Senin, 19 November 2018 | 04:38 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Susno Duadji sebut tiga modus praktik politik uang

Selasa, 10 Juli 2018 - 15:45 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Komisaris Jenderal Polisi (Purnawirawan) Susno Duadji. Sumber foto: https://bit.ly/2KMSJUA
Komisaris Jenderal Polisi (Purnawirawan) Susno Duadji. Sumber foto: https://bit.ly/2KMSJUA

Elshinta.com - Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi (Purnawirawan) Susno Duadji, menyebut sedikitnya ada tiga modus praktik politik uang yang biasa terjadi dalam Pemilu. 
       
"Politik uang itu menyogok atau membeli tiga hal," ujar dia, dalam diskusi bertajuk "Membongkar Kejahatan Money Politik pada Pilkada 2018: antara Regulasi dan Tradisi", yang diselenggarakan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, di Jakarta, Selasa (10/7). 
       
Dia mengatakan, politik uang pertama adalah membeli kursi, dalam bentuk mahar terhadap partai politik. Kedua, membeli kesempatan dan kekebalan hukum, agar penyelenggara Pemilu, saksi dan penegak hukum tidak menyalahkan kegiatan praktik uang yang dilakukannya. Ketiga, membeli suara rakyat. 
     
Dia menegaskan, penanggulangan praktik politik uang harus dilandasi kemauan keras, baik dari seluruh pihak untuk menghapuskannya. Dia mencontohkan, seringkali ada laporan masyarakat kepada panwas soal dugaan politik uang. Namun Panitia Pengawas kerap mempertanyakan bukti yang dimiliki pelapor. "Ini terkesan Panitia Pengawas pasif. Panitia Pengawas jangan meminta bukti, jangan meminta menghadirkan saksi, seperti seorang hakim. Panitia Pengawas harus bergerak bekerja," ujar Duadji yang pernah sangat terkenal dengan "cicak versus buaya" itu.  
     
Dia mengingatkan praktik politik uang hanya akan menghasilkan pemimpin yang selalu membanggakan sisi materi, tidak mencintai rakyat dan selalu berpikir untuk mengembalikkan modalnya. "Kita harus ingat, ketidakbaikan akan berjalan jika orang-orang baik itu diam, maka jika kita merasa sebagai orang baik jangan diam, jangan takut. Paling hanya ditangkap. Saya tiga kali ditangkap tetap gemuk," kata dia, demikian Antara

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 18 November 2018 - 21:40 WIB

Tiba di Sidoarjo dari Papua, ini agenda kunjungan kerja Jokowi

Aktual Olahraga | 18 November 2018 - 21:14 WIB

Masyarakat Kota Batu antusias ikut Sepeda Nusantara

Pemilihan Presiden 2019 | 18 November 2018 - 20:48 WIB

Demokrat klaim punya cara khusus kampanyekan Prabowo-Sandi

Kriminalitas | 18 November 2018 - 20:39 WIB

Kejiwaan HS pembunuh satu keluarga di Bekasi akan diperiksa

Elshinta.com - Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi (Purnawirawan) Susno Duadji, menyebut sedikitnya ada tiga modus praktik politik uang yang biasa terjadi dalam Pemilu. 
       
"Politik uang itu menyogok atau membeli tiga hal," ujar dia, dalam diskusi bertajuk "Membongkar Kejahatan Money Politik pada Pilkada 2018: antara Regulasi dan Tradisi", yang diselenggarakan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, di Jakarta, Selasa (10/7). 
       
Dia mengatakan, politik uang pertama adalah membeli kursi, dalam bentuk mahar terhadap partai politik. Kedua, membeli kesempatan dan kekebalan hukum, agar penyelenggara Pemilu, saksi dan penegak hukum tidak menyalahkan kegiatan praktik uang yang dilakukannya. Ketiga, membeli suara rakyat. 
     
Dia menegaskan, penanggulangan praktik politik uang harus dilandasi kemauan keras, baik dari seluruh pihak untuk menghapuskannya. Dia mencontohkan, seringkali ada laporan masyarakat kepada panwas soal dugaan politik uang. Namun Panitia Pengawas kerap mempertanyakan bukti yang dimiliki pelapor. "Ini terkesan Panitia Pengawas pasif. Panitia Pengawas jangan meminta bukti, jangan meminta menghadirkan saksi, seperti seorang hakim. Panitia Pengawas harus bergerak bekerja," ujar Duadji yang pernah sangat terkenal dengan "cicak versus buaya" itu.  
     
Dia mengingatkan praktik politik uang hanya akan menghasilkan pemimpin yang selalu membanggakan sisi materi, tidak mencintai rakyat dan selalu berpikir untuk mengembalikkan modalnya. "Kita harus ingat, ketidakbaikan akan berjalan jika orang-orang baik itu diam, maka jika kita merasa sebagai orang baik jangan diam, jangan takut. Paling hanya ditangkap. Saya tiga kali ditangkap tetap gemuk," kata dia, demikian Antara

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com