Jumat, 20 April 2018

Krisis Suriah: Para inspektur senjata kimia diizinkan masuk Douma

Selasa, 17 April 2018 10:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Inspektur senjata kimia di Suriah akan diizinkan mengunjungi tempat terjadinya dugaan serangan kimia, Rabu (17/4) besok, kata Rusia.

Tim internasional itu sudah berada di Suriah sejak Sabtu, tetapi belum diizinkan mengunjungi Douma.

Dugaan serangan kimia pada 7 April lalu memicu serangan militer oleh AS, Inggris, dan Prancis terhadap berbagai sasaran pemerintah Suriah, seminggu kemudian.

Suriah dan sekutunya, Rusia, menyangkal terjadinya serangan kimia apa pun dan Rusia menyebutnya sebagai "peristiwa yang dibuat-buat".

Pada Selasa pagi, media pemerintah Suriah mengatakan sistem pertahanan udara mereka menanggapi sebuah serangan rudal terhadap kota Homs.

Rudal itu menyasar pangkalan udara Shayrat, tetapi tidak disebutkan siapa yang menembakkan rudal.

Laporan lain dari milisi Hizbullah pro-Iran, menyebut bahwa sistem pertahanan udara Suriah telah mencegat tiga rudal yang menyasar bandara militer Dumai, timur laut ibu kota Damaskus.

Namun seorang juru bicara Pentagon mengatakan kepada kantor berita Reuters, "Tidak ada kegiatan militer AS di daerah itu pada saat ini."

Apa yang terjadi di Suriah?

Pada Sabtu dini hari waktu Suriah, militer AS, Inggris, dan Prancis meluncurkan serangan rudal terkoordinasi ke arah sejumlah sasaran pemerintah Suriah.

Operasi itu disebut sebagai tanggapan terhadap serangan senjata kimia yang menurut ketiga negara, dilakukan oleh pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad terhadap warga sipil dan membunuh puluhan orang.

Para penyelidik dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) sudah berada di ibu kota, Damaskus tetapi masih menunggu untuk memulai tugas mereka.

Ketika mereka tiba di lokasi pada hari Rabu besok, itu akan berarti 11 hari sejak serangan itu. Mereka diharapkan mengumpulkan tanah dan sampel lain untuk membantu mengidentifikasi zat -jika ada- yang digunakan dalam serangan.

Namun seorang utusan AS untuk OPCW menyatakan dugaan bahwa Rusia telah mengunjungi situs tersebut dan "mungkin telah merusak" bukti-bukti untuk menghambat penyelidikan.

Tapi dalam sebuah wawancara untuk Hardtalk BBC, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, "Saya dapat menjamin bahwa Rusia tidak menyentuh situs tersebut."

Dia mengatakan bukti yang disebut diperoleh AS, Inggris, dan Perancis itu hanya "berdasarkan laporan media dan media sosial" dan bahwa bukti-bukti itu mrupakan hal 'yang dibuat'buat."

Lavrov dan sejumlah negara lain juga mengkritik ketiga negara itu yang melancarkan serangan sebelum tim OPCW dapat melakukan penyelidikan mereka.

Apa yang dikatakan terjadi dalam serangan Douma?

Ketika dugaan serangan kimia terjadi pada 7 April, Douma adalah benteng pemberontak terakhir yang terletak di dekat ibu kota Damaskus. Kota di kawasan Ghouta Timur itu sudah berbulan-bulan dikepung dan diserang pemerintah.

Sekarang wilayah itu sudah dikuasai pemerintah Suriah dan militer Rusia.

Dua bom yang berisi dengan bahan kimia dilaporkan dijatuhkan di kota itu dalam waktu berbeda.

Map showing the locations of the alleged chemical attacks on Douma, Eastern Ghouta, Syria
BBC
Dugaan serangan kimia pertama di toko roti Saada pukul 16:00 (20:WIB), dan dugaan serangan kedua pada pukulk 19:30 (23:30 WIB) di Lapangan Syuhada.

Sumber-sumber medis Suriah mengatakan sejumlah mayat ditemukan dengan mulut berbusa, dan dengan kulit yang berubah warna serta kornea mata mengalami luka bakar.

Sumber-sumber AS mengatakan mereka telah memperoleh sampel darah dan urin dari para korban yang melalui tes dinyatakan positif mendapatkan asupan klorin dan agen syaraf

Bagaimana terjadinya serangan udara?

Pada Jumat malam di Washington, Presiden Donald Trump berpidato mengungkapkan bahwa dia telah memerintahkan serangan terhadap Suriah. Serangan dilakukan bersama Inggris dan Perancis.

Saat pidatonya hampir berakhir, mulai muncul laporan pertama tentang ledakan di Damaskus.

AS mengatakan, 105 rudal diluncurkan dan diyakini tidak ada yang dicegat oleh sistem pertahanan Suriah. Dikatakan bahwa program senjata kimia Suriah telah dilumpuhkan.

peta serangan
BBC

Namun Rusia mengatakan 71 rudal koalisi telah ditembak jatuh oleh sistem Suriah - banyak di antaranya merupakan sistem pertahanan era Soviet yang sudah tua.

Salah satu dari tiga situs yang hancur adalah kompleks Barzeh, yang dikatakan AS adalah pusat untuk pengembangan, produksi dan pengujian senjata kimia dan biologi, meskipun Suriah menyangkal ini.

Dua sasaran serangan lainnya diduga fasilitas senjata kimia di Him Shinshar dekat Homs.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar