Selasa, 16 Oktober 2018 | 18:09 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Perempuan / Aktual Perempuan

Komnas Perempuan: Jangan biarkan perempuan jadi alat terorisme

Rabu, 16 Mei 2018 - 16:05 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Komisioner Komnas Perempuan,  Adriana Venny. Foto: Reporter Elshinta, Dody Handoko
Komisioner Komnas Perempuan, Adriana Venny. Foto: Reporter Elshinta, Dody Handoko

Elshinta.com  - Baru saja penyerangan di Mako Brimob Depok yang menewaskan lima anggota Polri terjadi, disusul dengan aksi terorisme dengan bom bunuh diri yang menyasar setidaknya tiga gereja di Surabaya, pada Minggu, (13/5) dan berlanjut di Rusunawa Sidoarjo dan Mapolrestabes Surabaya pada hari Senin (14/5).

Dari rangkaian pengeboman tersebut, data kepolisian setidaknya terdapat 18 orang tewas, 40 orang luka, dimana korbannya mencakup aparat keamanan/polisi, pelaku, dan warga sipil termasuk perempuan, bahkan anak-anak. Serangan bom bunuh diri ini dilakukan oleh setidaknya tiga keluarga dimana perempuan terlibat menjadi “pelaku” dan melibatkan anak-anak.

“Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, dalam berbagai peristiwa terorisme di Indonesia sejumlah Perempuan ditangkap sebagai pelaku, sebagian sedang menjalani proses pengadilan dan sebagian lainnya sedang menjalani hukuman akibat tindak pidana terorisme,” kata Adriana Venny, Komisioner Komnas Perempuan, di Jakarta, Rabu (16/5), seperti dilaporkan Reporter Elshinta.com, Dody Handoko.

Pada tahun 2016, setidaknya ada dua perempuan yang gagal melakukan aksi pengeboman di istana, dan yang ditangkap di Purworejo karena terindikasi akan melancarkan aksi bom bunuh diri di luar Jawa. Aksi
pengeboman di Surabaya adalah kasus pertama dimana pelaku perempuan berhasil melakukan aksi bunuh diri, meskipun tidak sendiri tapi bersama dengan keluarganya.

“Dalam pandangan Komnas Perempuan dari hasil pengaduan, konsultasi dengan para mitra penggiat isu perdamaian, bahwa berbagai pihak perlu melihat lebih jauh akar persoalan dibalik keterlibatan perempuan
sebagai pelaku, sebagai target perekrutan untuk diindoktrinasi dan menjadi alat ideologi, hingga dijadikan martir dengan melakukan kekerasan,” terangya.

Komnas Perempuan mengkhawatirkan bahwa trend perekrutan Perempuan menjadi pelaku bom ini karena asumsi bahwa perempuan berpotensi lebih militan, manipulasi agar tidak mudah dicurigai untuk alasan keamanan, dan memanfaatkan peran perempuan sebagai ibu yang strategis untuk mentransmisikan ideologi radikal dan mempersiapkan anak-anak menjadi martir. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 16 Oktober 2018 - 18:08 WIB

Polisi amankan wanita bawa sabu di Bandara

Kesehatan | 16 Oktober 2018 - 17:58 WIB

Jenis kanker pada anak selain leukemia

Kecelakaan | 16 Oktober 2018 - 17:48 WIB

Mobil pick up tabrak truk TNI, satu tewas dan dua orang terluka

Startup | 16 Oktober 2018 - 17:30 WIB

Bareksa, marketplace reksadana dorong penetrasi investasi

Aktual Dalam Negeri | 16 Oktober 2018 - 17:18 WIB

Belasan ribu pohon cabai terendam banjir

Aktual Dalam Negeri | 16 Oktober 2018 - 17:08 WIB

Pemkot Magelang siapkan tenaga administrasi SD-TK

Elshinta.com  - Baru saja penyerangan di Mako Brimob Depok yang menewaskan lima anggota Polri terjadi, disusul dengan aksi terorisme dengan bom bunuh diri yang menyasar setidaknya tiga gereja di Surabaya, pada Minggu, (13/5) dan berlanjut di Rusunawa Sidoarjo dan Mapolrestabes Surabaya pada hari Senin (14/5).

Dari rangkaian pengeboman tersebut, data kepolisian setidaknya terdapat 18 orang tewas, 40 orang luka, dimana korbannya mencakup aparat keamanan/polisi, pelaku, dan warga sipil termasuk perempuan, bahkan anak-anak. Serangan bom bunuh diri ini dilakukan oleh setidaknya tiga keluarga dimana perempuan terlibat menjadi “pelaku” dan melibatkan anak-anak.

“Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, dalam berbagai peristiwa terorisme di Indonesia sejumlah Perempuan ditangkap sebagai pelaku, sebagian sedang menjalani proses pengadilan dan sebagian lainnya sedang menjalani hukuman akibat tindak pidana terorisme,” kata Adriana Venny, Komisioner Komnas Perempuan, di Jakarta, Rabu (16/5), seperti dilaporkan Reporter Elshinta.com, Dody Handoko.

Pada tahun 2016, setidaknya ada dua perempuan yang gagal melakukan aksi pengeboman di istana, dan yang ditangkap di Purworejo karena terindikasi akan melancarkan aksi bom bunuh diri di luar Jawa. Aksi
pengeboman di Surabaya adalah kasus pertama dimana pelaku perempuan berhasil melakukan aksi bunuh diri, meskipun tidak sendiri tapi bersama dengan keluarganya.

“Dalam pandangan Komnas Perempuan dari hasil pengaduan, konsultasi dengan para mitra penggiat isu perdamaian, bahwa berbagai pihak perlu melihat lebih jauh akar persoalan dibalik keterlibatan perempuan
sebagai pelaku, sebagai target perekrutan untuk diindoktrinasi dan menjadi alat ideologi, hingga dijadikan martir dengan melakukan kekerasan,” terangya.

Komnas Perempuan mengkhawatirkan bahwa trend perekrutan Perempuan menjadi pelaku bom ini karena asumsi bahwa perempuan berpotensi lebih militan, manipulasi agar tidak mudah dicurigai untuk alasan keamanan, dan memanfaatkan peran perempuan sebagai ibu yang strategis untuk mentransmisikan ideologi radikal dan mempersiapkan anak-anak menjadi martir. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com