Sabtu, 20 Oktober 2018 | 05:57 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Sosbud

Kemenag lakukan pencegahan dakwah politik praktis

Kamis, 14 Juni 2018 - 20:48 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2lahbA8
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2lahbA8

Elshinta.com - Kementerian Agama Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan melakukan pencegahan terjadinya penyalahgunaan mimbar dakwah Salat Idul Fitri 2018 menjadi ajang politik praktis karena 2018 mulai memasuki tahun politik.

Dilansir dari Antara, Kepala Kemenag Gunung Kidul Aidi Johansyah di Gunung Kidul, Kamis (14/6), mengatakan mendekati Pemilu 2019, pihaknya sudah menghmbau agar para Dai ataupun khatib untuk berceramah pada Hari Raya Idul Fitri bebas dari politik.

"Kami mengimbau kepada semua dai, khotib untuk menyampaikan dakwah yang damai, membawa pesan damai, artinya tidak melakukan ujaran kebencian unsur menghasut. Kita harapkan para dai kita memberikan pesan kedamaian, kerukunan, dan keamanan bersama itu yang kita harapkan," tutur Aidi.

Sementara itu, Kepala seksi Bimas Islam Kemenag Gunung Kidul Arif Gunadi berharap semua mubaliq dan khotib mentaati imbauan. Tim dari Kemenag akan melakukan pemantauan secara acak terhadap titik Salat Id yang berpotensi digunakan untuk politik praktis.

"Kami meminta tim di lapangan termasuk penyuluh dan kepala KUA, untuk bisa mendeteksi khotib atau mubalig yang dimungkinkan menimbulkan disharmonisasi. Kami akan meminta naskah yang akan disampaikan saat ceramah Salat Idul Fitri, jika memang ada yang mencurigakan atau bermuatan politik akan kami konfirmasi," ujarnya.

Kemenag Gunung Kidul sudah meminta kepada seluruh panitia Shalat Idul Fitri yang total ada 1.135 titik untuk mengirimkan naskah ceramahnya. Hal ini untuk mengantisipasi perpecahan di masyarakat. Meski demikian, pihaknya tetap akan mengklarifikasi jika ada yang berbau politik.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 21:49 WIB

Presiden minta aparatur pemerintah turun ke lapangan

Bencana Alam | 19 Oktober 2018 - 21:37 WIB

Panglima TNI tinjau dampak likuifaksi Palu

Liga Champions | 19 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Buffon tidak ingin PSG hadapi Juve di final Liga Champions

Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 21:12 WIB

TMMD di Malinau, TNI dan warga semenisasi jalan

Pemasaran | 19 Oktober 2018 - 20:46 WIB

Cara “mencuri” followers akun instagram kompetitor bisnis

Elshinta.com - Kementerian Agama Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan melakukan pencegahan terjadinya penyalahgunaan mimbar dakwah Salat Idul Fitri 2018 menjadi ajang politik praktis karena 2018 mulai memasuki tahun politik.

Dilansir dari Antara, Kepala Kemenag Gunung Kidul Aidi Johansyah di Gunung Kidul, Kamis (14/6), mengatakan mendekati Pemilu 2019, pihaknya sudah menghmbau agar para Dai ataupun khatib untuk berceramah pada Hari Raya Idul Fitri bebas dari politik.

"Kami mengimbau kepada semua dai, khotib untuk menyampaikan dakwah yang damai, membawa pesan damai, artinya tidak melakukan ujaran kebencian unsur menghasut. Kita harapkan para dai kita memberikan pesan kedamaian, kerukunan, dan keamanan bersama itu yang kita harapkan," tutur Aidi.

Sementara itu, Kepala seksi Bimas Islam Kemenag Gunung Kidul Arif Gunadi berharap semua mubaliq dan khotib mentaati imbauan. Tim dari Kemenag akan melakukan pemantauan secara acak terhadap titik Salat Id yang berpotensi digunakan untuk politik praktis.

"Kami meminta tim di lapangan termasuk penyuluh dan kepala KUA, untuk bisa mendeteksi khotib atau mubalig yang dimungkinkan menimbulkan disharmonisasi. Kami akan meminta naskah yang akan disampaikan saat ceramah Salat Idul Fitri, jika memang ada yang mencurigakan atau bermuatan politik akan kami konfirmasi," ujarnya.

Kemenag Gunung Kidul sudah meminta kepada seluruh panitia Shalat Idul Fitri yang total ada 1.135 titik untuk mengirimkan naskah ceramahnya. Hal ini untuk mengantisipasi perpecahan di masyarakat. Meski demikian, pihaknya tetap akan mengklarifikasi jika ada yang berbau politik.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com