Selasa, 16 Oktober 2018 | 18:11 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Politik

LPI: Lebaran momentum memaafkan pada tahun politik

Rabu, 13 Juni 2018 - 15:58 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Sigit Kurniawan
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens. Sumber foto: https://bit.ly/2MmdIL5
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens. Sumber foto: https://bit.ly/2MmdIL5

Elshinta.com - Idul Fitri 1439 Hijriah merupakan momentum yang tepat untuk saling memaafkan sesama anak bangsa pada tahun politik saat ini, kata Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens, di Jakarta, Rabu (13/6).

Ia mengatakan Lebaran tahun ini adalah momentum religius yang mahal nilainya. Lebaran di tahun politik ini berlangsung ketika umat coba dibelah oleh kepentingan dan permainan politik.

"Tetapi, kita tetap yakin, Islam sebagai bagian inheren dari ke-Indonesiaan kita akan tetap menjadi agama yang menyatukan dan mendamaikan dalam satu 'melting pot' bernama Indonesia," katanya, dikutip Antara.

Menurut dia, pesan moral dari bulan suci Ramadan tidak hanya saling memaafkan di antara kita, tetapi bagaimana kita dan seluruh kekuatan nasional juga mau memaafkan kelompok politik yang mempermainkan isu SARA sebagai modal dan menjadikan kekacauan sebagai momentum untuk meraih kekuasaan. Dia menyatakan, memberikan maaf yang tulus agar ada pertobatan dan rekonsiliasi nasional menuju Pilpres April 2019. Substansinya jelas, Indonesia tidak dibangun untuk periode pemilu 5 tahun, tetapi untuk selama-lamanya.

Boni menjelaskan terhitung sejak 2016, dinamika politik di Tanah Air ditandai berbagai goncangan yang cukup melelahkan dan meresahkan. Politik identitas menjadi arus utama ketika oposisi politik kehilangan akal sehat untuk mengevaluasi dan mendelegitimasi Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, dikotomi yang kejam atas dasar isu SARA tidak hanya mengganggu jalan pemerintahan, tetapi juga mengancam masa depan keindonesiaan kita yang sudah dibangun para Pendiri Republik dengan darah dan keringat. Dia menambahkan, Pancasila, sebagai fondasi yang merekatkan keberagaman dan falsafah yang menyatukan masa lalu dan masa depan kita sebagai negara-bangsa, diganggu oleh kehadiran dan serangan ideologi.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 16 Oktober 2018 - 18:08 WIB

Polisi amankan wanita bawa sabu di Bandara

Kesehatan | 16 Oktober 2018 - 17:58 WIB

Jenis kanker pada anak selain leukemia

Kecelakaan | 16 Oktober 2018 - 17:48 WIB

Mobil pick up tabrak truk TNI, satu tewas dan dua orang terluka

Startup | 16 Oktober 2018 - 17:30 WIB

Bareksa, marketplace reksadana dorong penetrasi investasi

Aktual Dalam Negeri | 16 Oktober 2018 - 17:18 WIB

Belasan ribu pohon cabai terendam banjir

Aktual Dalam Negeri | 16 Oktober 2018 - 17:08 WIB

Pemkot Magelang siapkan tenaga administrasi SD-TK

Elshinta.com - Idul Fitri 1439 Hijriah merupakan momentum yang tepat untuk saling memaafkan sesama anak bangsa pada tahun politik saat ini, kata Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens, di Jakarta, Rabu (13/6).

Ia mengatakan Lebaran tahun ini adalah momentum religius yang mahal nilainya. Lebaran di tahun politik ini berlangsung ketika umat coba dibelah oleh kepentingan dan permainan politik.

"Tetapi, kita tetap yakin, Islam sebagai bagian inheren dari ke-Indonesiaan kita akan tetap menjadi agama yang menyatukan dan mendamaikan dalam satu 'melting pot' bernama Indonesia," katanya, dikutip Antara.

Menurut dia, pesan moral dari bulan suci Ramadan tidak hanya saling memaafkan di antara kita, tetapi bagaimana kita dan seluruh kekuatan nasional juga mau memaafkan kelompok politik yang mempermainkan isu SARA sebagai modal dan menjadikan kekacauan sebagai momentum untuk meraih kekuasaan. Dia menyatakan, memberikan maaf yang tulus agar ada pertobatan dan rekonsiliasi nasional menuju Pilpres April 2019. Substansinya jelas, Indonesia tidak dibangun untuk periode pemilu 5 tahun, tetapi untuk selama-lamanya.

Boni menjelaskan terhitung sejak 2016, dinamika politik di Tanah Air ditandai berbagai goncangan yang cukup melelahkan dan meresahkan. Politik identitas menjadi arus utama ketika oposisi politik kehilangan akal sehat untuk mengevaluasi dan mendelegitimasi Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, dikotomi yang kejam atas dasar isu SARA tidak hanya mengganggu jalan pemerintahan, tetapi juga mengancam masa depan keindonesiaan kita yang sudah dibangun para Pendiri Republik dengan darah dan keringat. Dia menambahkan, Pancasila, sebagai fondasi yang merekatkan keberagaman dan falsafah yang menyatukan masa lalu dan masa depan kita sebagai negara-bangsa, diganggu oleh kehadiran dan serangan ideologi.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 16 Oktober 2018 - 18:08 WIB

Polisi amankan wanita bawa sabu di Bandara

Selasa, 16 Oktober 2018 - 17:18 WIB

Belasan ribu pohon cabai terendam banjir

Selasa, 16 Oktober 2018 - 17:08 WIB

Pemkot Magelang siapkan tenaga administrasi SD-TK

Selasa, 16 Oktober 2018 - 16:52 WIB

Jusuf Kalla minta tempat latihan PB Perbakin diawasi

Selasa, 16 Oktober 2018 - 16:28 WIB

Pemkot Depok kucurkan dana Rp83,38 miliar di Bansos

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com