Senin, 22 Oktober 2018 | 09:35 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Luar Negeri / Diaspora

Diaspora Indonesia ciptakan beras berprotein tinggi

Kamis, 24 Mei 2018 - 15:45 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Herry dan Ida Utomo penemu beras Cahokia. Sumber foto: https://bit.ly/2GLleed
Herry dan Ida Utomo penemu beras Cahokia. Sumber foto: https://bit.ly/2GLleed

Elshinta.com - Dua diaspora Indonesia di Louisiana, Amerika Serikat, Herry dan Ida Utomo, berhasil menciptakan beras berprotein tinggi.

Dalam keterangan pers yang dihimpun Antara di Jakarta, Kamis (24/5), dijelaskan bahwa beras yang diberi nama Cahokia telah terbukti mengandung 50 persen lebih banyak protein dibanding beras pada umumnya. Beras bulir panjang umumnya mengandung empat gram protein setiap hidangan, tetapi beras Cahokia mengandung enam gram protein yang juga ditujukan untuk mengatasi malnutrisi.

"Ada ratusan juta orang di seluruh dunia yang bergantung pada nasi dan memakannya tiga kali per hari, tetapi kadang mereka tidak dapat asupan protein yang cukup karena kelangkaan atau tidak mampu membeli daging. Saya pikir jika kita dapat meningkatkan kandungan protein beras, itu dapat membantu mengatasi masalah gizi buruk yang serius," kata Ida Utomo.

Beras Cahokia telah lolos paten, pertama kali berhasil dikembangkan di dunia, dan kini mulai dijual ke publik melalui berbagai pasar swalayan oleh perusahaan di AS. Beras ini sudah masuk panen kelima dengan hasil yang bagus serta tingkat protein yang konsisten.

Selain kandungan protein tinggi, kadar karbohidrat di beras Cahokia pada dasarnya tidak berubah. Cahokia memiliki indeks glisemik (IG) yang lebih rendah dibanding beras lain pada umumnya. Karbohidrat dari beras Cahokia berubah menjadi gula lebih lambat daripada beras biasa sehingga bagi para penderita diabetes, beras dengan IG lebih rendah seperti Cahokia lebih aman untuk dikonsumsi.

"Tidak ada perubahan teknis dalam budidaya padi berkadar protein tinggi ini. Artinya, tanpa mengeluarkan biaya tambahan maka dari tiap satu hektar yang ditanami Cahokia akan diperoleh 150 kilogram ekstra protein murni," kata Herry Utomo.

Protein tambahan ini setara dengan 550 kilogram daging atau 4.500 liter susu. Dengan total areal produksi beras AS sebesar 1,8 juta hektar, maka padi berkadar protein tinggi ini akan membantu menghasilkan tambahan 0.23 juta ton protein murni setiap kali tanam.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 09:26 WIB

PKS Komitmen kawal moral partai dan kader

Ekonomi | 22 Oktober 2018 - 09:18 WIB

Adobsi teknologi dorong peningkatan DPK Bank Pasar

Badminton | 22 Oktober 2018 - 09:07 WIB

Kevin-Marcus `Minions` akhirnya juarai Denmark Terbuka

Event | 22 Oktober 2018 - 08:55 WIB

Indra Sjafri yakin timnas Indonesia bisa bangkit

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 08:43 WIB

Pakar komunikasi ajak netizen deteksi berita hoax

Musibah | 22 Oktober 2018 - 08:34 WIB

Wakil Bupati Pasaman Barat tinjau lokasi banjir

Elshinta.com - Dua diaspora Indonesia di Louisiana, Amerika Serikat, Herry dan Ida Utomo, berhasil menciptakan beras berprotein tinggi.

Dalam keterangan pers yang dihimpun Antara di Jakarta, Kamis (24/5), dijelaskan bahwa beras yang diberi nama Cahokia telah terbukti mengandung 50 persen lebih banyak protein dibanding beras pada umumnya. Beras bulir panjang umumnya mengandung empat gram protein setiap hidangan, tetapi beras Cahokia mengandung enam gram protein yang juga ditujukan untuk mengatasi malnutrisi.

"Ada ratusan juta orang di seluruh dunia yang bergantung pada nasi dan memakannya tiga kali per hari, tetapi kadang mereka tidak dapat asupan protein yang cukup karena kelangkaan atau tidak mampu membeli daging. Saya pikir jika kita dapat meningkatkan kandungan protein beras, itu dapat membantu mengatasi masalah gizi buruk yang serius," kata Ida Utomo.

Beras Cahokia telah lolos paten, pertama kali berhasil dikembangkan di dunia, dan kini mulai dijual ke publik melalui berbagai pasar swalayan oleh perusahaan di AS. Beras ini sudah masuk panen kelima dengan hasil yang bagus serta tingkat protein yang konsisten.

Selain kandungan protein tinggi, kadar karbohidrat di beras Cahokia pada dasarnya tidak berubah. Cahokia memiliki indeks glisemik (IG) yang lebih rendah dibanding beras lain pada umumnya. Karbohidrat dari beras Cahokia berubah menjadi gula lebih lambat daripada beras biasa sehingga bagi para penderita diabetes, beras dengan IG lebih rendah seperti Cahokia lebih aman untuk dikonsumsi.

"Tidak ada perubahan teknis dalam budidaya padi berkadar protein tinggi ini. Artinya, tanpa mengeluarkan biaya tambahan maka dari tiap satu hektar yang ditanami Cahokia akan diperoleh 150 kilogram ekstra protein murni," kata Herry Utomo.

Protein tambahan ini setara dengan 550 kilogram daging atau 4.500 liter susu. Dengan total areal produksi beras AS sebesar 1,8 juta hektar, maka padi berkadar protein tinggi ini akan membantu menghasilkan tambahan 0.23 juta ton protein murni setiap kali tanam.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com