Minggu, 16 Desember 2018 | 07:21 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

Vonis mati teroris bentuk ketegasan memberantas terorisme

Senin, 21 Mei 2018 - 15:26 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Sigit Kurniawan
Teroidana kasus terorisme Aman Abdurrahman. Sumber foto: https://bit.ly/2s0jgRZ
Teroidana kasus terorisme Aman Abdurrahman. Sumber foto: https://bit.ly/2s0jgRZ

Elshinta.com - Vonis mati kepada terpidana kasus terorisme Aman Abdurrahman dinilai menjadi bentuk pesan tegas Pemerintah Indonesia dalam melakukan pemberantasan terorisme.

"Vonis mati menurut saya hanya bisa dimaknai sebagai pesan tegas pemerintah dalam melakukan pemberantasan terorisme di hadapan mereka, para pendukung ISIS," kata Direktur The Islah Center sekaligus pengamat terorisme Mujahidin Nur di Jakarta, Senin (21/5).

Hal itu, kata dia, sekaligus meminimalisasi risiko penyebaran ajaran dibandingkan ketika terpidana tersebut masih masih bebas atau leluasa menyebarkan ajarannya.

Mujahidin berpendapat sampai saat ini kelompok teroris (ISIS) adalah kelompok yang bergerak dengan tumpuan ideologi, bukan pada ketokohan atau kepemimpinan individu tertentu, misalnya, Aman Abdurrahman. Sebab, lanjut dia, ideologi sebagai tumpuan pegerakan mereka (pemikiran takfiriyah/pengkafiran) yang disebarkan oleh Aman sudah masif tersebar ke seluruh jaringan atau kelompoknya.

"Walaupun ISIS Indonesia miskin pemimpin yang mempunyai 'skill' lapangan dan keilmuan seperti Aman Abdurrahman, tapi vonis mati pada Aman Abdurahman hemat saya tidak akan mempunyai pengaruh signifikan pada pelemahan jaringan terorisme di Indonesia," tuturnya, dikutip Antara.

Meski begitu hal tersebut berdampak positif untuk jangka pendek karena pendukung ISIS Indonesia kehilangan figur yang mempunyai keilmuan dan kepemimpinan seperti Aman.

Ia menegaskan, vonis mati pada pemimpin kelompok teroris akan efektif menghentikan terorisme dilihat dari dua variabel yakni pertama, apabila pemimpin teroris tersebut mempunyai pengaruh kepemimpan atau karisma yang kuat di tengah pengikutnya. Kedua, tentu saja hal ini berlaku untuk kelompok teroris yang mempunyai sedikit anggota dan benar-benar menjadikan pemimpin sebagai tumpuan pegerakan mereka maka vonis mati ini akan menjadi efektif.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 16 Desember 2018 - 07:12 WIB

Longsor akibatkan 3 rumah di Ponorogo rusak

Aktual Dalam Negeri | 16 Desember 2018 - 06:49 WIB

Suami kalahkan isteri dalam Pilkades di Kotim

Liga Italia | 16 Desember 2018 - 06:26 WIB

Penalti Icardi amankan kemenangan Inter atas Udinese

Aktual Dalam Negeri | 16 Desember 2018 - 06:16 WIB

TNI minta masyarakat Sulbar jaga kondusifitas Natal

Peristiwa Hari Ini | 15 Desember 2018 - 23:56 WIB

Kabar duka, Rois Syuriah PCNU Malang, KH Buchori Amin meninggal dunia

Elshinta.com - Vonis mati kepada terpidana kasus terorisme Aman Abdurrahman dinilai menjadi bentuk pesan tegas Pemerintah Indonesia dalam melakukan pemberantasan terorisme.

"Vonis mati menurut saya hanya bisa dimaknai sebagai pesan tegas pemerintah dalam melakukan pemberantasan terorisme di hadapan mereka, para pendukung ISIS," kata Direktur The Islah Center sekaligus pengamat terorisme Mujahidin Nur di Jakarta, Senin (21/5).

Hal itu, kata dia, sekaligus meminimalisasi risiko penyebaran ajaran dibandingkan ketika terpidana tersebut masih masih bebas atau leluasa menyebarkan ajarannya.

Mujahidin berpendapat sampai saat ini kelompok teroris (ISIS) adalah kelompok yang bergerak dengan tumpuan ideologi, bukan pada ketokohan atau kepemimpinan individu tertentu, misalnya, Aman Abdurrahman. Sebab, lanjut dia, ideologi sebagai tumpuan pegerakan mereka (pemikiran takfiriyah/pengkafiran) yang disebarkan oleh Aman sudah masif tersebar ke seluruh jaringan atau kelompoknya.

"Walaupun ISIS Indonesia miskin pemimpin yang mempunyai 'skill' lapangan dan keilmuan seperti Aman Abdurrahman, tapi vonis mati pada Aman Abdurahman hemat saya tidak akan mempunyai pengaruh signifikan pada pelemahan jaringan terorisme di Indonesia," tuturnya, dikutip Antara.

Meski begitu hal tersebut berdampak positif untuk jangka pendek karena pendukung ISIS Indonesia kehilangan figur yang mempunyai keilmuan dan kepemimpinan seperti Aman.

Ia menegaskan, vonis mati pada pemimpin kelompok teroris akan efektif menghentikan terorisme dilihat dari dua variabel yakni pertama, apabila pemimpin teroris tersebut mempunyai pengaruh kepemimpan atau karisma yang kuat di tengah pengikutnya. Kedua, tentu saja hal ini berlaku untuk kelompok teroris yang mempunyai sedikit anggota dan benar-benar menjadikan pemimpin sebagai tumpuan pegerakan mereka maka vonis mati ini akan menjadi efektif.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com