Senin, 15 Oktober 2018 | 16:40 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Olahraga / Aktual Olahraga

Tolak setoran 25 persen bonus, atlet paralimpik gugat NPCI Jabar

Rabu, 06 Juni 2018 - 20:36 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
Atlet paralimpik gugat NPCI Jabar. Foto: Nico A/Elshinta.
Atlet paralimpik gugat NPCI Jabar. Foto: Nico A/Elshinta.

Elshinta.com - Sebanyak 6 atlet paralimpik nasional yang tergabung dalam Forum Atlet Disabilitas menggugat National Paralympic Commitee Indonesia (NPCI) Jawa Barat. Salah seorang atlet paralimpik nasional, Farid Surdin saat wawancara live di Radio Elshinta Bandung via telepon, Rabu (6/6) siang, mengungkapkan masalahnya berawal dari Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XVI tahun 2016. Menurut Farid rekan-rekannya yang merebut medali di Peparnas XVI dan mendapat bonus dari pemerintah, berinisiatif tidak menyetorkan 25 persen tersebut kepada NPCI Jabar. Farid beralasan penggunaan dana 25 persen tersebut selama ini tidak jelas.

"Ketika teman-teman juara di Peparnas 2016 dan kita mendapatkan bonus ( kadeudeh ) dari pemerintah, kami berinisiatif tidak menyetorkan, soalnya penggunaan dana 25 persen tersebut tidak jelas," tegas Farid.

Farid menambahkan atlet paralimpik diwajibkan oleh AD/ART NPCI pusat untuk berkontribusi sebesar 25 persen dari bonus yang diterima. Hal itu kata Farid sudah berlangsung lama sejak Peparnas tahun 2008 dan 2012. 

Menurut Farid para pengurus NPCI Jabar berargumen bahwa dana 25 persen itu dipergunakan untuk kepentingan organisasi, untuk sarana-prasarana dan untuk atlet lain yang tidak mendapatkan medali. Namun kata Farid semua itu tidak jelas.

"Mereka bilang untuk kepentingan organisasi, sarana-prasarana, untuk atlet yang tidak mendapat medali. Tapi setelah dicek sarana-prasarana tetap seperti itu, ruang gym kita nggak punya, atlet yang tidak dapat medali juga tidak kecipratan ( bonus ). Lalu uang itu ke mana ?"

Bahkan kata Farid, saat ini karir ia dan kelima rekan atlet paralimpik lainnya yang menolak untuk menyetor 25 persen bonus, sudah dihentikan oleh NPC Jabar. 

"Kami berenam ini sudah merasakannya, karir kami sudah distop. Mulai tidak diikutsertakan dalam kejurnas, tidak diikutsertakan dalam seleknas," papar Farid yang juga adalah atlet cabor atletik.

Di kesempatan berbeda, saat dikonfirmasi Sekretaris NPCI Jabar, Elon Carlan menerangkan tidak pernah ada istilah pemotongan dana dari para atlet, yang benar adalah partisipasi yang merupakan komitmen dalam berorganisasi.

"Sebetulnya tidak pernah ada istilah pemotongan di NPCI. Kalaupun ada partisipasi, itu dari mereka dan untuk mereka. Suatu yang dari awal dikomitmenkan oleh mereka dengan organisasi yang membesarkan mereka. Saya sangat prihatin dengan kejadian ini," ujarnya saat wawancara live di Radio Elshinta Bandung.

Ketika dikonfirmasi tentang tuntutan dari Farid Surdin, Elon menjelaskan bahwa Farid adalah atlet dari NPCI Kota Tasikmalaya yang dikenal tidak pernah patuh dan tunduk kepada organisasi.

"Jejak rekam kami, Farid ini atlet yang tidak patuh dan tunduk kepada organisasi. Sebelum dapat uang mau berorganisasi, namun setelah dapat uang tidak mau lagi berorganisasi," imbuhnya.

Mengenai gugatan Forum Atlet Disabilitas, Elon mengaku siap menghadapinya. Elon mengajak semua pihak membuktikannya di pengadilan.

Kamis (7/6) besok rencananya akan berlangsung sidang gugatan kedua di Pengadilan Negeri Bandung Jl.Martadinata Kota Bandung.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Konsultasi | 15 Oktober 2018 - 16:40 WIB

Bagaimana caranya menambah pelanggan baru? 

Aktual Dalam Negeri | 15 Oktober 2018 - 16:38 WIB

PMI bangun Klinik Lapangan di lokasi gempa dan tsunami Sulteng

Elshinta.com - Sebanyak 6 atlet paralimpik nasional yang tergabung dalam Forum Atlet Disabilitas menggugat National Paralympic Commitee Indonesia (NPCI) Jawa Barat. Salah seorang atlet paralimpik nasional, Farid Surdin saat wawancara live di Radio Elshinta Bandung via telepon, Rabu (6/6) siang, mengungkapkan masalahnya berawal dari Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XVI tahun 2016. Menurut Farid rekan-rekannya yang merebut medali di Peparnas XVI dan mendapat bonus dari pemerintah, berinisiatif tidak menyetorkan 25 persen tersebut kepada NPCI Jabar. Farid beralasan penggunaan dana 25 persen tersebut selama ini tidak jelas.

"Ketika teman-teman juara di Peparnas 2016 dan kita mendapatkan bonus ( kadeudeh ) dari pemerintah, kami berinisiatif tidak menyetorkan, soalnya penggunaan dana 25 persen tersebut tidak jelas," tegas Farid.

Farid menambahkan atlet paralimpik diwajibkan oleh AD/ART NPCI pusat untuk berkontribusi sebesar 25 persen dari bonus yang diterima. Hal itu kata Farid sudah berlangsung lama sejak Peparnas tahun 2008 dan 2012. 

Menurut Farid para pengurus NPCI Jabar berargumen bahwa dana 25 persen itu dipergunakan untuk kepentingan organisasi, untuk sarana-prasarana dan untuk atlet lain yang tidak mendapatkan medali. Namun kata Farid semua itu tidak jelas.

"Mereka bilang untuk kepentingan organisasi, sarana-prasarana, untuk atlet yang tidak mendapat medali. Tapi setelah dicek sarana-prasarana tetap seperti itu, ruang gym kita nggak punya, atlet yang tidak dapat medali juga tidak kecipratan ( bonus ). Lalu uang itu ke mana ?"

Bahkan kata Farid, saat ini karir ia dan kelima rekan atlet paralimpik lainnya yang menolak untuk menyetor 25 persen bonus, sudah dihentikan oleh NPC Jabar. 

"Kami berenam ini sudah merasakannya, karir kami sudah distop. Mulai tidak diikutsertakan dalam kejurnas, tidak diikutsertakan dalam seleknas," papar Farid yang juga adalah atlet cabor atletik.

Di kesempatan berbeda, saat dikonfirmasi Sekretaris NPCI Jabar, Elon Carlan menerangkan tidak pernah ada istilah pemotongan dana dari para atlet, yang benar adalah partisipasi yang merupakan komitmen dalam berorganisasi.

"Sebetulnya tidak pernah ada istilah pemotongan di NPCI. Kalaupun ada partisipasi, itu dari mereka dan untuk mereka. Suatu yang dari awal dikomitmenkan oleh mereka dengan organisasi yang membesarkan mereka. Saya sangat prihatin dengan kejadian ini," ujarnya saat wawancara live di Radio Elshinta Bandung.

Ketika dikonfirmasi tentang tuntutan dari Farid Surdin, Elon menjelaskan bahwa Farid adalah atlet dari NPCI Kota Tasikmalaya yang dikenal tidak pernah patuh dan tunduk kepada organisasi.

"Jejak rekam kami, Farid ini atlet yang tidak patuh dan tunduk kepada organisasi. Sebelum dapat uang mau berorganisasi, namun setelah dapat uang tidak mau lagi berorganisasi," imbuhnya.

Mengenai gugatan Forum Atlet Disabilitas, Elon mengaku siap menghadapinya. Elon mengajak semua pihak membuktikannya di pengadilan.

Kamis (7/6) besok rencananya akan berlangsung sidang gugatan kedua di Pengadilan Negeri Bandung Jl.Martadinata Kota Bandung.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com