Jumat, 21 September 2018 | 21:54 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames kuping kanan paragames
emajels

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Kursus salon TKI Taiwan butuh dukungan biaya

Selasa, 10 Juli 2018 - 08:37 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Dewi Rusiana
ilustrasi. Foto: Elshinta.com
ilustrasi. Foto: Elshinta.com

Elshinta.com - Kursus salon bagi buruh migran (TKI) di Taipei membutuhkan dukungan biaya agar pesertanya yang hanya dua orang bisa lebih banyak lagi.

Karen Hsu, dari NGO Global Workers Organization, Taiwan, di Taipei, Senin (9/7), mengatakan pelaksanaan kursus tata rias bagi TKI terbentur biaya karena peserta harus memiliki peralatan tata rias, seperti gunting pemotong rambut yang baik, seperti yang dimiliki perias salon profesional

"Kami mendatangkan pelatih rias profesional yang menerapkan standar tinggi agar TKI usai berlatih bisa membuka salon dengan kualifikasi profesional," ujar Karen, mantan wartawan yang kini aktif di LSM pemberdayaan TKI.

Mengutip dari Antara, biaya tambahan juga diperlukan saat praktik, seperti boneka, rambut palsu dan perangkat tata rias lainnya. Dampaknya, meski minat kursus potong rambut cukup tinggi di Upskil Center, Taipei, tetapi hanya dua peserta yang menjadi peserta kursus. Berbeda dengan kursus ketrampilan khusus TKI lainnya, seperti kursus bahasa mandirin yang mencapai 45 orang dan kursus cara membuat minuman "buble tea" yang saat ini sedang populer.

Salah satunya Sri Purwati (34) yang sudah enam tahun menjadi perawat orang tua di rumah majikannya. TKI asal Pacitan itu berencana mandiri setelah kembali ke Tanah Air dengan membuka salon di kampung halamannya.

Wati, yang membawa asuhan (orang tua majikan) ke tempat kursus, membayar sendiri biaya kursusnya. "Saya suka menata rambut, jadi ingin ikut kursus agar hobi menata rambut jadi pekerjaan serius nantinya," ujar ibu satu anak usia 9 tahun di Tanah Air itu.

Majikan mengijinkan orang tua yang diasuh Wati untuk dibawa ke tempat kursus. Asuhan Wati itu berusia 85 tahun dan menderita Alzhemeir, tidak bisa berbicara tetapi bisa memahami perkataan lawan bicaranya.

Sebelumnya Wati ikut kursus bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris. TKI tamat SMP itu juga sedang mengikuti Kejar Paket C untuk mendapat ijazah SMA yang diselenggarakan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI).

Pemerintah Taiwan dan KDEI bekerja sama untuk meningkatkan ketrampilan TKI. Kursus lainnya adalah e-comerce. Pemerintah Taiwan menginginkan terjadi interaksi antara TKI formal, dengan pekerja asal Vietnam, Filipina dan pekerja asal negara lainnya, juga dengan pemuda Taiwan membangun jaringan bisnis yang berbasis internet. "Pekerja asing, termasuk TKI adalah bagian dari masyarakat kami. Kami berharap mereka menjadi penguat kegiatan ekonomi dan bisnis agar terjadi jaringan binis yang kuat dan saling menguntungkan," ujar salah satu pejabat Taiwan kepada media.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 21 September 2018 - 21:33 WIB

Polisi amankan 12 pelaku curanmor di Bojonegoro

Aktual Dalam Negeri | 21 September 2018 - 21:25 WIB

Tolak kekerasan di Bengkulu, HMI geruduk DPRD Malang

Aktual Dalam Negeri | 21 September 2018 - 21:01 WIB

Jokowi-Ma`ruf nomor 1, Prabowo-Sandi nomor 2

Kriminalitas | 21 September 2018 - 20:57 WIB

Coba rebut senpi petugas, satu dari tujuh pelaku pencurian dilumpuhkan

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
AKU PINGIN KURSUS KECANTIKAN DAFTAR DIMANA YA
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com