Senin, 22 Oktober 2018 | 00:46 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

Bimanesh yakin Novanto harus dirawat saat kecelakaan

Kamis, 07 Juni 2018 - 16:45 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Sigit Kurniawan
Tersangka kasus dugaan perintangan penyidikan korupsi KTP elektronik atas terpidana Setya Novanto. Sumber foto: https://bit.ly/2kXEbSR
Tersangka kasus dugaan perintangan penyidikan korupsi KTP elektronik atas terpidana Setya Novanto. Sumber foto: https://bit.ly/2kXEbSR

Elshinta.com - Dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutardjo meyakini bahwa mantan Ketua DPR Setya Novanto sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit tersebut.

"Pasien menurut saya perlu dirawat karena hipertensi berat, tekanan darahnya 180/110 dan dapat menimbulkan kerusakan organ. Saya harus menurunkan tensinya karena risiko stroke sangat besar, dan bisa juga buta, jantung maupun gagal ginjal maka saya kasih obat," kata Bimanesh dalam sidang pemeriksaan terdakwa di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (7/6).

Dilansir dari Antara, saat itu, Bimanesh merasa perlu memberikan infus kepada Novanto karena dirinya ingin memberikan obat penghilang rasa nyeri, sebab tekanan darah sangat dipengaruhi faktor emosional.

Selain itu, Bimanesh menjelaskan bahwa yang memasukkan Novanto ke lantai 3 RS Permata Hijau bukan dirinya, melainkan dokter penanggung jawab di UGD yaitu Michael Chia Cahaya. Bimanesh mengaku ia agak merasa aneh dengan kondisi Setnov saat masuk karena dibawa dibawa dengan tergesa-gesa, kepalanya juga dibebat.

"Selama 38 tahun saya bekerja, saya baru lihat ini. Keanehan kedua saya lihat yang mendorong pasien itu justru bukan suster, melainkan sopir ambulans, satpam dan ajudannya yang berpakaian putih, karena kalau sesuai SOP kan seharusnya semua itu ditangani suster, justru saat datang itu tidak ada suster yang mendorong," ungkap Bimanesh.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Ekonomi | 21 Oktober 2018 - 22:22 WIB

Jelang sidang tahunan ICCIA, ISABC dan SAIBC gelar pertemuan

Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 21:35 WIB

Menag: Hari Santri Nasional bentuk pengakuan negara

Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 21:29 WIB

Soekarwo: Tunggu 27 Oktober kepastian Suramadu gratis

Bencana Alam | 21 Oktober 2018 - 21:12 WIB

Desa Salua Kabupaten Sigi diterjang banjir

Arestasi | 21 Oktober 2018 - 20:35 WIB

10 pelajar pelaku tawuran tewaskan Rizky dibekuk

Elshinta.com - Dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutardjo meyakini bahwa mantan Ketua DPR Setya Novanto sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit tersebut.

"Pasien menurut saya perlu dirawat karena hipertensi berat, tekanan darahnya 180/110 dan dapat menimbulkan kerusakan organ. Saya harus menurunkan tensinya karena risiko stroke sangat besar, dan bisa juga buta, jantung maupun gagal ginjal maka saya kasih obat," kata Bimanesh dalam sidang pemeriksaan terdakwa di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (7/6).

Dilansir dari Antara, saat itu, Bimanesh merasa perlu memberikan infus kepada Novanto karena dirinya ingin memberikan obat penghilang rasa nyeri, sebab tekanan darah sangat dipengaruhi faktor emosional.

Selain itu, Bimanesh menjelaskan bahwa yang memasukkan Novanto ke lantai 3 RS Permata Hijau bukan dirinya, melainkan dokter penanggung jawab di UGD yaitu Michael Chia Cahaya. Bimanesh mengaku ia agak merasa aneh dengan kondisi Setnov saat masuk karena dibawa dibawa dengan tergesa-gesa, kepalanya juga dibebat.

"Selama 38 tahun saya bekerja, saya baru lihat ini. Keanehan kedua saya lihat yang mendorong pasien itu justru bukan suster, melainkan sopir ambulans, satpam dan ajudannya yang berpakaian putih, karena kalau sesuai SOP kan seharusnya semua itu ditangani suster, justru saat datang itu tidak ada suster yang mendorong," ungkap Bimanesh.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com