Jumat, 16 November 2018 | 19:49 WIB

Daftar | Login

MacroAd

IPTEK / Hardware

NASA luncurkan satelit pencari exoplanet

Jumat, 20 April 2018 - 17:14 WIB    |    Penulis : Administrator    |    Editor : Administrator
NASA meluncurkan Rocket SpaceX Falcon 9 yang membawa satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) dari Cape Canaveral di Florida, Rabu (18/4).
NASA meluncurkan Rocket SpaceX Falcon 9 yang membawa satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) dari Cape Canaveral di Florida, Rabu (18/4).

Elshinta.com - Pencarian planet-planet baru yang mungkin bisa didiami di luar sistem matahari kita telah memasuki tahapan baru ketika NASA meluncurkan satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite atau disingkat TESS hari Rabu (18/4) dari Cape Canaveral di Florida.

Para pakar dari perguruan tinggi Massachusetts Institute of Technology atau MIT, bekerja sama dengan pakar-pakar NASA dalam proyek baru ini.

Tugas satelit TESS adalah menemukan “exoplanet” yang mengorbit sebuah matahari, seperti sistem tata surya kita, dan mencari tahu apakah planet-planet itu bisa menopang kehidupan. Untuk menemukan planet-planet seperti itu, satelit TESS akan mengukur cahaya matahari atau bintang itu untuk melihat apakah ada penurunan kecerahan yang terjadi secara teratur. Kalau itu ditemukan, bisa disimpulkan, penurunan cahaya itu disebabkan adanya planet atau planet-planet yang mengorbitnya.

Sara Seager, wakil kepala bidang sains di MIT mengatakan, “Tugas satelit TESS itu adalah memantau ratusan ribu sampai satu juta bintang atau matahari untuk melihat apakah ada planet yang mengorbitnya.”

TESS akan membagi langit menjadi beberapa sektor dan mengamati tiap sektor selama 27 hari sebelum pindah ke sektor yang di sebelahnya.

“Kalau itu semua selesai dilakukan, itu berarti kita telah memantau 85 persen kawasan langit untuk mencari exoplanet,” ujar Padi Boyd, pakar astrofisika NASA.

Data yang dikumpulkan oleh TESS akan ditambahkan pada data yang telah dihimpun dari teleskop antariksa Kepler yang diluncurkan tahun 2009.

Kepler telah menemukan 2.600 exoplanet yang terletak jauh dari sistem matahari kita. TESS akan terus mencari exoplanet seperti itu selama dua tahun dalam sistem matahari yang tidak jauh dari matahari kita.

Sara Seager menambahkan, “Setelah menemukan exoplanet seperti itu, kita akan bisa mengadakan berbagai pengukuran seperti berapa bobot planet itu, apakah ada atmosfirnya, atau uap air dan mungkin juga kalau ada bentuk-bentuk kehidupan di sana.”

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 16 November 2018 - 19:47 WIB

Ini kronologis pembunuhan satu keluarga di Bekasi

Aktual SDGs | 16 November 2018 - 19:35 WIB

Perkawinan anak bawa dampak buruk terhadap SDGs

Lingkungan | 16 November 2018 - 19:24 WIB

Hadapi musim penghujan, Pemkab Kudus petakan daerah rawan banjir

Megapolitan | 16 November 2018 - 19:13 WIB

YLKI: KAI setengah hati respon pencopotan iklan rokok di stasiun

Kecelakaan | 16 November 2018 - 18:59 WIB

Tim DVI kembali identifikasi tiga korban Lion Air

Elshinta.com - Pencarian planet-planet baru yang mungkin bisa didiami di luar sistem matahari kita telah memasuki tahapan baru ketika NASA meluncurkan satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite atau disingkat TESS hari Rabu (18/4) dari Cape Canaveral di Florida.

Para pakar dari perguruan tinggi Massachusetts Institute of Technology atau MIT, bekerja sama dengan pakar-pakar NASA dalam proyek baru ini.

Tugas satelit TESS adalah menemukan “exoplanet” yang mengorbit sebuah matahari, seperti sistem tata surya kita, dan mencari tahu apakah planet-planet itu bisa menopang kehidupan. Untuk menemukan planet-planet seperti itu, satelit TESS akan mengukur cahaya matahari atau bintang itu untuk melihat apakah ada penurunan kecerahan yang terjadi secara teratur. Kalau itu ditemukan, bisa disimpulkan, penurunan cahaya itu disebabkan adanya planet atau planet-planet yang mengorbitnya.

Sara Seager, wakil kepala bidang sains di MIT mengatakan, “Tugas satelit TESS itu adalah memantau ratusan ribu sampai satu juta bintang atau matahari untuk melihat apakah ada planet yang mengorbitnya.”

TESS akan membagi langit menjadi beberapa sektor dan mengamati tiap sektor selama 27 hari sebelum pindah ke sektor yang di sebelahnya.

“Kalau itu semua selesai dilakukan, itu berarti kita telah memantau 85 persen kawasan langit untuk mencari exoplanet,” ujar Padi Boyd, pakar astrofisika NASA.

Data yang dikumpulkan oleh TESS akan ditambahkan pada data yang telah dihimpun dari teleskop antariksa Kepler yang diluncurkan tahun 2009.

Kepler telah menemukan 2.600 exoplanet yang terletak jauh dari sistem matahari kita. TESS akan terus mencari exoplanet seperti itu selama dua tahun dalam sistem matahari yang tidak jauh dari matahari kita.

Sara Seager menambahkan, “Setelah menemukan exoplanet seperti itu, kita akan bisa mengadakan berbagai pengukuran seperti berapa bobot planet itu, apakah ada atmosfirnya, atau uap air dan mungkin juga kalau ada bentuk-bentuk kehidupan di sana.”

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Jumat, 16 November 2018 - 17:38 WIB

Facebook segera bentuk badan independen konten

Kamis, 15 November 2018 - 13:42 WIB

Google Maps miliki fitur kirim pesan

Kamis, 15 November 2018 - 13:37 WIB

Instagram siapkan fitur pelacak waktu bermedia sosial

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com