Rabu, 17 Oktober 2018 | 07:01 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kuliner

Kuliner langka Bengkulu kembali hadir selama Ramadan

Jumat, 25 Mei 2018 - 16:25 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Bubur sekoi. Sumber foto: https://bit.ly/2GOGAYj
Bubur sekoi. Sumber foto: https://bit.ly/2GOGAYj

Elshinta.com - Beragam kuliner langka seperti bubur sekoi dari biji jewawut dan bubur perenggi dari labu kuning yang muncul saat bulan Ramadhan, diminati masyarakat Kota Bengkulu sebagai penganan berbuka puasa.

"Kami sengaja menyajikan kuliner yang unik, khas dan sudah jarang dijual atau langka, dan sangat diminati masyarakat," kata pemilik kedai Kopi Sle, Bagus di Bengkulu, Jumat (25/5).

Ia mengatakan beraneka ragam menu berbuka puasa yang dijual di kedai tersebut mengandalkan pangan lokal sebagai bahan baku. Selain biji jewawut atau dalam bahasa Suku Serawai Bengkulu disebut dawai, ia juga menyediakan bubur berbahan dasar sukun.

"Biji jewawut atau bubur sekoi kami campur dengan pisang jantan sehingga ada rasa asam sebagai penyeimbang," ucapnya.

Bagus mengatakan selain kaya vitamin, makanan berbahan baku lokal tersebut juga mulai tersingkir dari jajaran kuliner lokal. Lewat momen Ramadan, kata dia, menu-menu yang sebelumnya akrab dengan perut masyarakat Bengkulu kembali diperkenalkan dengan harga yang sangat terjangkau yakni Rp5.000 per porsi.

"Dari sisi rasa dan kandungan gizinya sama sekali tidak kalah tapi semakin ditinggalkan karena beberapa faktor, termasuk kalah bersaing," kata dia, dikutip Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Sepakbola | 17 Oktober 2018 - 06:29 WIB

Timnas Indonesia vs Hong Kong imbang, ini pengakuan Bima Sakti

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 01:23 WIB

Gempa guncang Sumba Barat Daya dan Badung Bali

Bencana Alam | 16 Oktober 2018 - 21:57 WIB

BPBD: Dampak kekeringan Gunung Kidul meluas

Elshinta.com - Beragam kuliner langka seperti bubur sekoi dari biji jewawut dan bubur perenggi dari labu kuning yang muncul saat bulan Ramadhan, diminati masyarakat Kota Bengkulu sebagai penganan berbuka puasa.

"Kami sengaja menyajikan kuliner yang unik, khas dan sudah jarang dijual atau langka, dan sangat diminati masyarakat," kata pemilik kedai Kopi Sle, Bagus di Bengkulu, Jumat (25/5).

Ia mengatakan beraneka ragam menu berbuka puasa yang dijual di kedai tersebut mengandalkan pangan lokal sebagai bahan baku. Selain biji jewawut atau dalam bahasa Suku Serawai Bengkulu disebut dawai, ia juga menyediakan bubur berbahan dasar sukun.

"Biji jewawut atau bubur sekoi kami campur dengan pisang jantan sehingga ada rasa asam sebagai penyeimbang," ucapnya.

Bagus mengatakan selain kaya vitamin, makanan berbahan baku lokal tersebut juga mulai tersingkir dari jajaran kuliner lokal. Lewat momen Ramadan, kata dia, menu-menu yang sebelumnya akrab dengan perut masyarakat Bengkulu kembali diperkenalkan dengan harga yang sangat terjangkau yakni Rp5.000 per porsi.

"Dari sisi rasa dan kandungan gizinya sama sekali tidak kalah tapi semakin ditinggalkan karena beberapa faktor, termasuk kalah bersaing," kata dia, dikutip Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 16 Oktober 2018 - 17:58 WIB

Jenis kanker pada anak selain leukemia

Minggu, 14 Oktober 2018 - 19:47 WIB

Bandung jadikan Braga sebagai kampung wisata

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com