Rabu, 24 Oktober 2018 | 11:00 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Luar Negeri / Aktual Luar Negeri

Pengamat: Kesepakatan Trump-Kim harus ditindaklanjuti secara teknis

Rabu, 13 Juni 2018 - 14:46 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Sigit Kurniawan
Presiden Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan KTT di Singapura pada Selasa (12/6). Sumber foto: https://bit.ly/2JMhPSd
Presiden Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan KTT di Singapura pada Selasa (12/6). Sumber foto: https://bit.ly/2JMhPSd

Elshinta.com - Kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam pertemuan di Singapura, Selasa (12/6), harus ditindaklanjuti secara teknis dan komprehensif.

"Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara telah membuat Joint Statement yang terdiri dari empat poin dalam pertemuannya di Singapura. Sebagaimana telah diduga statement tersebut masih bersifat umum dan kedua pemimpin sepakat untuk menindaklanjuti secara teknis," ujar Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, di Jakarta, Rabu (13/6).

Ia mengatakan masyarakat internasional perlu bersyukur pertemuan Trump-Kim berjalan positif dan memberi suatu harapan bagi perdamaian abadi di Semenanjung Korea. Hanya saja, lanjut dia, dunia tidak seharusnya larut dalam kegembiraan, hal itu dikarenakan masih ada sejumlah langkah yang harus dilakukan agar denuklirisasi di Korea Utara terwujud.

Dilansir dari Antara, rintangan pertama, menurut dia, adalah berkaitan dengan perilaku Donald Trump, mengingat setelah pertemuan, Trump merasa dirinya keluar sebagai pemenang perang. Perilaku seperti ini akan memprovokasi Kim Jong Un, bahkan rakyat Korut, untuk bereaksi negatif dan berdampak pada perundingan teknis. Sedangkan yang kedua, lanjut dia, dunia perlu memperhatikan situasi politik dalam negeri di Korut.

"Bila ada loyalis orang tua dan kakek Kim Jong Un yang kecewa dengan hasil pertemuan, menjadi pertanyaan apakah mereka tidak akan melakukan kudeta atas kepemimpinan Kim Jong Un. Bila kudeta terjadi lagi-lagi ini akan berdampak pada pertemuan teknis," kata dia pula.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pertunjukan | 24 Oktober 2018 - 10:53 WIB

Susi Pudjiastuti kembali tampil di show Anne Avantie

Manajemen | 24 Oktober 2018 - 10:34 WIB

Ketahui bagaimana memisahkan uang pribadi dengan uang usaha

Liga Champions | 24 Oktober 2018 - 10:25 WIB

Dzeko aktor kemenangan 3-0 Roma atas CSKA

Kriminalitas | 24 Oktober 2018 - 10:15 WIB

JPU tuntut dua terdakwa pengeroyokan suporter Persija

Aktual Dalam Negeri | 24 Oktober 2018 - 10:09 WIB

DPRD Kalsel inginkan pelayanan kesehatan lebih baik

Elshinta.com - Kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam pertemuan di Singapura, Selasa (12/6), harus ditindaklanjuti secara teknis dan komprehensif.

"Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara telah membuat Joint Statement yang terdiri dari empat poin dalam pertemuannya di Singapura. Sebagaimana telah diduga statement tersebut masih bersifat umum dan kedua pemimpin sepakat untuk menindaklanjuti secara teknis," ujar Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, di Jakarta, Rabu (13/6).

Ia mengatakan masyarakat internasional perlu bersyukur pertemuan Trump-Kim berjalan positif dan memberi suatu harapan bagi perdamaian abadi di Semenanjung Korea. Hanya saja, lanjut dia, dunia tidak seharusnya larut dalam kegembiraan, hal itu dikarenakan masih ada sejumlah langkah yang harus dilakukan agar denuklirisasi di Korea Utara terwujud.

Dilansir dari Antara, rintangan pertama, menurut dia, adalah berkaitan dengan perilaku Donald Trump, mengingat setelah pertemuan, Trump merasa dirinya keluar sebagai pemenang perang. Perilaku seperti ini akan memprovokasi Kim Jong Un, bahkan rakyat Korut, untuk bereaksi negatif dan berdampak pada perundingan teknis. Sedangkan yang kedua, lanjut dia, dunia perlu memperhatikan situasi politik dalam negeri di Korut.

"Bila ada loyalis orang tua dan kakek Kim Jong Un yang kecewa dengan hasil pertemuan, menjadi pertanyaan apakah mereka tidak akan melakukan kudeta atas kepemimpinan Kim Jong Un. Bila kudeta terjadi lagi-lagi ini akan berdampak pada pertemuan teknis," kata dia pula.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com