Wakil pimpinan Korean Air diberhentikan karena insiden 'menyiram air'
Senin, 00 0000 - 00:00 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder | Editor : Administrator
BBC Indonesia
<p>Maskapai Korean Air telah memberhentikan sementara salah-seorang pimpinannya karena diduga menyiram air pimpinan perusahaan iklan, kata polisi. </p><p>Wakil Presiden Korea Airlines, Cho Hyun-min, adalah adik kandung salah-seorang pimpinan perusahaan penerbangan itu yang tengah menjalani hukuman penjara karena 'insiden kacang'.</p><p>&quot;Korean Air telah memberhentikan sementara Cho Hyun-min dari pekerjaannya sejak 16 April hingga menunggu hasil penyelidikan kepolisian,&quot; demikian keterangan resmi maskapai penerbangan itu, seperti dilaporkan Kantor berita Reuters.</p> <ul> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/12/141216_investigasi_kacang_korsel">Mantan eksekutif Korean Air diselidiki</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/12/141212_koreaair_heathercho_mintamaaf">Karena kacang mantan eksekutif Korean Air minta maaf</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/12/141209_majalah_lain_korean_air">Heather Cho mundur karena 'insiden kacang'</a></li> </ul><p>Cho, yang dikenal dengan panggilan akrab Emily Cho, telah meminta maaf pada Minggu lalu atas &quot;kebiasaan bodoh&quot; yang dilakukannya itu.</p><p>Tindakan menyiram air ke wajah seseorang di Korea Selatan dapat dianggap sebagai penyerangan fisik. Dua tahun lalu, seorang ibu rumah tangga didenda US$650 atau Rp8,9 juta karena menyiram air ke wajah seorang makelar perumahan saat negosiasi. </p><p>Dilaporkan, Cho melakukan tindakan itu karena tidak menyukai sikap pimpinan perusahaan iklan tersebut. </p><h3>Serikat buruh menuntut Cho mundur</h3><p>Sebelumnya, Cho telah menghadapi tekanan dari serikat buruh maskapai penerbangan itu agar mundur dari jabatannya setelah media massa melaporkan insiden tersebut.</p><p>Asosiasi karyawan dan pilot maskapai itu mengatakan, tindakan Cho itu telah merusak reputasi perusahaan, sehingga mereka menuntut agar dia dipecat dan meminta maaf. </p><p>Sebuah petisi terkait insiden ini juga telah dilayangkan dan terus mendapat dukungan dari masyarakat Korea, seperti dilaporkan Kantor berita AFP. </p><p>Intinya, petisi itu menuntut agar Cho dipecat dan maskapai itu diminta menanggalkan kata &quot;Korea&quot; dari nama perusahaannya. </p><p>Dalam keterangan resminya, Korea Airlines mengatakan, Cho tidak menyiramkan air dari dalam botol ke muka seseorang, tetapi menyiramkannya ke lantai. Dan menurutnya, kejadiannya bukan saat pertemuan resmi.</p><p>Cho, dalam wawancara dengan stasiun TV MBC, membantah tuduhan bahwa dirinya menyiramkan air dari gelas kepada seseorang, tetapi hanya menumpahkannya ke lantai.</p><p>Namun demikian, dia mengaku perbuatannya itu &quot;bodoh&quot;. </p><h3>Insiden kacang</h3><p>Pada 2014 lalu, kakak kandung Cho, yaitu Cho Hyun-ah, menjadi sorotan media setelah dia meminta seorang pramugari Korea Airlines di kabin kelas utama diturunkan dari pesawat karena tidak menyuguhkan kacang di atas piring. </p><p>Akibatnya, keberangkatan pesawat dari New York ke bandara Incheon, Korea Selatan, tertunda sekitar 20 menit.</p><p>Keduanya, Cho Hyun-min dan Cho Hyun-ah, merupakan anak kandung pemilik Korea Airlines, Cho Yang-ho.</p><p>Dalam insiden kacang, Cho Hyun-ah diadili dan dihukum penjara selama setahun, tetapi kemudian dibebaskan setelah sempat menjalani hukuman selama lima bulan. </p><p>Dia kemudian ditunjuk menjadi pimpinan hotel milik maskapai penerbangan itu pada Maret lalu.</p><p>Bagaimanapun, insiden baru yang melibatkan keluarga konglomerat - yang disebut chaebol di Korea Selatan - sudah menjadi keprihatinan umum di negara itu.</p><p>Kebiasaan buruk itu dipertontonkan oleh keluarga orang-orang kaya dan berkuasa, terutama oleh generasi kedua dan ketiga, para pendiri perusahaan-perusahaan besar. </p><p>&quot;Para pendiri konglomerasi itu diselubungi mitos. Mereka memiliki legitimasi, karena membangun perusahaannya dari nol,&quot; kata Chang Sea-jin, pengamat ekonomi di Institut Sains dan Teknologi kepada Kantor berita Reuters. </p><p>&quot;Tetapi, pimpinan generasi kedua dan ketiganya tidak lagi memiliki legitimasi. Mereka mudah tumbuh dan berkembang dengan asupan 'sendok emas' di mulut mereka,&quot; katanya.</p>
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Senin, 23 April 2018 - 06:04 WIB
Tiongkok telah menerima informasi mengenai kunjungan Menteri Keuangan AS Steven Terner Mnuchin ke Ti...
Minggu, 22 April 2018 - 10:04 WIB
Kantor Juru Bicara Pemerintah Daerah Administrasi Khusus Makau kemarin (21/4) menyatakan, pihaknya d...
Minggu, 22 April 2018 - 09:04 WIB
Kelompok paduan suara "The Resonanz Children`s Choir" (TRCC) pimpinan Avip Priatna dinobat...
Minggu, 22 April 2018 - 02:04 WIB
<p>Pasukan keamanan Arab Saudi mengatakan menembak jatuh pesawat nirawak mainan di ibukota Riy...
Minggu, 22 April 2018 - 02:04 WIB
<p>Puluhan ribu orang Hungaria berunjuk rasa pada Sabtu (21/4) menentang kendali pemerintah at...
Minggu, 22 April 2018 - 01:04 WIB
<p>Sedotan plastik, pengaduk minuman, dan cotton buds akan segera dilarang di Inggris sebagai ...
Sabtu, 21 April 2018 - 11:04 WIB
<p>Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying hari Jumat kemarin (20/4) dalam jumpa p...
Sabtu, 21 April 2018 - 11:04 WIB
<p>Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying hari Jumat kemarin (20/4) di Beijing me...
Sabtu, 21 April 2018 - 10:04 WIB
<p>Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying hari Jumat kemarin (20/4) di dep...
Sabtu, 21 April 2018 - 10:04 WIB
<p>XINHUA: Jurubicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lu Kang hari ini (21/4) menanggapi peng...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)