Rabu, 21 November 2018 | 01:41 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Lingkungan

Menteri Susi dorong ICRI fokus kelola perikanan karang

Jumat, 06 Juli 2018 - 11:29 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2MOsVUD
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2MOsVUD

Elshinta.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendorong organisasi Inisiatif Terumbu Karang Internasional (ICRI) untuk fokus dan menjadikan pengelolaan perikanan karang sebagai agenda utama.

Menteri Susi, dalam siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diterima Antara di Jakarta, Jumat (6/7), memimpin delegasi Indonesia pada pertemuan Koordinasi Ketua Bersama Sekretariat ICRI 2018-2020 di Paris, Perancis.

Dalam pertemuan tersebut, Susi mengusulkan agar pengelolaan perikanan karang menjadi agenda utama ICRI disepakati sebagai bagian dari Rencana Aksi Sekretariat ICRI 2018-2020.

Ikan karang hidup konsumsi ("live reef food fish"/LRFF) merupakan salah satu produk idola perdagangan ekspor ke pasar Hong Kong dan Tiongkok yang dinilai sangat menguntungkan. Diperkirakan setiap tahun antara 20.000-30.000 metrik ton (MT) dengan nilai lebih dari 1 miliar dolar AS ikan karang tercatat diperdagangkan melalui Hong Kong. Angka ini merupakan angka yang tercatat dan legal, diperkirakan masih banyak lagi jumlah ikan karang yang diperdagangkan dan masuk ke Hong Kong dengan cara ilegal.

Menteri Susi menyampaikan ancaman dan tekanan yang sangat besar terhadap ekosistem terumbu karang atas permintaan ikan karang hidup konsumsi yang semakin meningkat. Untuk itu, ujar dia, ICRI perlu memberikan pandangan dan dukungan pengelolaan yang berkelanjutan pada pada dimensi sosial ekonomi dalam pengelolaan terumbu karang seperti ikan karang hidup konsumsi.

"Tekanan tersebut akan semakin menjadikan ekosistem terumbu karang sebagai kawasan yang semakin rusak apabila upaya pencegahan penangkapan ikan ilegal, menggunakan alat dan cara penangkapan yang merusak lingkungan serta berlebihan tidak segera dilakukan. Penggunaan bom, potassium, dan alat tangkap merusak lainnya masih menjadi momok bagi kelestarian karang," jelasnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
| 20 November 2018 - 21:31 WIB

157 CPNS Situbondo lulus SKD

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 21:09 WIB

Serikat petani nilai serapan beras Bulog belum maksimal

Aktual Dalam Negeri | 20 November 2018 - 20:48 WIB

Besok, pihak UNPRI dipanggil Polrestabes Medan

Elshinta.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendorong organisasi Inisiatif Terumbu Karang Internasional (ICRI) untuk fokus dan menjadikan pengelolaan perikanan karang sebagai agenda utama.

Menteri Susi, dalam siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diterima Antara di Jakarta, Jumat (6/7), memimpin delegasi Indonesia pada pertemuan Koordinasi Ketua Bersama Sekretariat ICRI 2018-2020 di Paris, Perancis.

Dalam pertemuan tersebut, Susi mengusulkan agar pengelolaan perikanan karang menjadi agenda utama ICRI disepakati sebagai bagian dari Rencana Aksi Sekretariat ICRI 2018-2020.

Ikan karang hidup konsumsi ("live reef food fish"/LRFF) merupakan salah satu produk idola perdagangan ekspor ke pasar Hong Kong dan Tiongkok yang dinilai sangat menguntungkan. Diperkirakan setiap tahun antara 20.000-30.000 metrik ton (MT) dengan nilai lebih dari 1 miliar dolar AS ikan karang tercatat diperdagangkan melalui Hong Kong. Angka ini merupakan angka yang tercatat dan legal, diperkirakan masih banyak lagi jumlah ikan karang yang diperdagangkan dan masuk ke Hong Kong dengan cara ilegal.

Menteri Susi menyampaikan ancaman dan tekanan yang sangat besar terhadap ekosistem terumbu karang atas permintaan ikan karang hidup konsumsi yang semakin meningkat. Untuk itu, ujar dia, ICRI perlu memberikan pandangan dan dukungan pengelolaan yang berkelanjutan pada pada dimensi sosial ekonomi dalam pengelolaan terumbu karang seperti ikan karang hidup konsumsi.

"Tekanan tersebut akan semakin menjadikan ekosistem terumbu karang sebagai kawasan yang semakin rusak apabila upaya pencegahan penangkapan ikan ilegal, menggunakan alat dan cara penangkapan yang merusak lingkungan serta berlebihan tidak segera dilakukan. Penggunaan bom, potassium, dan alat tangkap merusak lainnya masih menjadi momok bagi kelestarian karang," jelasnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com