Pengamat: Kesepakatan Trump-Kim harus ditindaklanjuti secara teknis
Rabu, 13 Juni 2018 - 14:46 WIB | Penulis : Fajar Nugraha | Editor : Sigit Kurniawan
Presiden Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan KTT di Singapura pada Selasa (12/6). Sumber foto: https://bit.ly/2JMhPSd

Elshinta.com - Kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam pertemuan di Singapura, Selasa (12/6), harus ditindaklanjuti secara teknis dan komprehensif.

"Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara telah membuat Joint Statement yang terdiri dari empat poin dalam pertemuannya di Singapura. Sebagaimana telah diduga statement tersebut masih bersifat umum dan kedua pemimpin sepakat untuk menindaklanjuti secara teknis," ujar Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, di Jakarta, Rabu (13/6).

Ia mengatakan masyarakat internasional perlu bersyukur pertemuan Trump-Kim berjalan positif dan memberi suatu harapan bagi perdamaian abadi di Semenanjung Korea. Hanya saja, lanjut dia, dunia tidak seharusnya larut dalam kegembiraan, hal itu dikarenakan masih ada sejumlah langkah yang harus dilakukan agar denuklirisasi di Korea Utara terwujud.

Dilansir dari Antara, rintangan pertama, menurut dia, adalah berkaitan dengan perilaku Donald Trump, mengingat setelah pertemuan, Trump merasa dirinya keluar sebagai pemenang perang. Perilaku seperti ini akan memprovokasi Kim Jong Un, bahkan rakyat Korut, untuk bereaksi negatif dan berdampak pada perundingan teknis. Sedangkan yang kedua, lanjut dia, dunia perlu memperhatikan situasi politik dalam negeri di Korut.

"Bila ada loyalis orang tua dan kakek Kim Jong Un yang kecewa dengan hasil pertemuan, menjadi pertanyaan apakah mereka tidak akan melakukan kudeta atas kepemimpinan Kim Jong Un. Bila kudeta terjadi lagi-lagi ini akan berdampak pada pertemuan teknis," kata dia pula.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kamis, 17 Januari 2019 - 10:52 WIB
Elshinta.com -Bagi sektor industri nasional, Revolusi Industri 4.0 memberi peluang percepatan p...
Kamis, 17 Januari 2019 - 09:37 WIB
Elshinta.com -Harga minyak dunia sedikit lebih tinggi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi W...
Kamis, 17 Januari 2019 - 08:19 WIB
Elshinta.com - Kurs dolar AS sedikit menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya,...
Rabu, 16 Januari 2019 - 14:36 WIB
Elshinta.com - Presiden Palestina Mahmoud Abbas berikrar bahwa setelah memangku jabatan Ke...
Senin, 14 Januari 2019 - 19:45 WIB
Elshinta.com - Media dan organisasi-organisasi wartawan Prancis pada Ahad (13/1) mengecam ...
Minggu, 13 Januari 2019 - 15:56 WIB
Elshinta.com - Menteri luar negeri Turki dan timpalannya dari AS berbicara melalui telepon...
Minggu, 13 Januari 2019 - 11:14 WIB
Elshinta.com - Amal Mustafa Taramsi (43), yang ditembak hingga meninggal oleh tentara Isra...
Sabtu, 12 Januari 2019 - 09:52 WIB
Elshinta.com - Seorang perempuan Palestina tewas dan sedikitnya 25 orang lagi cedera, term...
Sabtu, 12 Januari 2019 - 07:26 WIB
Elshinta.com - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik tipis pada...
Jumat, 11 Januari 2019 - 17:14 WIB
Elshinta.com - Sepanjang 2018 Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah memban...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)