Selasa, 11 Desember 2018 | 10:40 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Luar Negeri / Asia Pasific

Sebagian pria Saudi masih gamang soal izin mengemudi bagi perempuan

Senin, 25 Juni 2018 - 08:56 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Samira al-Ghamdi, seorang psikolog, menyetir menuju tempat kerjanya bersama putranya Abdulmalik (26) duduk di belakang di Jeddah, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2MUmnVm
Samira al-Ghamdi, seorang psikolog, menyetir menuju tempat kerjanya bersama putranya Abdulmalik (26) duduk di belakang di Jeddah, Arab Saudi. Sumber foto: https://bit.ly/2MUmnVm

Elshinta.com - Di tengah perayaan akhir dari larangan mengemudi bagi perempuan pada Minggu (24/6), sejumlah pria masih mengemukakan ketidaksetujuan mereka dengan perubahan yang mereka khawatirkan akan menggerogoti identitas Muslim kerajaan konservatif itu.

"Selama masa ayah dan kakek kami, tidak ada perempuan yang mengemudi," kata Wadih al-Marzouki, pensiunan pegawai pemerintah di pelabuhan Laut Merah di Kota Jeddah.

Marzouki mengatakan bahwa dia menasihati ketiga menantunya untuk tidak membiarkan istri-istri mereka mengemudikan mobil. "Itu akan sangat, sangat sulit. Tuhan tolong kami pada bulan pertama ini," katanya sebagaimana dikutip Antara dari Reuters.

Anggapan bahwa membolehkan perempuan mengemudikan kendaraan akan membawa dampak negatif semacam itu belum menguap sembilan bulan setelah Raja Salman mengumumkan kebijakan pembalikan sebagai bagian dari reformasi total untuk mendongkrak perekonomian dan mewujudkan masyarakat yang terbuka.

Hampir seperempat warga Arab Saudi yang menyampaikan pendapat dalam survei baru-baru ini menyatakan menentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan. Sepertiga dari mereka menyatakan khawatir kebijakan semacam itu akan mengancam tradisi budaya. Namun kritik tetap saja langka, khususnya setelah penindakan terhadap para penentang yang mencakup penangkapan sekitar 30 ulama, intelek, dan aktivis pada September dan lebih dari selusin pegiat hak asasi manusia dalam sebulan terakhir.

Para pendukung pemerintah menyatakan kebijakan semacam itu diperlukan dalam upaya pihak berwenang menjalankan reformasi liberalisasi. Sementara beberapa penentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan hanya menyampaikan keberatan pribadi, tidak berani menentang dekret raja dalam kerajaan itu. "Saya mendukung karena beberapa keluarga memang sangat membutuhkan adanya perempuan yang bisa mengemudi," kata Abdelaziz (26). "Tapi menurut saya, perempuan mestinya tidak mengemudi kalau tidak perlu," katanya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 11 Desember 2018 - 10:35 WIB

Granat Sumut: Pelajar diselamatkan dari pengaruh narkoba

Asia Pasific | 11 Desember 2018 - 10:26 WIB

Pendatang ilegal Yahudi serbu kompleks Masjid Al-Aqsha

Aktual Dalam Negeri | 11 Desember 2018 - 10:17 WIB

Jadi prioritas, perbaikan jalan Padang-Pekanbaru yang putus

Musibah | 11 Desember 2018 - 10:08 WIB

Lokasi longsor di Jalan Jati Padang dipasang cerucuk

Musibah | 11 Desember 2018 - 09:59 WIB

Banjir genangi ruas jalan di Padang

Elshinta.com - Di tengah perayaan akhir dari larangan mengemudi bagi perempuan pada Minggu (24/6), sejumlah pria masih mengemukakan ketidaksetujuan mereka dengan perubahan yang mereka khawatirkan akan menggerogoti identitas Muslim kerajaan konservatif itu.

"Selama masa ayah dan kakek kami, tidak ada perempuan yang mengemudi," kata Wadih al-Marzouki, pensiunan pegawai pemerintah di pelabuhan Laut Merah di Kota Jeddah.

Marzouki mengatakan bahwa dia menasihati ketiga menantunya untuk tidak membiarkan istri-istri mereka mengemudikan mobil. "Itu akan sangat, sangat sulit. Tuhan tolong kami pada bulan pertama ini," katanya sebagaimana dikutip Antara dari Reuters.

Anggapan bahwa membolehkan perempuan mengemudikan kendaraan akan membawa dampak negatif semacam itu belum menguap sembilan bulan setelah Raja Salman mengumumkan kebijakan pembalikan sebagai bagian dari reformasi total untuk mendongkrak perekonomian dan mewujudkan masyarakat yang terbuka.

Hampir seperempat warga Arab Saudi yang menyampaikan pendapat dalam survei baru-baru ini menyatakan menentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan. Sepertiga dari mereka menyatakan khawatir kebijakan semacam itu akan mengancam tradisi budaya. Namun kritik tetap saja langka, khususnya setelah penindakan terhadap para penentang yang mencakup penangkapan sekitar 30 ulama, intelek, dan aktivis pada September dan lebih dari selusin pegiat hak asasi manusia dalam sebulan terakhir.

Para pendukung pemerintah menyatakan kebijakan semacam itu diperlukan dalam upaya pihak berwenang menjalankan reformasi liberalisasi. Sementara beberapa penentang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan hanya menyampaikan keberatan pribadi, tidak berani menentang dekret raja dalam kerajaan itu. "Saya mendukung karena beberapa keluarga memang sangat membutuhkan adanya perempuan yang bisa mengemudi," kata Abdelaziz (26). "Tapi menurut saya, perempuan mestinya tidak mengemudi kalau tidak perlu," katanya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 11 Desember 2018 - 10:26 WIB

Pendatang ilegal Yahudi serbu kompleks Masjid Al-Aqsha

Selasa, 11 Desember 2018 - 07:57 WIB

Harga minyak kembali jatuh

Selasa, 11 Desember 2018 - 07:17 WIB

Dolar AS menguat di tengah ketidakpastian Brexit

Senin, 10 Desember 2018 - 16:55 WIB

Pemerintah siapkan strategi baru bela Siti Aisyah

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com