Minggu, 22 Juli 2018 | 21:24 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

Luar Negeri / Aktual Luar Negeri

PBB: Rohingya terus hadapi kekerasan-pembunuhan

Kamis, 05 Juli 2018 - 09:35 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Dewi Rusiana
Pengungsi Rohingya. Sumber foto: https://bit.ly/2tTmLvi
Pengungsi Rohingya. Sumber foto: https://bit.ly/2tTmLvi

Elshinta.com - Muslim Rohingya terus mengungsikan diri dari negara bagian Rakhine Myanmar, banyak yang bersaksi tentang kekerasan, penganiayaan, pembunuhan dan pembakaran rumah mereka, kata kepala hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu (4/7).

Menurut Zeid Ra'ad Al-Hussein, sepanjang tahun ini 11.432 orang telah tiba di Bangladesh, tempat lebih dari 700 ribu orang lari menyelamatkan diri sejak penindasan militer pada Agustus 2017 di negara bagian Rakhine Myanmar Utara.

"Tidak ada retorika yang dapat menutupi fakta-fakta ini. Orang-orang masih berlarian menghindari penganiayaan di Rakhine, dan bahkan bersedia mengambil risiko mati di laut untuk menyelamatkan diri," kata Zeid kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, dikutip Antara.

Zeid menjelaskan, banyak pengungsi Rohingya juga melaporkan bahwa mereka ditekan oleh otoritas Myanmar untuk menerima kartu verifikasi nasional, yang mengatakan mereka perlu mengajukan permohonan kewarganegaraan. Ia menambahkan bahwa kartu-kartu itu menandai Rohingya sebagai non-warga negara, sesuai dengan karakterisasi pemerintah mereka sebagai orang asing di Tanah Air mereka sendiri.

Pihak berwenang di Myanmar, negara yang sebagian besar penduduknya beragama Buddha, menyangkal melakukan pelanggaran hak asasi manusia skala besar. Pihak berwenang mengatakan tindakan keras di Rakhine adalah tanggapan yang diperlukan untuk menangani kekerasan oleh kelompok militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), yang menyerang pos keamanan Myanmar.

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Myanmar Kyaw Moe Tun mengatakan, prioritas utama bagi pemerintahannya adalah untuk menemukan "penyelesaian berkelanjutan" di Rakhine. Kementerian sepakat dengan Bangladesh pada Januari 2018 bahwa pemulangan kembali pengungsi akan selesai dalam waktu dua tahun, katanya, tanpa menggunakan kata Rohingya.

"Akar penyebab tragedi itu adalah terorisme dan terorisme tidak bisa dimaafkan dalam keadaan apa pun," kata Kyaw.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Juli 2018 - 21:14 WIB

Pemerintah serius perluas penggunaan Biodiesel 20

Aktual Luar Negeri | 22 Juli 2018 - 20:37 WIB

Tips bagi jamaah Haji yang tersesat dan pingsan

Pemilihan Presiden 2019 | 22 Juli 2018 - 20:28 WIB

KPU Langkat skors rapat pleno DPSHP Pemilu 2019 selama sembilan jam

Kesehatan | 22 Juli 2018 - 20:15 WIB

Sudah divaksin influenza masih bisa kena pilek

Musibah | 22 Juli 2018 - 19:54 WIB

50 hektare lahan gunung di Aceh terbakar

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com