Selasa, 11 Desember 2018 | 10:38 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kesehatan

Cari tahu mana yang lebih menyehatkan, lari atau jalan?

Jumat, 29 Juni 2018 - 21:31 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi lari. (Shutterstock/Antonio Guillem). Sumber foto: https://bit.ly/2Kk8Rg4
Ilustrasi lari. (Shutterstock/Antonio Guillem). Sumber foto: https://bit.ly/2Kk8Rg4

Elshinta.com - Peneliti mengungkapkan bahwa pertanyaan mana yang lebih menyehatkan antara berlari maraton dengan berjalan jauh, sulit untuk dijawab, terutama ketika berbagai faktor seperti frekuensi, kecepatan, IMT, dan kondisi kesehatan harus dipertimbangkan.

Namun, satu studi menemukan, pelari dapat hidup rata-rata beberapa tahun lebih lama daripada mereka yang bukan pelari. Lari lebih menuntut pada tubuh daripada berjalan, sehingga hasilnya pada tubuh lebih cepat.

Ada juga temuan yang menunjukkan bawa lari lebih efektif bagi mereka yang ingin menambah berat badan secara efektif. Untuk mengurangi lemak perut (atau lemak visceral), para ahli merekomendasikan untuk memasukkan lari jarak pendek ke rutinitas latihan. 

"Mengurangi lemak perut, bahkan tanpa menurunkan berat badan, dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan," kata Dr Carol Ewing Garber, seorang profesor biobehavioral di Columbia University Teachers College.

"Lari seringkali merupakan langkah besar dalam intensitas dari berjalan, jadi sebaiknya tambahkan ke rutinitas Anda secara bertahap," imbuh dia. 

Tetapi studi juga menunjukkan bahwa pelari mungkin berisiko tinggi mengalami cedera dibandingkan dengan mereka yang memilih berjalan. Orang dengan radang sendi atau masalah sendi harus meminta rekomendasi dokter jika ingin berlari, karena bisa saja memperburuk kondisi mereka seiring adanya penambahan tekanan pada sendi.

James O'Keefe, seorang ahli jantung di Saint Luke's Mid America Heart Institute, mengingatkan bahwa terlalu banyak berlari dapat berdampak buruk karena tubuh kita tidak dapat mempertahankan aktivitas menuntut seperti itu di luar titik tertentu.

"Setelah 60 menit melakukan aktivitas fisik yang intens, seperti berlari, bilik jantung Anda mulai meregang dan menuntut kemampuan otot untuk beradaptasi," kata dia. 

Di sisi lain, berjalan hampir sama efektifnya dengan berlari untuk mengurangi risiko hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Mereka yang ingin memetik lebih banyak manfaat dari berjalan kaki juga dapat mempertimbangkan melakukan aktivitas ini di jalur bukit atau sekedar naik dan turun tangga.

Untuk orang dewasa yang obesitas, menggunakan treadmill mungkin merupakan pilihan terbaik. Sebuah studi 2011 menyimpulkan bahwa berjalan pada kecepatan yang relatif lambat adalah strategi olahraga potensial yang dapat mengurangi risiko cedera muskuloskeletal, penyakit patologis sekaligus memberikan stimulus kardiovaskular yang tepat. 

Kardiolog klinis Peter Schnohr merekomendasikan penggabungan dua aktivitas untuk mendapatkan hasil yang terbaik. 

"Yang paling baik adalah lari dua hingga tiga hari per minggu, dengan kecepatan lambat atau rata-rata. Berlari setiap hari, dengan kecepatan cepat, lebih dari 4 jam per minggu tidak menguntungkan," tutur dia. 

Berjalan cepat juga bisa menjadi pilihan sempurna bagi mereka yang memilih untuk tidak berlari. 

Satu penelitian menunjukkan orang-orang yang berjalan dengan cepat memiliki risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang berjalan lambat. Demikian seperti dilansir Antara dari Medical Daily.  

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 11 Desember 2018 - 10:35 WIB

Granat Sumut: Pelajar diselamatkan dari pengaruh narkoba

Asia Pasific | 11 Desember 2018 - 10:26 WIB

Pendatang ilegal Yahudi serbu kompleks Masjid Al-Aqsha

Aktual Dalam Negeri | 11 Desember 2018 - 10:17 WIB

Jadi prioritas, perbaikan jalan Padang-Pekanbaru yang putus

Musibah | 11 Desember 2018 - 10:08 WIB

Lokasi longsor di Jalan Jati Padang dipasang cerucuk

Musibah | 11 Desember 2018 - 09:59 WIB

Banjir genangi ruas jalan di Padang

Elshinta.com - Peneliti mengungkapkan bahwa pertanyaan mana yang lebih menyehatkan antara berlari maraton dengan berjalan jauh, sulit untuk dijawab, terutama ketika berbagai faktor seperti frekuensi, kecepatan, IMT, dan kondisi kesehatan harus dipertimbangkan.

Namun, satu studi menemukan, pelari dapat hidup rata-rata beberapa tahun lebih lama daripada mereka yang bukan pelari. Lari lebih menuntut pada tubuh daripada berjalan, sehingga hasilnya pada tubuh lebih cepat.

Ada juga temuan yang menunjukkan bawa lari lebih efektif bagi mereka yang ingin menambah berat badan secara efektif. Untuk mengurangi lemak perut (atau lemak visceral), para ahli merekomendasikan untuk memasukkan lari jarak pendek ke rutinitas latihan. 

"Mengurangi lemak perut, bahkan tanpa menurunkan berat badan, dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan," kata Dr Carol Ewing Garber, seorang profesor biobehavioral di Columbia University Teachers College.

"Lari seringkali merupakan langkah besar dalam intensitas dari berjalan, jadi sebaiknya tambahkan ke rutinitas Anda secara bertahap," imbuh dia. 

Tetapi studi juga menunjukkan bahwa pelari mungkin berisiko tinggi mengalami cedera dibandingkan dengan mereka yang memilih berjalan. Orang dengan radang sendi atau masalah sendi harus meminta rekomendasi dokter jika ingin berlari, karena bisa saja memperburuk kondisi mereka seiring adanya penambahan tekanan pada sendi.

James O'Keefe, seorang ahli jantung di Saint Luke's Mid America Heart Institute, mengingatkan bahwa terlalu banyak berlari dapat berdampak buruk karena tubuh kita tidak dapat mempertahankan aktivitas menuntut seperti itu di luar titik tertentu.

"Setelah 60 menit melakukan aktivitas fisik yang intens, seperti berlari, bilik jantung Anda mulai meregang dan menuntut kemampuan otot untuk beradaptasi," kata dia. 

Di sisi lain, berjalan hampir sama efektifnya dengan berlari untuk mengurangi risiko hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Mereka yang ingin memetik lebih banyak manfaat dari berjalan kaki juga dapat mempertimbangkan melakukan aktivitas ini di jalur bukit atau sekedar naik dan turun tangga.

Untuk orang dewasa yang obesitas, menggunakan treadmill mungkin merupakan pilihan terbaik. Sebuah studi 2011 menyimpulkan bahwa berjalan pada kecepatan yang relatif lambat adalah strategi olahraga potensial yang dapat mengurangi risiko cedera muskuloskeletal, penyakit patologis sekaligus memberikan stimulus kardiovaskular yang tepat. 

Kardiolog klinis Peter Schnohr merekomendasikan penggabungan dua aktivitas untuk mendapatkan hasil yang terbaik. 

"Yang paling baik adalah lari dua hingga tiga hari per minggu, dengan kecepatan lambat atau rata-rata. Berlari setiap hari, dengan kecepatan cepat, lebih dari 4 jam per minggu tidak menguntungkan," tutur dia. 

Berjalan cepat juga bisa menjadi pilihan sempurna bagi mereka yang memilih untuk tidak berlari. 

Satu penelitian menunjukkan orang-orang yang berjalan dengan cepat memiliki risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang berjalan lambat. Demikian seperti dilansir Antara dari Medical Daily.  

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Minggu, 09 Desember 2018 - 15:28 WIB

Cegah diabetes sejak dini dengan aktivitas fisik

Minggu, 09 Desember 2018 - 12:50 WIB

Penderita diabetes rentan alami infeksi TB

Sabtu, 08 Desember 2018 - 01:19 WIB

Pentingnya rutin memantau berat badan

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com