Senin, 22 Oktober 2018 | 11:43 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Lingkungan

Jumlah konsentrasi GRK Indonesia dekati 400 ppm

Rabu, 02 Mei 2018 - 07:47 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber fptp: https://bit.ly/2FwWZjn
Ilustrasi. Sumber fptp: https://bit.ly/2FwWZjn

Elshinta.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat konsentrasi gas rumah kaca (GRK) sudah mendekati angka 400 ppm.

"Itu adalah kondisi pengukuran terakhir pada Maret 2018," kata Kepala Seksi Observasi BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Budi Satria di Palupuah, Agam, Selasa (1/5).

Ia menerangkan, angka itu mewakili kondisi konsentrasi gas rumah kaca di Indonesia, karena hanya stasiun tersebut yang rutin melakukan sampling gas rumah kaca untuk dikirim lalu diteliti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Amerika Serikat.

Angka 400 ppm berarti jumlah partikel yang terukur dalam satu juta partikel udara terdapat 400 gas karbon. Kondisi itu sudah menjadi perhatian para peneliti. Pada masa praindustri konsentrasi gas rumah kaca berada di angka 280 ppm.

Gas rumah kaca tersebut pengaruhnya pada peningkatan suhu bumi yang nantinya juga akan berpengaruh pada kelangsungan makhluk hidup. Jika tanpa upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, peneliti memprediksi pada tahun 2100 angka tersebut menjadi 900 ppm, artinya dalam keadaan itu hutan-hutan hilang.

"Pada kondisi itu suhu meningkat dua derajat celcius sejak praindustri. Sampai sekarang saja suhu sudah meningkat 0,8 derajat celcius. Sudah cukup panas bukan?," ujarnya.

Angka gas rumah kaca yang terukur di Bukit Kototabang dan mewakili kondisi Indonesia tersebut masih di bawah angka global yang sudah di atas 400 ppm.
Meski demikian, menurut dia, sudah harus dilakukan upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca misalnya lewat penghijauan dan menghindari aktivitas membakar lahan. (Ant)  

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pemilihan Presiden 2019 | 22 Oktober 2018 - 11:37 WIB

Hidayat Nur Wahid minta Presiden berikan contoh politik kebohongan

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 11:28 WIB

Polisi ringkus penganiaya bocah perempuan

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 11:19 WIB

BNN konsisten edukasi bahaya narkoba pada pelajar

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 11:10 WIB

Ribuan siswa peringati Hari Santri di Alun-alun Kebumen

Hukum | 22 Oktober 2018 - 11:01 WIB

KPK panggil lagi Sjamsul Nursalim

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 10:52 WIB

Polisi ringkus juru parkir karena edarkan narkoba

Elshinta.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat konsentrasi gas rumah kaca (GRK) sudah mendekati angka 400 ppm.

"Itu adalah kondisi pengukuran terakhir pada Maret 2018," kata Kepala Seksi Observasi BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Budi Satria di Palupuah, Agam, Selasa (1/5).

Ia menerangkan, angka itu mewakili kondisi konsentrasi gas rumah kaca di Indonesia, karena hanya stasiun tersebut yang rutin melakukan sampling gas rumah kaca untuk dikirim lalu diteliti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Amerika Serikat.

Angka 400 ppm berarti jumlah partikel yang terukur dalam satu juta partikel udara terdapat 400 gas karbon. Kondisi itu sudah menjadi perhatian para peneliti. Pada masa praindustri konsentrasi gas rumah kaca berada di angka 280 ppm.

Gas rumah kaca tersebut pengaruhnya pada peningkatan suhu bumi yang nantinya juga akan berpengaruh pada kelangsungan makhluk hidup. Jika tanpa upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, peneliti memprediksi pada tahun 2100 angka tersebut menjadi 900 ppm, artinya dalam keadaan itu hutan-hutan hilang.

"Pada kondisi itu suhu meningkat dua derajat celcius sejak praindustri. Sampai sekarang saja suhu sudah meningkat 0,8 derajat celcius. Sudah cukup panas bukan?," ujarnya.

Angka gas rumah kaca yang terukur di Bukit Kototabang dan mewakili kondisi Indonesia tersebut masih di bawah angka global yang sudah di atas 400 ppm.
Meski demikian, menurut dia, sudah harus dilakukan upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca misalnya lewat penghijauan dan menghindari aktivitas membakar lahan. (Ant)  

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 22 Oktober 2018 - 11:28 WIB

Polisi ringkus penganiaya bocah perempuan

Senin, 22 Oktober 2018 - 11:19 WIB

BNN konsisten edukasi bahaya narkoba pada pelajar

Senin, 22 Oktober 2018 - 11:01 WIB

KPK panggil lagi Sjamsul Nursalim

Senin, 22 Oktober 2018 - 10:52 WIB

Polisi ringkus juru parkir karena edarkan narkoba

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com