Senin, 19 November 2018 | 04:43 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

36.907 warga Sulut sandang masalah kesejahteraan sosial

Selasa, 10 Juli 2018 - 12:37 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi. Sumber Foto:  https://bit.ly/2KT520T
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2KT520T

Elshinta.com - Sebanyak 36.907 warga di Provinsi Sulawesi Utara menyandang masalah kesejahteraan sosial terdiri dari disabilitas, anak balita telantar, anak telantar, anak yang berhadapan dengan hukum, anak jalanan, serta anak dengan kedisabilitas.

Kepala Dinas Sosial Sulut, dr Rinny Tamuntuan di Manado, Selasa (10/7) mengatakan Pemerintah Daerah terus berupaya membantu warga tersebut agar bisa mandiri dan keluar dari masalah yang dihadapinya.

Masalah kesejahteraan sosial lainnya di Sulut yaitu anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah, anak yang memerlukan perlindungan khusus, lanjut usia terlantar, pekerja seks, orang dengan HIV/AIDS, kelompok waria, warga pernah menjadi warga binaan lembaga pemasyarakatan dan korban napza. "Seperti yang saat ini kami lakukan untuk penyandang masalah disabilitas di wilayah kepulauan, kita bantu mereka dengan kursi roda. Selain itu juga untuk peningkatan kapasitas diri seperti keterampilan," ujarnya, seperti dikutip Antara.

Dari data yang ada, paling banyak PMKS adalah lanjut usia telantar (15.754 orang), pernah menjadi warga binaan lapas (3.491 orang), pekerja seks (3.471 orang), anak telantar (3.270 orang) dan penyandang disabilitas (3.058 orang).

Lainnya, kelompok waria (2.050 orang), korban napza (1.847 orang), anak dengan kedisabilitas (1.755 orang), anak yang berhadapan dengan hukum (936 orang), anak balitas telantar (736 orang), anak yang memerlukan perlindungan khusus (459 orang), anak jalanan (76 orang) dan anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah (empat orang).

"Peningkatan kapasitas dengan pelatihan atau keterampilan kami programkan agar mereka bisa mandiri," katanya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 21:40 WIB

Tiba di Sidoarjo dari Papua, ini agenda kunjungan kerja Jokowi

Aktual Olahraga | 18 November 2018 - 21:14 WIB

Masyarakat Kota Batu antusias ikut Sepeda Nusantara

Pemilihan Presiden 2019 | 18 November 2018 - 20:48 WIB

Demokrat klaim punya cara khusus kampanyekan Prabowo-Sandi

Kriminalitas | 18 November 2018 - 20:39 WIB

Kejiwaan HS pembunuh satu keluarga di Bekasi akan diperiksa

Elshinta.com - Sebanyak 36.907 warga di Provinsi Sulawesi Utara menyandang masalah kesejahteraan sosial terdiri dari disabilitas, anak balita telantar, anak telantar, anak yang berhadapan dengan hukum, anak jalanan, serta anak dengan kedisabilitas.

Kepala Dinas Sosial Sulut, dr Rinny Tamuntuan di Manado, Selasa (10/7) mengatakan Pemerintah Daerah terus berupaya membantu warga tersebut agar bisa mandiri dan keluar dari masalah yang dihadapinya.

Masalah kesejahteraan sosial lainnya di Sulut yaitu anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah, anak yang memerlukan perlindungan khusus, lanjut usia terlantar, pekerja seks, orang dengan HIV/AIDS, kelompok waria, warga pernah menjadi warga binaan lembaga pemasyarakatan dan korban napza. "Seperti yang saat ini kami lakukan untuk penyandang masalah disabilitas di wilayah kepulauan, kita bantu mereka dengan kursi roda. Selain itu juga untuk peningkatan kapasitas diri seperti keterampilan," ujarnya, seperti dikutip Antara.

Dari data yang ada, paling banyak PMKS adalah lanjut usia telantar (15.754 orang), pernah menjadi warga binaan lapas (3.491 orang), pekerja seks (3.471 orang), anak telantar (3.270 orang) dan penyandang disabilitas (3.058 orang).

Lainnya, kelompok waria (2.050 orang), korban napza (1.847 orang), anak dengan kedisabilitas (1.755 orang), anak yang berhadapan dengan hukum (936 orang), anak balitas telantar (736 orang), anak yang memerlukan perlindungan khusus (459 orang), anak jalanan (76 orang) dan anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah (empat orang).

"Peningkatan kapasitas dengan pelatihan atau keterampilan kami programkan agar mereka bisa mandiri," katanya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com