Rabu, 21 November 2018 | 09:54 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Bencana Alam

Warga lintas agama berdoa pascaerupsi Gunung Agung

Senin, 09 Juli 2018 - 11:36 WIB    |    Penulis : Devi Novitasari    |    Editor : Dewi Rusiana
Sumber foto: https://bit.ly/2N0P5TM
Sumber foto: https://bit.ly/2N0P5TM

Elshinta.com - Puluhan warga lintas agama melakukan meditasi dan doa bersama di Monumen Bajra Sandhi Denpasar, Senin (9/7), untuk kedamaian dunia pascaerupsi  Gunung Agung di Karangasem, Bali, dan berbagai bencana di Tanah Air, seperti kapal tenggelam, banjir, kebakaran dan gempa.

"Fenomena alam yang terjadi beberapa waktu belakangan ini seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir yang menimpa sejumlah wilayah di Tanah Air, termasuk di Bali sangat berdampak bagi kehidupan manusia," kata Ketua Panitia Doa Bersama, Made Mulia.

Doa dan meditasi bersama itu diawali dengan pembacaan doa lintas agama dan dilanjutkan dengan teknik meditasi untuk mendaur ulang energi negatif di sekitar menjadi energi penuh kedamaian dan cinta kasih.

Made Mulia mengatakan, kegiatan doa dan meditasi bersama itu dalam rangka menyebarkan energi cinta kasih dan kedamaian ke seluruh penjuru semesta serta mewujudkan kedamaian dunia.

"Apa yang terjadi pada alam akan mempengaruhi manusia dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, sebagai umat manusia, maka kita memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian alam semesta beserta isinya," ujarnya.

Selain itu, perilaku merusak alam oleh manusia mengakibatkan berbagai dampak yang ditimbulkan akan direspons oleh alam yang disebut bencana alam.

"Keadaan itu harus kita perbaiki bila kita semua peduli dan sadar untuk memperbaiki prilaku kita terhadap sesama manusia, terhadap sesama mahluk hidup dan terhadap lingkungan sekitar kita," ujarnya.

Dikutip dari laman Antara, sementara itu, 4.894 orang sempat berada di posko pengungsi pascaerupsi Gunung Agung pada akhir Juni lalu dan juga erupsi strombolian (erupsi disertai lava pijar) pada 2 Juli lalu, namun pengungsi sudah ada yang kembali dan sebagian masih bertahan.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 21 November 2018 - 09:35 WIB

NGO: Israel tangkap 900 anak Palestina tahun ini

Hankam | 21 November 2018 - 09:14 WIB

Polri-Ukraina tingkatkan kerja sama keamanan siber

Liga Eropa | 21 November 2018 - 09:04 WIB

Polandia tahan imbang Portugal 1-1

Aktual Sepakbola | 21 November 2018 - 08:55 WIB

Tim dokter nyatakan cedera Neymar tidak serius

Elshinta.com - Puluhan warga lintas agama melakukan meditasi dan doa bersama di Monumen Bajra Sandhi Denpasar, Senin (9/7), untuk kedamaian dunia pascaerupsi  Gunung Agung di Karangasem, Bali, dan berbagai bencana di Tanah Air, seperti kapal tenggelam, banjir, kebakaran dan gempa.

"Fenomena alam yang terjadi beberapa waktu belakangan ini seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir yang menimpa sejumlah wilayah di Tanah Air, termasuk di Bali sangat berdampak bagi kehidupan manusia," kata Ketua Panitia Doa Bersama, Made Mulia.

Doa dan meditasi bersama itu diawali dengan pembacaan doa lintas agama dan dilanjutkan dengan teknik meditasi untuk mendaur ulang energi negatif di sekitar menjadi energi penuh kedamaian dan cinta kasih.

Made Mulia mengatakan, kegiatan doa dan meditasi bersama itu dalam rangka menyebarkan energi cinta kasih dan kedamaian ke seluruh penjuru semesta serta mewujudkan kedamaian dunia.

"Apa yang terjadi pada alam akan mempengaruhi manusia dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, sebagai umat manusia, maka kita memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian alam semesta beserta isinya," ujarnya.

Selain itu, perilaku merusak alam oleh manusia mengakibatkan berbagai dampak yang ditimbulkan akan direspons oleh alam yang disebut bencana alam.

"Keadaan itu harus kita perbaiki bila kita semua peduli dan sadar untuk memperbaiki prilaku kita terhadap sesama manusia, terhadap sesama mahluk hidup dan terhadap lingkungan sekitar kita," ujarnya.

Dikutip dari laman Antara, sementara itu, 4.894 orang sempat berada di posko pengungsi pascaerupsi Gunung Agung pada akhir Juni lalu dan juga erupsi strombolian (erupsi disertai lava pijar) pada 2 Juli lalu, namun pengungsi sudah ada yang kembali dan sebagian masih bertahan.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com