Kamis, 18 Oktober 2018 | 00:24 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kesehatan

Masalah pernapasan jadi gangguan mayoritas jemaah haji Indonesia

Sabtu, 02 Juni 2018 - 19:35 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Sumber foto: https://bit.ly/2xxO7LP
Sumber foto: https://bit.ly/2xxO7LP

Elshinta.com - Masalah pernapasan menjadi gangguan mayoritas jemaah haji sehingga harus diantisipasi dengan saksama, kata Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia Madinah Yanuar Fajar.

"Kebiasaan merokok menjadi pemicu timbulnya gangguan saluran pernapasan ditambah iklim dan cuaca di Arab Saudi sangat berbeda dengan di Indonesia," kata dia di Jakarta, Sabtu (2/6).

Pada musim haji 2017, lebih dari 50 persen jemaah haji terkena masalah kesehatan saluran pernapasan, seperti asma, Pneumonia, Bronchitis, dan Tuberkolusi. Dengan kondisi tersebut, kata dokter spesialis paru-paru itu, harus melakukan berbagi kiat agar jamaah haji dapat terus bugar tanpa gangguan kesehatan pernapasan saat menunaikan rukun Islam kelima itu.

Berbagai kiat itu, kata dia, membuat sirkulasi udara yang baik di pemondokan, jemaah agar membuka jendela pondok pada pagi hari agar udara berganti.

"Cukup buka jendela hingga pukul tujuh pagi waktu setempat dan biarkan udara segar dari luar masuk ke kamar," kata dia.

Selain itu, kata dia, jamaah menghentikan kebiasaan merokok. Sebelum keberangkatan sampai selesai proses ibadah haji, kata dia, jemaah agar secara bertahap mengurangi kebiasaan merokok. Menurut dia, merokok dapat memperparah kondisi gangguan pernapasan. Sebaliknya, menghentikan kebiasaan merokok bisa membantu jamaah berada dalam kondisi kesehatan yang baik saat melaksanakan ibadah haji.

Yanuar menyarankan jamaah untuk menjaga pola makan, istirahat, dan minum yang cukup di Arab Saudi. Terlebih di Arab Saudi memiliki kondisi alam, iklim, dan cuaca yang berbeda dengan di Indonesia. Selain itu, kata dia, jamaah agar membawa obat-obatan pribadi sesuai kebutuhannya masing-masing.

"Karena dalam beberapa kasus bisa saja obat pribadi jamaah itu tidak tersedia di Arab Saudi," katanya, dikutip Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Timnas Indonesia | 17 Oktober 2018 - 21:34 WIB

Indra Sjafri: Saya tidak perlu `striker` asal...

Aktual Dalam Negeri | 17 Oktober 2018 - 21:23 WIB

Menhub segera kaji penerapan `panic button` taksi online

Peluang | 17 Oktober 2018 - 21:15 WIB

Langkah-langkah membuka TK atau PAUD

Hukum | 17 Oktober 2018 - 20:55 WIB

Menhub tegaskan akan atur taksi online

Arestasi | 17 Oktober 2018 - 20:47 WIB

Satreskrim Polres Langkat ringkus penjual togel

Elshinta.com - Masalah pernapasan menjadi gangguan mayoritas jemaah haji sehingga harus diantisipasi dengan saksama, kata Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia Madinah Yanuar Fajar.

"Kebiasaan merokok menjadi pemicu timbulnya gangguan saluran pernapasan ditambah iklim dan cuaca di Arab Saudi sangat berbeda dengan di Indonesia," kata dia di Jakarta, Sabtu (2/6).

Pada musim haji 2017, lebih dari 50 persen jemaah haji terkena masalah kesehatan saluran pernapasan, seperti asma, Pneumonia, Bronchitis, dan Tuberkolusi. Dengan kondisi tersebut, kata dokter spesialis paru-paru itu, harus melakukan berbagi kiat agar jamaah haji dapat terus bugar tanpa gangguan kesehatan pernapasan saat menunaikan rukun Islam kelima itu.

Berbagai kiat itu, kata dia, membuat sirkulasi udara yang baik di pemondokan, jemaah agar membuka jendela pondok pada pagi hari agar udara berganti.

"Cukup buka jendela hingga pukul tujuh pagi waktu setempat dan biarkan udara segar dari luar masuk ke kamar," kata dia.

Selain itu, kata dia, jamaah menghentikan kebiasaan merokok. Sebelum keberangkatan sampai selesai proses ibadah haji, kata dia, jemaah agar secara bertahap mengurangi kebiasaan merokok. Menurut dia, merokok dapat memperparah kondisi gangguan pernapasan. Sebaliknya, menghentikan kebiasaan merokok bisa membantu jamaah berada dalam kondisi kesehatan yang baik saat melaksanakan ibadah haji.

Yanuar menyarankan jamaah untuk menjaga pola makan, istirahat, dan minum yang cukup di Arab Saudi. Terlebih di Arab Saudi memiliki kondisi alam, iklim, dan cuaca yang berbeda dengan di Indonesia. Selain itu, kata dia, jamaah agar membawa obat-obatan pribadi sesuai kebutuhannya masing-masing.

"Karena dalam beberapa kasus bisa saja obat pribadi jamaah itu tidak tersedia di Arab Saudi," katanya, dikutip Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com