Jumat, 19 Oktober 2018 | 15:03 WIB

Daftar | Login

MacroAd

IPTEK / Aktual IPTEK

Facebook akui berbagi data dengan perusahaan-perusahaan China

Rabu, 06 Juni 2018 - 23:10 WIB    |    Penulis : Administrator    |    Editor : Administrator
Markas Facebook di Menlo Park, Silicon Valley (VOA/Vina).
Markas Facebook di Menlo Park, Silicon Valley (VOA/Vina).

Elshinta.com - Facebook mengakui memiliki kesepakatan berbagi data dengan empat perusahaan teknologi China, termasuk perusahaan yang dianggap ancaman bagi keamanan nasional oleh komunitas intelijen AS. Pengakuan raksasa media sosial AS ini menimbulkan keprihatinan baru mengenai penanganan informasi pribadi konsumennya.

Pengakuan Facebook hari Selasa (5/6), muncul dua hari setelah harian The New York Times mengungkapkan bahwa Facebook telah menjalin kesepakatan berbagai data khusus dengan 60 produsen peralatan elektronik -- termasuk Huawei, Lenovo, OPPO dan TCL – untuk mempermudah para pengguna Facebook mengakses akun mereka di berbagai peralatan.

Para pejabat intelijen AS telah bertahun-tahun mengungkapkan kekhwatiran mereka mengenai Huawei. Mereka khawatir pemerintah China akan menuntut akses ke data yang tersimpan di peralatan atau server Huawei. Kekhawatiran ini telah mendorong militer AS melarang penjualan dan penggunaan ponsel pintar Huawei di pangkalan-pangkalan mereka.

Francisco Varela, wakil presiden kemitraan Facebook, mengatakan, Selasa, kesepakatan berbagai data dengan Huawei dan perusahaan-perusahaan China lainnya telah diawasi sejak awal.

Facebook mendapat kecaman keras setelah terungkap bahwa informasi pribadi puluhan juta pengguna raksasa media sosial itu diakses perusahaan konsultan berbasis di Inggris Cambridge Analytica. Facebook juga dikecam setelah terungkap pada September lalu bahwa sejumlah orang Rusia, dengan menggunakan nama palsu, memanfaatkan media sosial itu untuk mempengaruhi para pemilih menjelang pemilu presiden AS 2016.

Komisi Perdagangan Federal AS kini sedang menyelidiki apakah Facebook melanggar kesepakatan tahun 2011 yang menyatakan Facebook telah menyesatkan konsumennya terkait kebijjkan-kebijakan pengunan data. (VOA Indonesia)

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 14:55 WIB

Pemerintah negosiasi ulang soal pesawat tempur KFX/IFX

Bencana Alam | 19 Oktober 2018 - 14:44 WIB

Uni Eropa salurkan 22 juta dolar AS untuk korban bencana Sulteng

Megapolitan | 19 Oktober 2018 - 14:33 WIB

Ketua MPR minta lapangan tembak Senayan dibuat tertutup

Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 14:22 WIB

ASEAN berkomitmen jaga stabilitas kawasan

Kriminalitas | 19 Oktober 2018 - 14:10 WIB

Terungkap, pencurian modus debt collector di Tangerang

Elshinta.com - Facebook mengakui memiliki kesepakatan berbagi data dengan empat perusahaan teknologi China, termasuk perusahaan yang dianggap ancaman bagi keamanan nasional oleh komunitas intelijen AS. Pengakuan raksasa media sosial AS ini menimbulkan keprihatinan baru mengenai penanganan informasi pribadi konsumennya.

Pengakuan Facebook hari Selasa (5/6), muncul dua hari setelah harian The New York Times mengungkapkan bahwa Facebook telah menjalin kesepakatan berbagai data khusus dengan 60 produsen peralatan elektronik -- termasuk Huawei, Lenovo, OPPO dan TCL – untuk mempermudah para pengguna Facebook mengakses akun mereka di berbagai peralatan.

Para pejabat intelijen AS telah bertahun-tahun mengungkapkan kekhwatiran mereka mengenai Huawei. Mereka khawatir pemerintah China akan menuntut akses ke data yang tersimpan di peralatan atau server Huawei. Kekhawatiran ini telah mendorong militer AS melarang penjualan dan penggunaan ponsel pintar Huawei di pangkalan-pangkalan mereka.

Francisco Varela, wakil presiden kemitraan Facebook, mengatakan, Selasa, kesepakatan berbagai data dengan Huawei dan perusahaan-perusahaan China lainnya telah diawasi sejak awal.

Facebook mendapat kecaman keras setelah terungkap bahwa informasi pribadi puluhan juta pengguna raksasa media sosial itu diakses perusahaan konsultan berbasis di Inggris Cambridge Analytica. Facebook juga dikecam setelah terungkap pada September lalu bahwa sejumlah orang Rusia, dengan menggunakan nama palsu, memanfaatkan media sosial itu untuk mempengaruhi para pemilih menjelang pemilu presiden AS 2016.

Komisi Perdagangan Federal AS kini sedang menyelidiki apakah Facebook melanggar kesepakatan tahun 2011 yang menyatakan Facebook telah menyesatkan konsumennya terkait kebijjkan-kebijakan pengunan data. (VOA Indonesia)

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com