Hakim tolak permintaan Fredrich keluar rutan saat Lebaran
Jumat, 08 Juni 2018 - 15:07 WIB | Penulis : Fajar Nugraha | Editor : Sigit Kurniawan
Tersangka perintangan penyidikan kasus korupsi KTP elektronik atas terdakwa Setya Novanto, Fredrich Yunadi. Sumber foto: https://bit.ly/2JBjQNk

Elshinta.com - Majelis hakim menolak permintaan advokat Fredrich Yunadi yang memohon untuk dapat keluar dari rumah tahanan (rutan) Cipinang pada hari raya Idul Fitri 2018 agar dapat sungkem ke ibunya yang sudah berusia lanjut.

"Untuk permintaan itu mohon maaf tidak bisa dipenuhi, nanti keluarga yang dari luar negeri bisa besuk ke rutan untuk bertemu saudara, kalau resmi masuk hari Kamis mungkin bisa, kalau hari raya tidak bisa kami penuhi," kata hakim Saifuddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (8/6), dikutip Antara.

Sebelumnya, Fredrich mengajukan permintaan tersebut mengingat ibunya yang sudah lanjut usia dan sudah tradisi keluarganya melakukan sungkeman ke orang tua karena dianggap berkan dari Tuhan ibunya masih ada yang tidak diketahui bisa bertahan sampai usia berapa.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Hakim Saifuddin Zuhri menjelaskan bahwa praktik dari permintaan mantan pengacara Setya Novanto tersebut tergantung penasihat umum (PU) dan pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Takdir Suhan menjelaskan bahwa pihaknya telah menanyakan kepada pihak rutan Cipinang bahwa jadwal untuk besuk pada hari raya Lebaran tetap ada. Namun, hal tersebut bukanlah maksud dari permintaan Fredrich agar ibunya yang sudah lanjut usia membesuk, melainkan pria berkumis tebal itu ingin melakukan tradisi sungkeman.

Setelah kembali menyampaikan maksudnya dan telah dipahami, Majelis Hakim lantas bermusyawarah menanggapi permintaan Fredrich yang akhirnya tidak menyetujui dirinya keluar tahanan saat Lebaran, melainkan keluarganya yang diperbolehkan membesuk sesuai jadwal di rutan.

"Kami bersumpah penuntut umum kan mendapat balasan dari Allah, insya Allah orang tuanya masih hidup," tegas Fredrich.

Fredrich Yunadi dituntut 12 tahun penjara ditambah denda Rp600 juta subsider 6 bulan kurungan karena terbukti merintangi pemeriksaan mantan Ketua DPR Setya Novanto dalam perkara korupsi KTP-Elektronik.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kamis, 17 Januari 2019 - 19:57 WIB
Elshinta.com - Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKBP Erick Frendiz...
Kamis, 17 Januari 2019 - 18:15 WIB
Elshinta.com - Bos Paramount Enterprise International, Eddy Sindoro membantah dirinya pernah be...
Kamis, 17 Januari 2019 - 14:00 WIB
Elshinta.com - Penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri wajib menjalankan penyita...
Kamis, 17 Januari 2019 - 13:06 WIB
Elshinta.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil enam saksi dalam penyidikan ka...
Kamis, 17 Januari 2019 - 10:43 WIB
Elshinta.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil lima anggota DPRD Kabupaten Be...
Kamis, 17 Januari 2019 - 07:11 WIB
Elshinta.com - Pihak kepolisian akan memanggil Ivan Gunawan untuk dimintai keterangan terk...
Rabu, 16 Januari 2019 - 21:45 WIB
Elshinta.com - Penyidik dari Polres Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkap peran te...
Rabu, 16 Januari 2019 - 21:27 WIB
Elshinta.com - Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Nusa Tenggara ...
Rabu, 16 Januari 2019 - 20:35 WIB
Elshinta.com - Malang Corruption Watch (MCW) mendesak sekaligus mempertanyakan keseriusan ...
Rabu, 16 Januari 2019 - 20:12 WIB
Elshinta.com - Kapolres Kota Depok Kombes Pol Didik Sugiarto mengungkapkan adanya kemungki...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)