Selasa, 11 Desember 2018 | 10:40 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Pemilu / Aktual Pemilu

Konstelasi Pilpres bisa berubah pasca Pilkada

Jumat, 29 Juni 2018 - 13:02 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Dewi Rusiana
Presiden Indonesia Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Sumber foto: https://bit.ly/2KfeRXn
Presiden Indonesia Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Sumber foto: https://bit.ly/2KfeRXn

Elshinta.com - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai kontelasi Pemilu Presiden 2019 bisa berubah setelah hasil Pilkada serentak 2018, karena menjadi salah satu tolak ukur kekuatan partai politik dalam mendulang suara.

"Peta politik Pilpres bisa berubah, dan salah satunya karena suara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra banyak yang menurun di basis suara mereka," kata Pangi di Jakarta, Jumat (29/6).

Dia mencontohkan untuk Pilkada Jawa Barat, seharusnya di wilayah tersebut dapat dimaksimalkan Partai Gerindra untuk mendulang suara karena di Pilpres 2014, Prabowo mendulang suara di wilayah tersebut. Namun, menurut dia, di Pilkada Jabar 2018 pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung dan didukung Gerindra kalah dengan perolehan suara Ridwan Kamil-Uu Ruzhalul Ulum berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei.

"Saya menduga Kalau PDI Perjuangan di Pilkada Jabar dengan mengusung pasangan TB Hasanuddin-Anton Charlyan hanya 'cek ombak', untuk melihat dan menguji mesin partai bergerak atau tidak. Lalu di Pilkada Sumatera Utara, kalau Djarot menang, Joko Widodo aman di wilayah tersebut namun kenyataannya kalah," ujarnya, dikutip Antara.

Menurut dia, Jokowi dan Prabowo akan berhitung ulang strategi di Pilpres misalnya kemampuan mereka menguasai elektoral di Pulau Jawa karena siapa yang mampu mendulang suara di wilayah tersebut, kemungkinan memenangkan Pilpres.

"Jokowi dan Prabowo akan hitung ulang kemampuan mereka untuk menguasai suara di Pulau Jawa, karena Jawa adalah kunci. Wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur menjadi penentu kemenangan di Pilpres," pungkasnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 11 Desember 2018 - 10:35 WIB

Granat Sumut: Pelajar diselamatkan dari pengaruh narkoba

Asia Pasific | 11 Desember 2018 - 10:26 WIB

Pendatang ilegal Yahudi serbu kompleks Masjid Al-Aqsha

Aktual Dalam Negeri | 11 Desember 2018 - 10:17 WIB

Jadi prioritas, perbaikan jalan Padang-Pekanbaru yang putus

Musibah | 11 Desember 2018 - 10:08 WIB

Lokasi longsor di Jalan Jati Padang dipasang cerucuk

Musibah | 11 Desember 2018 - 09:59 WIB

Banjir genangi ruas jalan di Padang

Elshinta.com - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai kontelasi Pemilu Presiden 2019 bisa berubah setelah hasil Pilkada serentak 2018, karena menjadi salah satu tolak ukur kekuatan partai politik dalam mendulang suara.

"Peta politik Pilpres bisa berubah, dan salah satunya karena suara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra banyak yang menurun di basis suara mereka," kata Pangi di Jakarta, Jumat (29/6).

Dia mencontohkan untuk Pilkada Jawa Barat, seharusnya di wilayah tersebut dapat dimaksimalkan Partai Gerindra untuk mendulang suara karena di Pilpres 2014, Prabowo mendulang suara di wilayah tersebut. Namun, menurut dia, di Pilkada Jabar 2018 pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung dan didukung Gerindra kalah dengan perolehan suara Ridwan Kamil-Uu Ruzhalul Ulum berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei.

"Saya menduga Kalau PDI Perjuangan di Pilkada Jabar dengan mengusung pasangan TB Hasanuddin-Anton Charlyan hanya 'cek ombak', untuk melihat dan menguji mesin partai bergerak atau tidak. Lalu di Pilkada Sumatera Utara, kalau Djarot menang, Joko Widodo aman di wilayah tersebut namun kenyataannya kalah," ujarnya, dikutip Antara.

Menurut dia, Jokowi dan Prabowo akan berhitung ulang strategi di Pilpres misalnya kemampuan mereka menguasai elektoral di Pulau Jawa karena siapa yang mampu mendulang suara di wilayah tersebut, kemungkinan memenangkan Pilpres.

"Jokowi dan Prabowo akan hitung ulang kemampuan mereka untuk menguasai suara di Pulau Jawa, karena Jawa adalah kunci. Wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur menjadi penentu kemenangan di Pilpres," pungkasnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 10 Desember 2018 - 21:15 WIB

JK yakin Pemilu 2019 aman dan ekonomi lebih baik

Senin, 10 Desember 2018 - 20:50 WIB

Penetapan DPTHP 3 KPU Sukoharjo kembali tertunda

Senin, 10 Desember 2018 - 20:28 WIB

Pemilih disabilitas di Langkat sebanyak 1.096 orang

Senin, 10 Desember 2018 - 19:54 WIB

Wapres imbau pengawas Pemilu harus independen

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com