Selasa, 25 September 2018 | 17:08 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames kuping kanan paragames
emajels

Luar Negeri / Asia Pasific

Sebagian pria Saudi masih gamang soal izin mengemudi bagi perempuan

Senin, 25 Juni 2018 - 08:56 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Samira al-Ghamdi, seorang psikolog, menyetir menuju tempat kerjanya bersama putranya Abdulmalik (26) duduk di belakang di Jeddah, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2MUmnVm
Samira al-Ghamdi, seorang psikolog, menyetir menuju tempat kerjanya bersama putranya Abdulmalik (26) duduk di belakang di Jeddah, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2MUmnVm

Elshinta.com - Di tengah perayaan akhir dari larangan mengemudi bagi perempuan pada Minggu (24/6), sejumlah pria masih mengemukakan ketidaksetujuan mereka dengan perubahan yang mereka khawatirkan akan menggerogoti identitas Muslim kerajaan konservatif itu.

"Selama masa ayah dan kakek kami, tidak ada perempuan yang mengemudi," kata Wadih al-Marzouki, pensiunan pegawai pemerintah di pelabuhan Laut Merah di Kota Jeddah.

Marzouki mengatakan bahwa dia menasihati ketiga menantunya untuk tidak membiarkan istri-istri mereka mengemudikan mobil. "Itu akan sangat, sangat sulit. Tuhan tolong kami pada bulan pertama ini," katanya sebagaimana dikutip Antara dari Reuters.

Anggapan bahwa membolehkan perempuan mengemudikan kendaraan akan membawa dampak negatif semacam itu belum menguap sembilan bulan setelah Raja Salman mengumumkan kebijakan pembalikan sebagai bagian dari reformasi total untuk mendongkrak perekonomian dan mewujudkan masyarakat yang terbuka.

Hampir seperempat warga Arab Saudi yang menyampaikan pendapat dalam survei baru-baru ini menyatakan menentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan. Sepertiga dari mereka menyatakan khawatir kebijakan semacam itu akan mengancam tradisi budaya. Namun kritik tetap saja langka, khususnya setelah penindakan terhadap para penentang yang mencakup penangkapan sekitar 30 ulama, intelek, dan aktivis pada September dan lebih dari selusin pegiat hak asasi manusia dalam sebulan terakhir.

Para pendukung pemerintah menyatakan kebijakan semacam itu diperlukan dalam upaya pihak berwenang menjalankan reformasi liberalisasi. Sementara beberapa penentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan hanya menyampaikan keberatan pribadi, tidak berani menentang dekret raja dalam kerajaan itu. "Saya mendukung karena beberapa keluarga memang sangat membutuhkan adanya perempuan yang bisa mengemudi," kata Abdelaziz (26). "Tapi menurut saya, perempuan mestinya tidak mengemudi kalau tidak perlu," katanya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 25 September 2018 - 17:02 WIB

Sebanyak 51 orang terima Anugerah Kebudayaan dari Kemendikbud

Aktual Dalam Negeri | 25 September 2018 - 16:48 WIB

Tim Jokowi - Ma'ruf persiapkan jadwal kampanye

Aktual Dalam Negeri | 25 September 2018 - 16:45 WIB

60 anak di Kota Kupang, NTT ikut sunatan massal

Aktual Dalam Negeri | 25 September 2018 - 16:33 WIB

DPRD sesalkan sikap Pemko Medan atas nasib ratusan pedagang eks Pasar Aksara

Aktual Dalam Negeri | 25 September 2018 - 16:26 WIB

Aksi, penarik bentor tuntut legalitas operasi

Konsultasi | 25 September 2018 - 16:23 WIB

Inilah beberapa aplikasi teknologi yang bermanfaat bagi para petani

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 24 September 2018 - 07:18 WIB

Wapres JK di New York hadiri Sidang Majelis Umum PBB

Minggu, 23 September 2018 - 18:48 WIB

Komnas HAM Malaysia tolak perkawinan sejenis

Minggu, 23 September 2018 - 16:38 WIB

Ratusan ribu orang terjebak tanpa listrik di Ottawa

Sabtu, 22 September 2018 - 14:38 WIB

Permainkan harga, 34 manajer toko Venezuela dipenjara

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com