Rabu, 15 Agustus 2018 | 12:20 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

Perempuan / Emansipasi

Mengejar mimpi yang belum tentu datang 2 kali

Fransiska Dimitri & Mathilda penakluk 7 puncak dunia

Senin, 21 Mei 2018 - 16:59 WIB    |    Penulis : Widodo    |    Editor : Administrator
Sang Merah Putih di puncak dunia
Sang Merah Putih di puncak dunia

Elshinta.com 

Di antara hiruk-pikuk berita tentang bom Surabaya dan Sidoarjo, dua sosok wanita hebat Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dewi Lestari memberikan kabar menggembirakan. Mereka berhasil menakhlukkan puncak tertinggi Everest, pada Kamis, 17 Mei 2018, pukul 05.50 waktu Kathmandu atau 07.05 WIB.

Atas prestasi ini Presiden Joko Widodo mencuitkan pujian pada akun twitternya. Indonesia berbangga atas prestasi Fransiska Dimitri dan Mathilda Dewi Lestari yang telah berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak  Gunung Everest. Dua srikandi yang telah menaklukkan 7 puncak dunia. Luar biasa - Jkw

Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dewi Lestari merupakan pendaki wanita yang tergabung dalam Seven Summit Expedition. Keduanya mahasiswa tingkat akhir Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Keberhasilan itu sekaligus menggenapi niat Fransiska dan Mathilda mencapai target pendakian sebelum lulusan sarjana.

Everest mempunyai ketinggian 8.848 mdpl. Sementara ketinggian di atas 8.000 mdpl seperti disebutkan The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala – Universitas Parahyangan (WISSEMU), Bandung, merupakan death zone, yakni wilayah dengan kadar oksigen rendah dan ketinggian yang terbilang ektrim bagi tubuh manusia.

Kadar oksigen yang tersedia di zona kematian tak lebih dari 30% jika dibanding dengan kadar oksigen pada dataran rendah. Setiap pendaki juga mempunyai tenggat waktu yang berbeda-beda dalam bertahan pada kondisi oksigen minim. Tabung oksigen merupakan peralatan yang sangat disarankan jika ingin selamat mencapai death zone.

WISSEMU menyebut pada keadaan di lingkungan seperti itu, hal kecil bisa berdampak besar dan berujung kematian. Beberapa pendaki meninggal hanya karena tertidur saat pendakian. Di zona itu, para pendaki diperingatkan tidak lebih dari 24 jam dan kabarnya, sudah ada 300 mayat pendaki di death zone.

Everest merupakan puncak ke-7 yang berhasil ditaklukkan. Sebelumnya Februari 2018 mereka berhasil memuncaki gunung Aconcagua di Argentina yang merupakan puncak tertinggi di benua Amerika. Sukses pendakian ini sekaligus menjadi penanda 7 bendera Indonesia tertancap dan berkibar di 7 puncak tertinggi di dunia.

Tak banyak orang tua yang akan dengan mudah memberikan ijin kepada anaknya jika ingin mendaki gunung atau masuk dalam organisasi pendaki gunung. Apalagi kepada seorang anak perempuan. Orang tua cenderung memberi rekomen pada kegiatan luar sekolah yang mudah, aman dan nyaman.

Namun berbeda dengan Fransiska, perempuan yang biasa dipanggil Deedee itu tidak menemui banyak kesulitan soal hobinya mencintai alam dengan menjadi pendaki. Orang tua Deedee sudah lebih dulu akrab dengan alam. Ayahnya, Tamto Inkiriwang sejak SMA sudah masuk Wanadri.

Dua kakak Deedee semuanya pencinta alam, bahkan kakak tertuanya sejak SMA sudah masuk Sabhawana dan disusul kakak yang berikutnya, saat kuliah di Universitas Parahyangan pun gabung di Mahitala. Sebaliknya dengan Deedee, saat SMA ia masuk Tarakanita, di sana tidak ada organisasi pencinta alam.

Ketika Deedee masuk Universitas Parahyangan jurusan Hubungan Internasional, kedua kakaknya menyembunyikan identitas adik bungsu dari kedua orang tua mereka. Mereka kompak merahasiakan Deedee yang mengikuti jejak kedua kakaknya mencintai alam dengan menjadi pendaki serta masuk jadi anggota Mahitala.

Kelahiran di Jakarta 4 Oktober. Deedee mengaku tak menyangka dirinya menjadi salah satu summiteers wanita Indonesia. Namun nama Dimitri yang disematkan oleh ayahnya, seperti memberinya arah. Dimitri artinya kekasih bumi, dari mitologi Yunani, membesarkan anak perempuan pecinta gunung. 

Masa kecil Deedee diisi berbagai kegiatan dan bahkan berhasil meraih prestasi di antaranya juara tari pendet, juara cheerleaders, bahkan juara futsal. “Waktu jadi cheerleaders, aku jadi base yang paling bawah yang buat ngangkat-ngangkat orang,” katanya seperti dilansir mapalaptm.com.  

Namun tak hanya alam yang membuat Deedee semangat dalam menjalani hari, ia juga suka mengapresiasi seni. Pramoedya Ananta Toer menjadi salah satu inspirasinya mengharumkan nama Indonesia, selain penulis dari manca negara. Begitu juga dengan kedua kakaknya, yang menurutnya sabar, pintar, galak namun selalu sayang pada dirinya.

Ibunya, tak pernah lelah memberinya suport, dan yang paling memberinya pengaruh untuk mendaki tujuh puncak dunia sebagai ketua ekspedisi tak lain dan tak bukan ialah sang ayah yang di masa mudanya seorang pencinta alam Nusantara.

Beda Deedee dengan Mathilda Dwi Lestari yang biasa dipanggil Hilda, orang tua Hilda sebelumnya tidak merestui keinginan Hilda. Namun Hilda sudah bertekad ikut menapaki tujuh puncak tertinggi di dunia, bahkan sejak lebih dari 3 tahun lalu. “Everest adalah gunung tertinggi di dunia. Ada rasa takut sekaligus exited juga,” katanya seperti dilansir IDN Times.

Dari tujuh puncak yang berhasil ditaklukkan, Everest (Nepal), Cartenz Pyramid (Papua, Indonesia), Vinson Massif (Antartika), Aconcagua (Argentina), Elbrus (Rusia), Denali (Alaska), dan Kilimanjaro (Afrika), bagi Hilda pendakian yang paling berkesan adalah Denali, Alaska.

Menurutnya Denali bikin jiper setiap hari. Selain medannya curam, di Denali harus melewati medan glacier, lapisan es yang telah tertimbun ratusan bahkan ribuan tahun dan tidak saling terhubung. Di antara glacier ada rekahan yang disebut crevasse. Di musim dingin crevasse tertutup lapisan salju sehingga bisa dilewati.

Namun pada perjalanan pulang dan suhu mulai menghangat, lapisan salju yang tadinya menutupi crevasse mulai mencair dan crevasse mulai terlihat, tanpa bisa diduga seberapa dalamnya. Dalam perjalanan pulang, mereka menjumpai banyak crevasse sehingga harus melangkah bahkan melipir atau terpaksa mencari jalan lain jika crevasee telalu lebar.

Menjadi anak paling tua, Hilda harus memberi contoh dan bertanggung jawab kepada adik-adiknya. Orang tua Hilda seperti kebanyakan orang tua lainnya, Hilda juga diharapkan kuliah, lulus kemudian bekerja. Namun Hilda orangnya nekat. Ia ikut pecinta alam di kampus Mahitala karena ia suka kegiatan di alam bebas dan Seven Summits menurutnya kesempatan sekali seumur hidup, dan ia pun beranikan diri minta restu.

Tak mudah untuk mendapatkan ijin dari orang tua. Hilda perlu menjelaskan semuanya, mengapa ia menyukai alam, bagaimana cara kerja Mahitala hingga prosedur keamanan dan lain-lainnya sehingga orang tua paham dan mau memberinya restu. Namun Hilda berhasil meyakinkan ortunya apa yang ia lakukan semata-mata hal yang positif.

“Bermimpilah setinggi-tingginya, dan jangan mudah menyerah untuk mewujudkannya.” Itulah nasihat dari Hilda. Ia yakin akan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Jika perempuan punya prestasi, laki-laki harus mendukung dan sebaliknya. Hilda mengaku banyak di antara mimpi-mimpi kecilnya yang sudah terwujud. Mengutip Rhonda Byrne dalam bukunya Secret, Hilda percaya semesta akan bekerja untuknya menggapai mimpi-mimpi yang belum tercapai, salah satunya yakni “Aku ingin tinggal di New York”.

 

 

 

 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 15 Agustus 2018 - 12:19 WIB

Menteri PUPR percepat pemulihan Lombok

Film | 15 Agustus 2018 - 12:10 WIB

`Rompis`, film romantisme remaja dibumbui komedi

Aktual Dalam Negeri | 15 Agustus 2018 - 12:02 WIB

Wayan Jondra terpilih pimpin KPU Bali

Hukum | 15 Agustus 2018 - 11:54 WIB

KPK periksa wakil bendahara DPP PKB

Megapolitan | 15 Agustus 2018 - 11:46 WIB

Anies uji coba lintasan sepeda Jakarta International Velodrome

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Sabtu, 04 Agustus 2018 - 19:45 WIB

Risiko jika perempuan tak gunakan tisu di toilet

Jumat, 03 Agustus 2018 - 09:26 WIB

Tips jitu menghilangkan bibir hitam secara alami

Senin, 21 Mei 2018 - 16:59 WIB
Mengejar mimpi yang belum tentu datang 2 kali

Fransiska Dimitri & Mathilda penakluk 7 puncak dunia

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com