Ruksima, diaspora yang menuangkan imajinasinya ke dalam animasi stop-motion
Elshinta
Sabtu, 10 Maret 2018 - 22:40 WIB | Penulis : Administrator | Editor : Administrator
Ruksima, diaspora yang menuangkan imajinasinya ke dalam animasi stop-motion
Ruksima, diaspora Indonesia yang terjun ke bidang animasi stop-motion di Los Angeles (Dok: VOA)

Elshinta.com Terinspirasi dari film produksi Walt Disney, Lion King, diaspora muda Indonesia, Ruksima, di Los Angeles, California kemudian memutuskan untuk terjun ke dunia animasi. Jika dulu anak-anak seumurannya lebih suka menonton sinetron, lain halnya dengan Ruksima yang memilih untuk menonton film kartun.

“Aku tuh enggak suka sinetron. Aku suka banget waktu pertama kali aku lihat film Lion King. Itu blow my heart banget dan aku sampai sekarang sudah nonton mungkin kayaknya udah 1.000 kali,” papar Ruksima saat ditemui oleh VOA di Los Angeles belum lama ini.

Menurut Ruksima, di industri perfilman animasi, film Lion King itu sangat klasik dan bersejarah, bahkan menjadi sumber acuan bagi para animator seperti dirinya.

“Lion King itu kayak our lord gitu,” ujarnya sambil bercanda.

Ruksima menambahkan film Lion King yang adalah film animasi dua dimensi dengan penghasilan terbesar di Amerika ini sangat sulit untuk dibuat.

“Sangat susah dibandingin 3D animasi, oh my God, itu susah banget 2D animasi. Dia harus frame by frame. Dia harus gambar satu-satu, itu lebih susah dari stop-motionkalau aku bilang, karena kan itu pakai garis, pakai gambar sendiri dan belum tentu itu sama,” jelas perempuan yang kini tengah melanjutkan studinya di New York Film Academy College of Art di Los Angeles, California, jurusan animasi video.

Saat ini Ruksima tengah mendalami animasi stop-motion, sebuah teknik animasi yang menggerakkan objek berupa boneka, seperti yang terlihat dalam film The Nightmare Before Christmas karya sutradara kenamaan Tim Burton dan Shaun the Sheep Movie. Boneka-boneka yang digunakan bisa dibuat dari berbagai macam bahan, antara lain tanah lihat. Objek tersebut kemudian digerakkan per sekian detik secara halus.

“Puppet-nya itu harus digerakin frame by frame, little by little, dan pas dia lagi mau bergerak itu kita harus tahu frame-nya itu berapa frame per second dan dengan tangan kita sendiri kita harus menggerakan puppet itu. Itu perbedaan dari 3D (dimensi). Kalau 3D kan di komputer. Kalau di komputer kan kita tinggal pasang key frame aja dia sudah langsung bergerak sendiri. Tapi kalau stop-motion itu memang sangat berat dan kita harus mengerti benar bagaimana kamera film bekerja dan kamera fotografi bekerja,” papar perempuan yang hobi main game, travelling, dan nonton film animasi ini.

Sebagai stop-motion animator yang independen, Ruksima harus membuat boneka-boneka atau puppet-nya sendiri.

“Semuanya harus bikin sendiri. Tapi saya juga ada beberapa teman sih yang bantuin untuk fotografinya. Tapi untuk semua set, puppet, cerita, Art Director-nya semuanya saya,” kata Ruksima yang dalam proyeknya juga bekerja sama dengan sineas Indonesia, Cheverly Amalia, di Los Angeles.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Nasir dukung ilmuwan diaspora ikut bangun SDM
Selasa, 20 Agustus 2019 - 14:25 WIB
Elshinta.com - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menduk...
Oceans, kolaborasi musik hip hop New York dengan gamelan Bali
Senin, 10 September 2018 - 16:17 WIB
Elshinta.com -  Penyanyi dan pencipta lagu musik indie Hip-Hop asal New York, Sandflo...
Pemerintah ajak diaspora Indonesia di Korea wujudkan Industri 4.0
Minggu, 09 September 2018 - 10:13 WIB
Elshinta.com - Pemerintah mengajak perantau alias diaspora yang tergabung dalam Persatuan ...
Diaspora Indonesia ciptakan beras berprotein tinggi
Kamis, 24 Mei 2018 - 15:45 WIB
Elshinta.com - Dua diaspora Indonesia di Louisiana, Amerika Serikat, Herry dan Ida Utomo, ...
Ruksima, diaspora yang menuangkan imajinasinya ke dalam animasi stop-motion
Sabtu, 10 Maret 2018 - 22:40 WIB
Elshinta.com Terinspirasi dari film produksi Walt Disney, Lion King, diaspora muda Indonesia, R...
Menhub ajak diaspora promosikan pelaut Indonesia
Senin, 08 Januari 2018 - 07:11 WIB
Elshinta.com - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan mengajak diaspora untuk mempromo...
Livi Zheng jadi kepala juri kompetisi Southeast Asia Prix Jeunesse
Senin, 27 November 2017 - 16:15 WIB
Elshinta.com - Diaspora dari Indonesia yang menjadi sutradara di Hollywood, Amerika Serika...
Mendikbud appreasi kiprah Diaspora Indonesia
Sabtu, 04 November 2017 - 15:27 WIB
Elshinta.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendy, meny...
Dubes ajak WNI dan diaspora di Meksiko jaga persatuan
Selasa, 31 Oktober 2017 - 19:56 WIB
Elshinta.com - Duta Besar Republik Indonesia untuk Meksiko Serikat Yusra Khan mengajak mas...
Ratusan orang hadiri malam budaya di Indonesia di Kopenhagen
Sabtu, 30 September 2017 - 09:12 WIB
Elshinta.com - Kedutaan Besar Indonesia di Kopenhagen bekerjasama dengan Kotamadya Gentoft...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)