Rabu, 21 November 2018 | 01:39 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Pendidikan

Kemristekdikti: Mutu pendidikan tinggi masih memprihatinkan

Jumat, 11 Mei 2018 - 08:23 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2rxiRY2
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2rxiRY2

Elshinta.com  - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyebutkan mutu pendidikan tinggi di Tanah Air hingga sekarang ini masih memprihatinkan.

"Berdasarkan data Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi per 8 Mei 2018 sebanyak 61 persen institusi pendidikan tinggi kita masih terakreditasi peringkat C, 35 persen terakreditasi peringkat B, dan hanya empat persen yang terakreditasi peringkat A," kata Direktur Penjaminan Mutu Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti, Prof Aris Junaidi di Jakarta, Jumat (11/5)

Sebanyak 30 persen program studi juga masih terakreditasi C, kemudian 55 persen lainnya terakreditasi B, dan hanya 15 persen terakreditasi A. Untuk itu, dia meminta agar perguruan tinggi semakin termotivasi untuk menjadi perguruan tinggi berorientasi pada mutu dan kepuasaan pelanggan. "Pimpinan perguruan tinggi hendaknya semakin bersemangat menjadikan perguruan tingginya berorientasi kepada mutu dan kepuasaan pelanggan dalam membangun budaya mutu melalui penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)".

Selain itu, pimpinan perguruan tinggi mampu mentransformasikan, menyebarluaskan pengetahuan, nilai-nilai budaya mutu pendidikan tinggi melalui kebijakan dan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak kepada segenap civitas akademika dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi.

Sebelumnya, berlangsung deklarasi dan penandatanganan komitmen pimpinan perguruan tinggi dalam menerapkan Budaya Mutu yang dipimpin oleh Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten Prof Sholeh Hidayat. Deklarasi yang diikuti sekitar 200 perguruan tinggi itu berisi komitmen untuk mengembangkan budaya mutu, melalui fasilitas dalam implementasi SPMI di kampus masing-masing.

Sholeh mengatakan praktik baik membangun budaya mutu pun menjadi salah satu topik pembahasan agar para pimpinan perguruan tinggi beritikad menerapkan budaya mutu di dalam lingkungannya. "Apalagi pada era industri 4.0 yang penuh tantangan, perguruan tinggi perlu mempersiapkan diri menghadapi situasi dan kondisi ini dengan mempertahankan mutu dan kualitasnya sehingga akan lebih siap serta menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini mutlak dilakukan karena saat ini masyarakatlah yang akan memutuskan dalam memilih perguruan tinggi yang mampu menjamin kompetensi lulusannya," kata Sholeh.

Oleh karena itu pelaksanaan budaya mutu di perguruan tinggi sangat dibutuhkan dan tidak dapat ditawar lagi.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
| 20 November 2018 - 21:31 WIB

157 CPNS Situbondo lulus SKD

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 21:09 WIB

Serikat petani nilai serapan beras Bulog belum maksimal

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 20:48 WIB

Besok, pihak UNPRI dipanggil Polrestabes Medan

Elshinta.com  - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyebutkan mutu pendidikan tinggi di Tanah Air hingga sekarang ini masih memprihatinkan.

"Berdasarkan data Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi per 8 Mei 2018 sebanyak 61 persen institusi pendidikan tinggi kita masih terakreditasi peringkat C, 35 persen terakreditasi peringkat B, dan hanya empat persen yang terakreditasi peringkat A," kata Direktur Penjaminan Mutu Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti, Prof Aris Junaidi di Jakarta, Jumat (11/5)

Sebanyak 30 persen program studi juga masih terakreditasi C, kemudian 55 persen lainnya terakreditasi B, dan hanya 15 persen terakreditasi A. Untuk itu, dia meminta agar perguruan tinggi semakin termotivasi untuk menjadi perguruan tinggi berorientasi pada mutu dan kepuasaan pelanggan. "Pimpinan perguruan tinggi hendaknya semakin bersemangat menjadikan perguruan tingginya berorientasi kepada mutu dan kepuasaan pelanggan dalam membangun budaya mutu melalui penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)".

Selain itu, pimpinan perguruan tinggi mampu mentransformasikan, menyebarluaskan pengetahuan, nilai-nilai budaya mutu pendidikan tinggi melalui kebijakan dan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak kepada segenap civitas akademika dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi.

Sebelumnya, berlangsung deklarasi dan penandatanganan komitmen pimpinan perguruan tinggi dalam menerapkan Budaya Mutu yang dipimpin oleh Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten Prof Sholeh Hidayat. Deklarasi yang diikuti sekitar 200 perguruan tinggi itu berisi komitmen untuk mengembangkan budaya mutu, melalui fasilitas dalam implementasi SPMI di kampus masing-masing.

Sholeh mengatakan praktik baik membangun budaya mutu pun menjadi salah satu topik pembahasan agar para pimpinan perguruan tinggi beritikad menerapkan budaya mutu di dalam lingkungannya. "Apalagi pada era industri 4.0 yang penuh tantangan, perguruan tinggi perlu mempersiapkan diri menghadapi situasi dan kondisi ini dengan mempertahankan mutu dan kualitasnya sehingga akan lebih siap serta menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini mutlak dilakukan karena saat ini masyarakatlah yang akan memutuskan dalam memilih perguruan tinggi yang mampu menjamin kompetensi lulusannya," kata Sholeh.

Oleh karena itu pelaksanaan budaya mutu di perguruan tinggi sangat dibutuhkan dan tidak dapat ditawar lagi.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com