita akan berjalan seiring bersama Rusia, dan bahkan mungkin Iran, tetapi mungkin tidak." Kata Donald Trump.

"Negara macam apa yang ingin dikaitkan dengan pembunuhan masal terhadap orang-orang -lelaki, perempuan, anak-anak, taka bersalah?"

"Negara-negara di dunia bisa dinilai dari sahabat yang mereka pilih. Tak ada negara yang bisa berhasil dalam jangka panjang, dengan mempromosikan negara yang jahat, tiran yang brutal, dan diktator pembunuh," kata Trump.

Ia menyatakan serangan-serangan rudal ini akan terus berlangsung sepanjang Suriah masih memiiki kemampuan serangan kimia.

"Kami siap untuk melanjutkan (serangan) ini sampai rezim Suriah berhenti menggunakan zat-zat kimia terlarang," kata Trump.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar