Kamis, 20 September 2018 | 16:51 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames kuping kanan paragames
emajels

Gaya Hidup / Kesehatan

Peneliti di Denmark temukan terobosan dalam menekan obesitas

Senin, 07 Mei 2018 - 10:50 WIB    |    Penulis : Mario Vau    |    Editor : Dewi Rusiana
sumber foto: https://bit.ly/2JYA4jF
sumber foto: https://bit.ly/2JYA4jF

Mungkinkah seseorang mengkonsumsi makanan seperti pizza dan burger terus-menerus tanpa bertambah gemuk? Penelitian di Denmark tengah menguak cara kerja tubuh untuk menghadapi pergeseran pola hidup, dimana akses pada makanan yang semakin mudah menyebabkan peningkatan obesitas pada masyarakat.

 Cara-cara baru menekan kecenderungan tubuh untuk menyimpan energi berlebih dalam bentuk lemak ditemukan dengan melakukan penelitian pada tikus yang diberi asupan makanan setara dengan konsumsi makanan seperti pizza dan lemak dari peneliti di University of Copenhagen seperti dilaporkan oleh situs Science Daily. Yang dilakukan para peneliti adalah menghilangkan enzim NAMPT pada jaringan lemak tikus secara genetis. Perubahan ini menyebabkan tikus yang jaringan lemaknya telah dimodifikasi tersebut menjadikannya sama sekali tidak gemuk atau mengalami gejala obesitas, bahkan dengan pola makan penuh lemak.

“Kami memberikan tikus-tikus pola makan yang kurang lebih mencerminkan terus menerus mengkonsumsi pizza dan burger. Meskipun demikian, tidak terjadi pembesaran dari jaringan lemak mereka. Pada akhirnya, tujuan kami adalah memahami dasar-dasar dari menjadi gemuk , dan menerapkannya dalam penanganan penyakit terkait metabolism,” kata Karen Norgaard Nielsen, salah satu peneliti dari Novo Nordisk Foundation Center for Basic Metabolic Research, dari University of Copenhagen.

Penelitian ini segaris dengan hasil yang diperoleh pada manusia. Sejumlah studi mengindikasikan bahwa kehadiran enzim NAMPT di dalam darah dan jaringan lemak di lambung terkait dengan kegemukan atau obesitas. Akan tetapi penelitian terbaru ini adalah bukti pertama bahwa enzim NAMPT diperlukan untuk menjadi gemuk, dan sebaliknya, absennya enzim ini melindungi suatu makhluk hidup sepenuhnya dari obesitas.

Diketahui bahwa selain hilangnya gejala kegemukan ketika tikus-tikus tersebut tidak memiliki enzim NAMPT, mereka juga memiliki kadar gula darah yang lebih terkontrol dibanding tikus biasa, ketika mengkonsumsi makanan berlemak tinggi.

Penemuan ini merupakan terobosan karena selama ini diyakini bahwa enzim NAMPT penting bagi fungsi penyimpanan lemak dalam tubuh. Hal ini mungkin saja tepat pada nenek moyang manusia, untuk menyimpan energy secara efisien ketika menjalani pola hidup nomaden dengan ketersediaan asupan makanan yang tidak menentu. Namun menurut Profesor Zachary Gerthart-Hines dari lembaga yang sama, fungsi tersebut kini menjadi suatu ancaman bagi masyarakat yang memiliki akses mudah  pada makanan yang tinggi kadar lemak dan  penuh dengan kalori.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 20 September 2018 - 16:44 WIB

Bocah tewas, tujuh orang hilang akibat topan Mangkhut di Thailand

Aktual Dalam Negeri | 20 September 2018 - 16:34 WIB

Swastanisasi penjara masih menjadi wacana

Aktual Dalam Negeri | 20 September 2018 - 16:24 WIB

20 ribu ton beras impor di simpan di Jawa Timur

Manajemen | 20 September 2018 - 16:06 WIB

Tips membangun relasi dan mempertahankan hubungan bisnis

| 20 September 2018 - 16:00 WIB

KPU Muko-muko tetapkan 281 DCT anggota legislatif

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com