Rabu, 21 November 2018 | 01:42 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Sosbud

Kak Seto usulkan permainan tradisional dipatenkan

Jumat, 04 Mei 2018 - 21:12 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Sumber foto: https://bit.ly/2jtL9hG
Sumber foto: https://bit.ly/2jtL9hG

Elshinta.com - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, mengusulkan agar permainan-permainan tradisional Indonesia dapat dipatenkan agar tidak diakui bangsa lain.

"Mudah-mudahan ini juga dilanjutkan dengan berbagai penelitian, kemudian manfaat permainan tradisional serta dipatenkan supaya permainan-permainan dari warisan nenek moyang ini sebagai hak paten bangsa Indonesia tidak diakui negara lain," kata dia, yang kondang dengan nama Kak Seto, pada acara "Jam Main Kita", di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (4/5).

Jam Main Kita adalah gerakan sosial untuk mengajak anak-anak Indonesia lebih mengenal permainan tradisional sekaligus mengajak anak-anak untuk aktif bermain di luar rumah yang digagas LPAI bersama dengan sejumlah perusahaan swasta mulai 25 Maret 2018. "Untuk mengingatkan bahwa salah satu hak dasar anak adalah bermain gembira, bermain bukan hanya bermain di dalam ruangan, bermain gawai yang sendirian, tapi juga bermain gembira di luar," kata Kak Seto, seperti dikutip dari Antara.

Ia pun menjelaskan, ada banyak permainan tradisional, di antaranya engklek, gobak sodor, enggrang, jamuran, dan permainan lainnya yang sangat banyak manfaatnya untuk mengembangkan kepribadian anak-anak. "(Lewat permainan), mereka belajar bekerja sama, belajar menghargai teman-temannya, menghargai perbedaan, belajar untuk kompak, bersatu walaupun saling berbeda dan itu sangat baik untuk anak-anak bangsa Indonesia," ungkap Seto

Ia berharap bahwa permainan di halaman Istana Merdeka itu menjadi gerakan awal agar ada gerakan nasional dimana anak-anak kembali gembira bermain bersama teman-temannya dan menghargai budaya bangsa Indonesia sendiri yaitu permainan tradisional. "Dan hal ini mudah-mudahan tidak hanya seremonial atau perayaan belaka tapi juga dilanjutkan dengan berbagai kebijakan yang lain. Ada bapak menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia, siapa tahu akan ada kurikulum juga bahwa wajib minimal seminggu sekali anak anak bisa kembali bermain permainan tradisional," ungkap Seto.

Dalam acara itu Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana, Joko Widodo, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, Menteri Sosial, Idrus Marham, Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F Moeloek, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, juga sempat bermain tiga permainan tradisional yaitu Ogor Ban, Gobak Sodor dan Engklek. "Semoga nanti diikuti bukan hanya para menteri tapi juga gubernur tapi juga bupati, lurah, camat, RT, RW dan para orang tua kembali bermain bersama dengan anak-anak dan putra-putri tercinta," kata Kak Seto.

Tidak lupa LPAI mengkampanyekan gerakan nasional SASANA atau "Saya Sahabat Anak" dimana guru, sahabat, anak, orang tua menjadi sahabat anak sehingga dalam mendidik tidak ada unsur kekerasan maupun pemaksaan.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
| 20 November 2018 - 21:31 WIB

157 CPNS Situbondo lulus SKD

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 21:09 WIB

Serikat petani nilai serapan beras Bulog belum maksimal

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 20:48 WIB

Besok, pihak UNPRI dipanggil Polrestabes Medan

Elshinta.com - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, mengusulkan agar permainan-permainan tradisional Indonesia dapat dipatenkan agar tidak diakui bangsa lain.

"Mudah-mudahan ini juga dilanjutkan dengan berbagai penelitian, kemudian manfaat permainan tradisional serta dipatenkan supaya permainan-permainan dari warisan nenek moyang ini sebagai hak paten bangsa Indonesia tidak diakui negara lain," kata dia, yang kondang dengan nama Kak Seto, pada acara "Jam Main Kita", di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (4/5).

Jam Main Kita adalah gerakan sosial untuk mengajak anak-anak Indonesia lebih mengenal permainan tradisional sekaligus mengajak anak-anak untuk aktif bermain di luar rumah yang digagas LPAI bersama dengan sejumlah perusahaan swasta mulai 25 Maret 2018. "Untuk mengingatkan bahwa salah satu hak dasar anak adalah bermain gembira, bermain bukan hanya bermain di dalam ruangan, bermain gawai yang sendirian, tapi juga bermain gembira di luar," kata Kak Seto, seperti dikutip dari Antara.

Ia pun menjelaskan, ada banyak permainan tradisional, di antaranya engklek, gobak sodor, enggrang, jamuran, dan permainan lainnya yang sangat banyak manfaatnya untuk mengembangkan kepribadian anak-anak. "(Lewat permainan), mereka belajar bekerja sama, belajar menghargai teman-temannya, menghargai perbedaan, belajar untuk kompak, bersatu walaupun saling berbeda dan itu sangat baik untuk anak-anak bangsa Indonesia," ungkap Seto

Ia berharap bahwa permainan di halaman Istana Merdeka itu menjadi gerakan awal agar ada gerakan nasional dimana anak-anak kembali gembira bermain bersama teman-temannya dan menghargai budaya bangsa Indonesia sendiri yaitu permainan tradisional. "Dan hal ini mudah-mudahan tidak hanya seremonial atau perayaan belaka tapi juga dilanjutkan dengan berbagai kebijakan yang lain. Ada bapak menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia, siapa tahu akan ada kurikulum juga bahwa wajib minimal seminggu sekali anak anak bisa kembali bermain permainan tradisional," ungkap Seto.

Dalam acara itu Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana, Joko Widodo, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, Menteri Sosial, Idrus Marham, Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F Moeloek, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, juga sempat bermain tiga permainan tradisional yaitu Ogor Ban, Gobak Sodor dan Engklek. "Semoga nanti diikuti bukan hanya para menteri tapi juga gubernur tapi juga bupati, lurah, camat, RT, RW dan para orang tua kembali bermain bersama dengan anak-anak dan putra-putri tercinta," kata Kak Seto.

Tidak lupa LPAI mengkampanyekan gerakan nasional SASANA atau "Saya Sahabat Anak" dimana guru, sahabat, anak, orang tua menjadi sahabat anak sehingga dalam mendidik tidak ada unsur kekerasan maupun pemaksaan.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com