Rabu, 24 Oktober 2018 | 10:58 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Luar Negeri / Aktual Luar Negeri

AS sebut Singapura di Malaysia, picu keriuhan

Rabu, 13 Juni 2018 - 10:14 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Sigit Kurniawan
Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berdiri menjelang pertemuan bilateral dalam KTT di antara kedua pemimpin di Hotel Capella di Pulau Sentosa di Singapura pada 12 June 2018. Sumber foto: https://bit.ly/2JFlmya
Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berdiri menjelang pertemuan bilateral dalam KTT di antara kedua pemimpin di Hotel Capella di Pulau Sentosa di Singapura pada 12 June 2018. Sumber foto: https://bit.ly/2JFlmya

Elshinta.com - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat keliru menyebut Singapura bagian dari negara tetangganya, Malaysia, dalam catatan sehubungan dengan temu puncak Korea Utara-AS pada Selasa dan disiarkan di lamannya, memicu tanggapan mengejek di medan gaul.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada Selasa untuk temu puncak pertama pemimpin musuh lama itu di hotel di negara kota Singapura.

Kesalahan itu muncul dalam salinan paparan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo pada Senin. Salinan itu menyebut tempat-tempat tersebut "JW Marriott, Singapura, Malaysia". Kesalahan itu kemudian diperbaiki dengan menghapus kata Malaysia. "Yah, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat masih berpikir Singapura berada di Malaysia," kata pengguna Twitter @BrioS_BRxV.

"Baru 53 tahun dan perpisahan buruk," katanya.

Pulau Singapura pernah menjadi bagian dari Malaysia tapi kemudian berpisah secara sengit pada 1965, mengaburkan diplomatik dan perekonomian selama bertahun-tahun. "Trump merencanakan memfasilitasi temu puncak penyatuan kembali Malaysia-Singapura segera?" kata pengguna Twitter lain, @boblskee. Surat kabar "Star" Malaysia melaporkan kesalahan itu di Facebook-nya dengan judul "Bagaimana menyinggung orang Singapura dan warga Malaysia pada saat bersamaan".

Muatan itu dibagikan hampir 700 kali dan menarik hampir 300 tanggapan. "Amerika Serikat harus kembali ke sekolah," kata pengguna Facebook Jimi Leong, demikian Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pertunjukan | 24 Oktober 2018 - 10:53 WIB

Susi Pudjiastuti kembali tampil di show Anne Avantie

Manajemen | 24 Oktober 2018 - 10:34 WIB

Ketahui bagaimana memisahkan uang pribadi dengan uang usaha

Liga Champions | 24 Oktober 2018 - 10:25 WIB

Dzeko aktor kemenangan 3-0 Roma atas CSKA

Kriminalitas | 24 Oktober 2018 - 10:15 WIB

JPU tuntut dua terdakwa pengeroyokan suporter Persija

Aktual Dalam Negeri | 24 Oktober 2018 - 10:09 WIB

DPRD Kalsel inginkan pelayanan kesehatan lebih baik

Elshinta.com - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat keliru menyebut Singapura bagian dari negara tetangganya, Malaysia, dalam catatan sehubungan dengan temu puncak Korea Utara-AS pada Selasa dan disiarkan di lamannya, memicu tanggapan mengejek di medan gaul.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada Selasa untuk temu puncak pertama pemimpin musuh lama itu di hotel di negara kota Singapura.

Kesalahan itu muncul dalam salinan paparan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo pada Senin. Salinan itu menyebut tempat-tempat tersebut "JW Marriott, Singapura, Malaysia". Kesalahan itu kemudian diperbaiki dengan menghapus kata Malaysia. "Yah, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat masih berpikir Singapura berada di Malaysia," kata pengguna Twitter @BrioS_BRxV.

"Baru 53 tahun dan perpisahan buruk," katanya.

Pulau Singapura pernah menjadi bagian dari Malaysia tapi kemudian berpisah secara sengit pada 1965, mengaburkan diplomatik dan perekonomian selama bertahun-tahun. "Trump merencanakan memfasilitasi temu puncak penyatuan kembali Malaysia-Singapura segera?" kata pengguna Twitter lain, @boblskee. Surat kabar "Star" Malaysia melaporkan kesalahan itu di Facebook-nya dengan judul "Bagaimana menyinggung orang Singapura dan warga Malaysia pada saat bersamaan".

Muatan itu dibagikan hampir 700 kali dan menarik hampir 300 tanggapan. "Amerika Serikat harus kembali ke sekolah," kata pengguna Facebook Jimi Leong, demikian Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com