Jumat, 16 November 2018 | 15:36 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Penggiat lingkungan Kudus kecam pengecatan bebatuan di Sungai Rahtawu

Rabu, 11 Juli 2018 - 15:57 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Istimewa. Foto: Sutini/Radio Elshinta
Istimewa. Foto: Sutini/Radio Elshinta

Elshinta.com - Adanya bebatuan sungai yang dicat warna-warni di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah menjadi kontroversi dikalangan penggiat lingkungan, karena dinilai sebagai vandalisme yang dapat merusak alam.

Menurut Koordinator Muria Research Center (MRC) Indonesia, Muhammad Widjanarko mengatakan, kreativitas yang dilakukan oleh warga Rahtawu pengelola tempat wisata dipinggir Sungai Pethuk salah tempat. Dimana kemungkinan ia ingin meniru kampung warna. "Bukannya akan lebih alami dengan batu yang asli, jangan sampai kelatahan 'ngecat batu' terjadi ditempat lain, terutama yang ada dipinggir hutan atau didalam sungai," kata Widjanarko kepada Kontributor Elshinta Sutini, Selasa (10/7).

Menurut Widjanarko, pihak terkait dan desa harus segera bergerak untuk mengembalikan fungsi alam pegunungan Rahtawu sebagai mana mestinya. Meski diakui saat ini kawasan tersebut ramai dikunjungi para wisatawan, tetapi diperlukan kesadaran bersama untuk tetap melestarikan alam. "Jangan sampai kasus mengecat batu di sungai ini melebar yang mengarah pada vandalisme bukan kreativitas seni," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Rahtawu, Sugiono mengatakan, pengecatan tersebut tidak ijin kepada pemerintah desa. Menuturnya, pengecatan tersebut dilakukan oleh salah satu warganya, pihaknya baru mengetahui setelah melakukan pengecekan.

Ia menyampaikan di Desa Rahtawu ada sekitar 20 objek wisata. Dari jumlah tersebut, ada yang dikelola pihak desa, namun juga ada yang dikelola pribadi. Salah satunya yang mengelola pribadi yang melakukan pengecatab batu disungai. "Kalau batu itu hak milik warga kami bernama Santo. Lahannya HM atas nama Santo, namun kalau sungainya itu masuknya milik bina marga," ujarnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Ekonomi | 16 November 2018 - 15:35 WIB

BI siapkan rekening khusus permudah pengelolaan devisa ekspor

Musibah | 16 November 2018 - 15:24 WIB

Bulog salurkan beras ke wilayah banjir Riau

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 15:15 WIB

Komnas HAM beri masukan ke Presiden soal KSAD baru

Lingkungan | 16 November 2018 - 15:06 WIB

Banyak program restorasi gambut gagal, ini penyebabnya

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 14:55 WIB

Presiden yakin tujuh mimpi anak bangsa di Kapsul Waktu bisa terwujud, jika...

Aktual Olahraga | 16 November 2018 - 14:47 WIB

Kasdam I/BB berangkatkan 32 atlet Yong Moo Do ke Bali

Elshinta.com - Adanya bebatuan sungai yang dicat warna-warni di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah menjadi kontroversi dikalangan penggiat lingkungan, karena dinilai sebagai vandalisme yang dapat merusak alam.

Menurut Koordinator Muria Research Center (MRC) Indonesia, Muhammad Widjanarko mengatakan, kreativitas yang dilakukan oleh warga Rahtawu pengelola tempat wisata dipinggir Sungai Pethuk salah tempat. Dimana kemungkinan ia ingin meniru kampung warna. "Bukannya akan lebih alami dengan batu yang asli, jangan sampai kelatahan 'ngecat batu' terjadi ditempat lain, terutama yang ada dipinggir hutan atau didalam sungai," kata Widjanarko kepada Kontributor Elshinta Sutini, Selasa (10/7).

Menurut Widjanarko, pihak terkait dan desa harus segera bergerak untuk mengembalikan fungsi alam pegunungan Rahtawu sebagai mana mestinya. Meski diakui saat ini kawasan tersebut ramai dikunjungi para wisatawan, tetapi diperlukan kesadaran bersama untuk tetap melestarikan alam. "Jangan sampai kasus mengecat batu di sungai ini melebar yang mengarah pada vandalisme bukan kreativitas seni," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Rahtawu, Sugiono mengatakan, pengecatan tersebut tidak ijin kepada pemerintah desa. Menuturnya, pengecatan tersebut dilakukan oleh salah satu warganya, pihaknya baru mengetahui setelah melakukan pengecekan.

Ia menyampaikan di Desa Rahtawu ada sekitar 20 objek wisata. Dari jumlah tersebut, ada yang dikelola pihak desa, namun juga ada yang dikelola pribadi. Salah satunya yang mengelola pribadi yang melakukan pengecatab batu disungai. "Kalau batu itu hak milik warga kami bernama Santo. Lahannya HM atas nama Santo, namun kalau sungainya itu masuknya milik bina marga," ujarnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com