Rabu, 21 November 2018 | 01:39 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Pendidikan

Menaker harap industri dilibatkan dalam menyusun kurikulum

Minggu, 01 Juli 2018 - 07:49 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Sumber foto: https://bit.ly/2KCA5uf
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Sumber foto: https://bit.ly/2KCA5uf

Elshinta.com - Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri berharga industri dilibatkan dalam proses belajar mengajar di kampus maupun lembaga pendidikan, termasuk membantu menyusun atau mendisain kurikulum pendidikan.

Hal itu disampaikan Hanif saat menjadi keynote speaker pada Sidang Senat Terbuka Wisuda XIII Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bertemakan "Sumber Daya Manusia Unggul Menyongsong Era Industri 4.0" di Tangerang, Banten. Pelibatan industri dalam penyusunan kurikulum, Hanif akan sangat efektif dan sesuai dengan kebutuhan yang menguasai pasar terakIni. "Kalau kita tidak melakukan hal tersebut pasti ada ketidaksesuaian antara lulusan dengan tenaga yang dibutuhkan industri, " kata Hanif.

Hasil riset dari McKinsey Global Institute memaparkan bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketujuh secara global pada 2030. Hal ini disebabkan, pada masa itu nantinya Indonesia akan mengalami bonus demografi. Hanif mengatakan, untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara perekonomian terbesar ketujuh di dunia, maka dalam 15 tahun ke depan, masih diperlukan penambahan tenaga terampil (skilled workers) sebanyak 3,8 juta orang setiap tahunnya. Data tahun 2015, tenaga terampil Indonesia sebanyak 56 juta orang.

Dikutip Antara, menurut Hanif, saat ini lulusan perguruan tinggi di Indonesia per tahun mencapai sekitar 800 ribu orang. Jika diasumsikan seluruh lulusan tersebut memiliki kompetensi yang bagus, jumlahnya masih kurang. "Maka untuk menambah tenaga terampil sebanyak 3,8 juta orang per tahun, sudah terbukti tidak dapat hanya mengandalkan jalur pendidikan, tapi kita juga butuh terobosan dari pendidikan vokasi dan pelatihan kerja ," kata Hanif.

Hanif juga mengajak dunia kampus agar memperkuat STEMP (Science, Technology, Engineering and Math). Penguatan STEMP diperlukan agar generasi muda mampu menghadapi persaingan jika menggunakan big data di masa mendatang. "Perguruan tinggi juga harus perkuat STEMP. Di luar itu kita kembali kepada bagaimana menggenjot pelatihan vokasi untuk menghadapi tantangan jangka pendek dan menengah, " kata dia.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
| 20 November 2018 - 21:31 WIB

157 CPNS Situbondo lulus SKD

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 21:09 WIB

Serikat petani nilai serapan beras Bulog belum maksimal

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 20:48 WIB

Besok, pihak UNPRI dipanggil Polrestabes Medan

Elshinta.com - Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri berharga industri dilibatkan dalam proses belajar mengajar di kampus maupun lembaga pendidikan, termasuk membantu menyusun atau mendisain kurikulum pendidikan.

Hal itu disampaikan Hanif saat menjadi keynote speaker pada Sidang Senat Terbuka Wisuda XIII Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bertemakan "Sumber Daya Manusia Unggul Menyongsong Era Industri 4.0" di Tangerang, Banten. Pelibatan industri dalam penyusunan kurikulum, Hanif akan sangat efektif dan sesuai dengan kebutuhan yang menguasai pasar terakIni. "Kalau kita tidak melakukan hal tersebut pasti ada ketidaksesuaian antara lulusan dengan tenaga yang dibutuhkan industri, " kata Hanif.

Hasil riset dari McKinsey Global Institute memaparkan bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketujuh secara global pada 2030. Hal ini disebabkan, pada masa itu nantinya Indonesia akan mengalami bonus demografi. Hanif mengatakan, untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara perekonomian terbesar ketujuh di dunia, maka dalam 15 tahun ke depan, masih diperlukan penambahan tenaga terampil (skilled workers) sebanyak 3,8 juta orang setiap tahunnya. Data tahun 2015, tenaga terampil Indonesia sebanyak 56 juta orang.

Dikutip Antara, menurut Hanif, saat ini lulusan perguruan tinggi di Indonesia per tahun mencapai sekitar 800 ribu orang. Jika diasumsikan seluruh lulusan tersebut memiliki kompetensi yang bagus, jumlahnya masih kurang. "Maka untuk menambah tenaga terampil sebanyak 3,8 juta orang per tahun, sudah terbukti tidak dapat hanya mengandalkan jalur pendidikan, tapi kita juga butuh terobosan dari pendidikan vokasi dan pelatihan kerja ," kata Hanif.

Hanif juga mengajak dunia kampus agar memperkuat STEMP (Science, Technology, Engineering and Math). Penguatan STEMP diperlukan agar generasi muda mampu menghadapi persaingan jika menggunakan big data di masa mendatang. "Perguruan tinggi juga harus perkuat STEMP. Di luar itu kita kembali kepada bagaimana menggenjot pelatihan vokasi untuk menghadapi tantangan jangka pendek dan menengah, " kata dia.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com