Rabu, 21 November 2018 | 09:49 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Luar Negeri / Amerika

Saudi dukung keputusan AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran

Rabu, 09 Mei 2018 - 11:09 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Arsip Foto. Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud memberikan Collar of Abdulaziz Al Saud Medal kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Royal Court di Riyadh, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2KMFCyR
Arsip Foto. Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud memberikan Collar of Abdulaziz Al Saud Medal kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Royal Court di Riyadh, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2KMFCyR

Elshinta.com - Arab Saudi menyambut keputusan Presiden Donald Trump pada Selasa untuk menarik Amerika Serikat (AS) dari kesepakatan nuklir internasional dengan Iran dan kembali mengenakan sanksi ekonomi pada musuh bebuyutannya Iran.

Kerajaan yang merupakan sekutu utama AS itu menyatakan akan bekerja dengan AS dan masyarakat internasional untuk menangani masalah terkait program nuklir dan rudal balistik Iran serta dukungannya bagi kelompok-kelompok militan di kawasan. "Iran menggunakan pertumbuhan ekonomi dari pencabutan sanksi-sanksi untuk terus melanjutkan kegiatannya merusak stabilitas kawasan, khususnya dengan mengembangkan rudal balistik dan mendukung kelompok-kelompok teroris di kawasan" menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi yang dikutip Antara dari Reuters.

Kerajaan itu juga mengonfirmasi "kebutuhan untuk mengatasi bahaya dari kebijakan-kebijakan Iran bagi perdamaian dan keamanan internasional melalui satu pandangan komprehensif yang tidak hanya terbatas pada program nuklirnya namun juga mencakup seluruh aktivitas bermusuhannya" di kawasan. Kesepakatan nuklir 2015, yang menandai pencapaian kebijakan luar negeri pendahulu Trump, Barack Obama, melonggarkan sanksi terhadap Iran sebagai balasan bagi pembatasan program nuklir Teheran guna mencegahnya mampu membuat bom atom.

Trump sudah berulangkali mengkritik perjanjian nuklir Iran karena tidak mencakup progran rudal Iran dan perannya dalam konflik di Yaman dan Suriah, kegiatan nuklirnya setelah 2025, dan persyaratan di mana pengawas internasional bisa mengunjungi tempat-tempat terkait program nuklir Iran.

Arab Saudi menyebut kesepakatan nuklir 2015 sebagai "kesepakatan yang cacat" dan pada Maret Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman kepada CBS News mengatakan bahwa kerajaannya "tanpa ragu akan" mengembangkan senjata nuklir kalau Iran melakukannya. Kerajaan Sunni Muslim itu sudah puluhan tahun berselisih dengan Syiah Iran. Mereka berhadapan dalam perang proxy panjang di Timur Tengah dan lainnya, mendukung pihak berlawanan dalam konflik bersenjata dan krisis politik di Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 21 November 2018 - 09:35 WIB

NGO: Israel tangkap 900 anak Palestina tahun ini

Hankam | 21 November 2018 - 09:14 WIB

Polri-Ukraina tingkatkan kerja sama keamanan siber

Liga Eropa | 21 November 2018 - 09:04 WIB

Polandia tahan imbang Portugal 1-1

Aktual Sepakbola | 21 November 2018 - 08:55 WIB

Tim dokter nyatakan cedera Neymar tidak serius

Elshinta.com - Arab Saudi menyambut keputusan Presiden Donald Trump pada Selasa untuk menarik Amerika Serikat (AS) dari kesepakatan nuklir internasional dengan Iran dan kembali mengenakan sanksi ekonomi pada musuh bebuyutannya Iran.

Kerajaan yang merupakan sekutu utama AS itu menyatakan akan bekerja dengan AS dan masyarakat internasional untuk menangani masalah terkait program nuklir dan rudal balistik Iran serta dukungannya bagi kelompok-kelompok militan di kawasan. "Iran menggunakan pertumbuhan ekonomi dari pencabutan sanksi-sanksi untuk terus melanjutkan kegiatannya merusak stabilitas kawasan, khususnya dengan mengembangkan rudal balistik dan mendukung kelompok-kelompok teroris di kawasan" menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi yang dikutip Antara dari Reuters.

Kerajaan itu juga mengonfirmasi "kebutuhan untuk mengatasi bahaya dari kebijakan-kebijakan Iran bagi perdamaian dan keamanan internasional melalui satu pandangan komprehensif yang tidak hanya terbatas pada program nuklirnya namun juga mencakup seluruh aktivitas bermusuhannya" di kawasan. Kesepakatan nuklir 2015, yang menandai pencapaian kebijakan luar negeri pendahulu Trump, Barack Obama, melonggarkan sanksi terhadap Iran sebagai balasan bagi pembatasan program nuklir Teheran guna mencegahnya mampu membuat bom atom.

Trump sudah berulangkali mengkritik perjanjian nuklir Iran karena tidak mencakup progran rudal Iran dan perannya dalam konflik di Yaman dan Suriah, kegiatan nuklirnya setelah 2025, dan persyaratan di mana pengawas internasional bisa mengunjungi tempat-tempat terkait program nuklir Iran.

Arab Saudi menyebut kesepakatan nuklir 2015 sebagai "kesepakatan yang cacat" dan pada Maret Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman kepada CBS News mengatakan bahwa kerajaannya "tanpa ragu akan" mengembangkan senjata nuklir kalau Iran melakukannya. Kerajaan Sunni Muslim itu sudah puluhan tahun berselisih dengan Syiah Iran. Mereka berhadapan dalam perang proxy panjang di Timur Tengah dan lainnya, mendukung pihak berlawanan dalam konflik bersenjata dan krisis politik di Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com