Minggu, 22 Juli 2018 | 21:24 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

Luar Negeri / Asia Pasific

Sebagian pria Saudi masih gamang soal izin mengemudi bagi perempuan

Senin, 25 Juni 2018 - 08:56 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Samira al-Ghamdi, seorang psikolog, menyetir menuju tempat kerjanya bersama putranya Abdulmalik (26) duduk di belakang di Jeddah, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2MUmnVm
Samira al-Ghamdi, seorang psikolog, menyetir menuju tempat kerjanya bersama putranya Abdulmalik (26) duduk di belakang di Jeddah, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2MUmnVm

Elshinta.com - Di tengah perayaan akhir dari larangan mengemudi bagi perempuan pada Minggu (24/6), sejumlah pria masih mengemukakan ketidaksetujuan mereka dengan perubahan yang mereka khawatirkan akan menggerogoti identitas Muslim kerajaan konservatif itu.

"Selama masa ayah dan kakek kami, tidak ada perempuan yang mengemudi," kata Wadih al-Marzouki, pensiunan pegawai pemerintah di pelabuhan Laut Merah di Kota Jeddah.

Marzouki mengatakan bahwa dia menasihati ketiga menantunya untuk tidak membiarkan istri-istri mereka mengemudikan mobil. "Itu akan sangat, sangat sulit. Tuhan tolong kami pada bulan pertama ini," katanya sebagaimana dikutip Antara dari Reuters.

Anggapan bahwa membolehkan perempuan mengemudikan kendaraan akan membawa dampak negatif semacam itu belum menguap sembilan bulan setelah Raja Salman mengumumkan kebijakan pembalikan sebagai bagian dari reformasi total untuk mendongkrak perekonomian dan mewujudkan masyarakat yang terbuka.

Hampir seperempat warga Arab Saudi yang menyampaikan pendapat dalam survei baru-baru ini menyatakan menentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan. Sepertiga dari mereka menyatakan khawatir kebijakan semacam itu akan mengancam tradisi budaya. Namun kritik tetap saja langka, khususnya setelah penindakan terhadap para penentang yang mencakup penangkapan sekitar 30 ulama, intelek, dan aktivis pada September dan lebih dari selusin pegiat hak asasi manusia dalam sebulan terakhir.

Para pendukung pemerintah menyatakan kebijakan semacam itu diperlukan dalam upaya pihak berwenang menjalankan reformasi liberalisasi. Sementara beberapa penentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan hanya menyampaikan keberatan pribadi, tidak berani menentang dekret raja dalam kerajaan itu. "Saya mendukung karena beberapa keluarga memang sangat membutuhkan adanya perempuan yang bisa mengemudi," kata Abdelaziz (26). "Tapi menurut saya, perempuan mestinya tidak mengemudi kalau tidak perlu," katanya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Juli 2018 - 21:14 WIB

Pemerintah serius perluas penggunaan Biodiesel 20

Aktual Luar Negeri | 22 Juli 2018 - 20:37 WIB

Tips bagi jamaah Haji yang tersesat dan pingsan

Pemilihan Presiden 2019 | 22 Juli 2018 - 20:28 WIB

KPU Langkat skors rapat pleno DPSHP Pemilu 2019 selama sembilan jam

Kesehatan | 22 Juli 2018 - 20:15 WIB

Sudah divaksin influenza masih bisa kena pilek

Musibah | 22 Juli 2018 - 19:54 WIB

50 hektare lahan gunung di Aceh terbakar

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com