Senin, 22 Oktober 2018 | 09:31 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Luar Negeri / Diaspora

Ruksima, diaspora yang menuangkan imajinasinya ke dalam animasi stop-motion

Sabtu, 10 Maret 2018 - 22:40 WIB    |    Penulis : Administrator    |    Editor : Administrator
Ruksima, diaspora Indonesia yang terjun ke bidang animasi stop-motion di Los Angeles (Dok: VOA)
Ruksima, diaspora Indonesia yang terjun ke bidang animasi stop-motion di Los Angeles (Dok: VOA)

Elshinta.com Terinspirasi dari film produksi Walt Disney, Lion King, diaspora muda Indonesia, Ruksima, di Los Angeles, California kemudian memutuskan untuk terjun ke dunia animasi. Jika dulu anak-anak seumurannya lebih suka menonton sinetron, lain halnya dengan Ruksima yang memilih untuk menonton film kartun.

“Aku tuh enggak suka sinetron. Aku suka banget waktu pertama kali aku lihat film Lion King. Itu blow my heart banget dan aku sampai sekarang sudah nonton mungkin kayaknya udah 1.000 kali,” papar Ruksima saat ditemui oleh VOA di Los Angeles belum lama ini.

Menurut Ruksima, di industri perfilman animasi, film Lion King itu sangat klasik dan bersejarah, bahkan menjadi sumber acuan bagi para animator seperti dirinya.

“Lion King itu kayak our lord gitu,” ujarnya sambil bercanda.

Ruksima menambahkan film Lion King yang adalah film animasi dua dimensi dengan penghasilan terbesar di Amerika ini sangat sulit untuk dibuat.

“Sangat susah dibandingin 3D animasi, oh my God, itu susah banget 2D animasi. Dia harus frame by frame. Dia harus gambar satu-satu, itu lebih susah dari stop-motionkalau aku bilang, karena kan itu pakai garis, pakai gambar sendiri dan belum tentu itu sama,” jelas perempuan yang kini tengah melanjutkan studinya di New York Film Academy College of Art di Los Angeles, California, jurusan animasi video.

Saat ini Ruksima tengah mendalami animasi stop-motion, sebuah teknik animasi yang menggerakkan objek berupa boneka, seperti yang terlihat dalam film The Nightmare Before Christmas karya sutradara kenamaan Tim Burton dan Shaun the Sheep Movie. Boneka-boneka yang digunakan bisa dibuat dari berbagai macam bahan, antara lain tanah lihat. Objek tersebut kemudian digerakkan per sekian detik secara halus.

“Puppet-nya itu harus digerakin frame by frame, little by little, dan pas dia lagi mau bergerak itu kita harus tahu frame-nya itu berapa frame per second dan dengan tangan kita sendiri kita harus menggerakan puppet itu. Itu perbedaan dari 3D (dimensi). Kalau 3D kan di komputer. Kalau di komputer kan kita tinggal pasang key frame aja dia sudah langsung bergerak sendiri. Tapi kalau stop-motion itu memang sangat berat dan kita harus mengerti benar bagaimana kamera film bekerja dan kamera fotografi bekerja,” papar perempuan yang hobi main game, travelling, dan nonton film animasi ini.

Sebagai stop-motion animator yang independen, Ruksima harus membuat boneka-boneka atau puppet-nya sendiri.

“Semuanya harus bikin sendiri. Tapi saya juga ada beberapa teman sih yang bantuin untuk fotografinya. Tapi untuk semua set, puppet, cerita, Art Director-nya semuanya saya,” kata Ruksima yang dalam proyeknya juga bekerja sama dengan sineas Indonesia, Cheverly Amalia, di Los Angeles.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 09:26 WIB

PKS Komitmen kawal moral partai dan kader

Ekonomi | 22 Oktober 2018 - 09:18 WIB

Adobsi teknologi dorong peningkatan DPK Bank Pasar

Badminton | 22 Oktober 2018 - 09:07 WIB

Kevin-Marcus `Minions` akhirnya juarai Denmark Terbuka

Event | 22 Oktober 2018 - 08:55 WIB

Indra Sjafri yakin timnas Indonesia bisa bangkit

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 08:43 WIB

Pakar komunikasi ajak netizen deteksi berita hoax

Musibah | 22 Oktober 2018 - 08:34 WIB

Wakil Bupati Pasaman Barat tinjau lokasi banjir

Elshinta.com Terinspirasi dari film produksi Walt Disney, Lion King, diaspora muda Indonesia, Ruksima, di Los Angeles, California kemudian memutuskan untuk terjun ke dunia animasi. Jika dulu anak-anak seumurannya lebih suka menonton sinetron, lain halnya dengan Ruksima yang memilih untuk menonton film kartun.

“Aku tuh enggak suka sinetron. Aku suka banget waktu pertama kali aku lihat film Lion King. Itu blow my heart banget dan aku sampai sekarang sudah nonton mungkin kayaknya udah 1.000 kali,” papar Ruksima saat ditemui oleh VOA di Los Angeles belum lama ini.

Menurut Ruksima, di industri perfilman animasi, film Lion King itu sangat klasik dan bersejarah, bahkan menjadi sumber acuan bagi para animator seperti dirinya.

“Lion King itu kayak our lord gitu,” ujarnya sambil bercanda.

Ruksima menambahkan film Lion King yang adalah film animasi dua dimensi dengan penghasilan terbesar di Amerika ini sangat sulit untuk dibuat.

“Sangat susah dibandingin 3D animasi, oh my God, itu susah banget 2D animasi. Dia harus frame by frame. Dia harus gambar satu-satu, itu lebih susah dari stop-motionkalau aku bilang, karena kan itu pakai garis, pakai gambar sendiri dan belum tentu itu sama,” jelas perempuan yang kini tengah melanjutkan studinya di New York Film Academy College of Art di Los Angeles, California, jurusan animasi video.

Saat ini Ruksima tengah mendalami animasi stop-motion, sebuah teknik animasi yang menggerakkan objek berupa boneka, seperti yang terlihat dalam film The Nightmare Before Christmas karya sutradara kenamaan Tim Burton dan Shaun the Sheep Movie. Boneka-boneka yang digunakan bisa dibuat dari berbagai macam bahan, antara lain tanah lihat. Objek tersebut kemudian digerakkan per sekian detik secara halus.

“Puppet-nya itu harus digerakin frame by frame, little by little, dan pas dia lagi mau bergerak itu kita harus tahu frame-nya itu berapa frame per second dan dengan tangan kita sendiri kita harus menggerakan puppet itu. Itu perbedaan dari 3D (dimensi). Kalau 3D kan di komputer. Kalau di komputer kan kita tinggal pasang key frame aja dia sudah langsung bergerak sendiri. Tapi kalau stop-motion itu memang sangat berat dan kita harus mengerti benar bagaimana kamera film bekerja dan kamera fotografi bekerja,” papar perempuan yang hobi main game, travelling, dan nonton film animasi ini.

Sebagai stop-motion animator yang independen, Ruksima harus membuat boneka-boneka atau puppet-nya sendiri.

“Semuanya harus bikin sendiri. Tapi saya juga ada beberapa teman sih yang bantuin untuk fotografinya. Tapi untuk semua set, puppet, cerita, Art Director-nya semuanya saya,” kata Ruksima yang dalam proyeknya juga bekerja sama dengan sineas Indonesia, Cheverly Amalia, di Los Angeles.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com