Senin, 19 November 2018 | 13:05 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Ini penyebab turunnya produksi telur

Rabu, 11 Juli 2018 - 16:18 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Istimewa. Foto: Fendi Lesmana/Radio Elshinta
Istimewa. Foto: Fendi Lesmana/Radio Elshinta

Elshinta.com - Sejumlah peternak ayam petelur di Kota Kediri semenjak beberapa hari terakhir ini, keluhkan hasil produksi telur yang terus merosot. Turunya hasil produksi telur saat ini, tidak lepas dari sejumlah faktor diantaranya cuaca ekstrem yang terjadi seperti sekarang ini. Cuaca dingin membuat daya tahan ayam petelur melemah sehingga angka kematian relevan cukup tinggi. 

Temuan ini diketahui saat sejumlah petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri mendatangi salah satu peternak ayam petelur di Kelurahan Ngelitih Kecamatan Pesantren. 

Salah seorang peternak ayam Yosi mengaku, sejak dua hari terakhir ini hewan ternak ayam petelur miliknya mendadak mati. " Ya, kalau setiap harinya bisa dua ekor yang mati mas. Ini sudah berlangsung dua hari ini. " ujarnya kepada Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana.

Tidak hanya permasalahan mengenai ancaman kematian, sisi lain peternak juga dipusingkan dengan naiknya harga pakan ternak. Diakui oleh sejumlah peternak semenjak diberlakukanya regulasi oleh pemerintah pusat mengenai larangan penggunaan AGP (Antibiotik Growth Promoter) sistem kekebalan tubuh peternak agak berkurang dan gampang terserang penyakit.  

"Itu kebijakan Nasional dari pusat, jangka panjang. Saya sarankan untuk peternak petelur menggunakan herbal. Seperti penambahan kunyit, atau temulawak, daun-daun pepaya itu bisa ditambahkan dikonsumsi pakan, biar daya tahan ayamnya meningkat, Ali Mansyur selaku Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Selasa (9/7). 

Ali Mansyur beralasan, dilarangnya pemberian AGP pada hewan ternak, semata mata untuk melindungi kesehatan konsumen apabila mengkonsumsi daging mau pun telur dalam janga waktu panjang. Pelarangan penggunaan Antibiotik mulai efektif diberlakukan 1 Januari 2018.

Ditambahkan Ali Mansyur, karena permasalahan tadi secara langsung berdampak pada turunya hasil produksi telur. Disamping itu, faktor lainnya yang mempengaruhi hasil produksi telur adalah berkurangnya populasi peternak ayam petelur terutama pada saat momentum lebaran kemarin. "Ada pengurangan populasi dari peternak, itu karena hari raya kemarin harga telur naik dan harga daging ayam naik. Banyak peternak petelur menjual ayamnya, dikonsumsi untuk ayam daging," pungkasnya. 

Karena turunya hasil produksi telur serta ditunjang dengan harga pakan yang naik. Maka memicu terjadinya perubahan harga telur yang cenderung beranjak naik, hingga menembus Rp26 ribu perkilogram. Kenaikan harga telur yang sudah berlangsung tujuh hari tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh Tim Pengendali Inflamasi Daerah Kota Kediri untuk melakukan sidak ke sejumlah Pasar Tradisional.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 12:55 WIB

DPRD dorong optimalisasi pelaksanaan regulasi Pilkades

Musibah | 19 November 2018 - 12:42 WIB

Regu penyelamat cari penumpang jatuh di laut

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 12:18 WIB

50 tandon air dibagikan DMI pada 50 masjid di Kota Malang

Aktual Dalam Negeri | 19 November 2018 - 11:51 WIB

Polda Metro gelar pra-rekonstruksi pembunuhan satu keluarga

Elshinta.com - Sejumlah peternak ayam petelur di Kota Kediri semenjak beberapa hari terakhir ini, keluhkan hasil produksi telur yang terus merosot. Turunya hasil produksi telur saat ini, tidak lepas dari sejumlah faktor diantaranya cuaca ekstrem yang terjadi seperti sekarang ini. Cuaca dingin membuat daya tahan ayam petelur melemah sehingga angka kematian relevan cukup tinggi. 

Temuan ini diketahui saat sejumlah petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri mendatangi salah satu peternak ayam petelur di Kelurahan Ngelitih Kecamatan Pesantren. 

Salah seorang peternak ayam Yosi mengaku, sejak dua hari terakhir ini hewan ternak ayam petelur miliknya mendadak mati. " Ya, kalau setiap harinya bisa dua ekor yang mati mas. Ini sudah berlangsung dua hari ini. " ujarnya kepada Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana.

Tidak hanya permasalahan mengenai ancaman kematian, sisi lain peternak juga dipusingkan dengan naiknya harga pakan ternak. Diakui oleh sejumlah peternak semenjak diberlakukanya regulasi oleh pemerintah pusat mengenai larangan penggunaan AGP (Antibiotik Growth Promoter) sistem kekebalan tubuh peternak agak berkurang dan gampang terserang penyakit.  

"Itu kebijakan Nasional dari pusat, jangka panjang. Saya sarankan untuk peternak petelur menggunakan herbal. Seperti penambahan kunyit, atau temulawak, daun-daun pepaya itu bisa ditambahkan dikonsumsi pakan, biar daya tahan ayamnya meningkat, Ali Mansyur selaku Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Selasa (9/7). 

Ali Mansyur beralasan, dilarangnya pemberian AGP pada hewan ternak, semata mata untuk melindungi kesehatan konsumen apabila mengkonsumsi daging mau pun telur dalam janga waktu panjang. Pelarangan penggunaan Antibiotik mulai efektif diberlakukan 1 Januari 2018.

Ditambahkan Ali Mansyur, karena permasalahan tadi secara langsung berdampak pada turunya hasil produksi telur. Disamping itu, faktor lainnya yang mempengaruhi hasil produksi telur adalah berkurangnya populasi peternak ayam petelur terutama pada saat momentum lebaran kemarin. "Ada pengurangan populasi dari peternak, itu karena hari raya kemarin harga telur naik dan harga daging ayam naik. Banyak peternak petelur menjual ayamnya, dikonsumsi untuk ayam daging," pungkasnya. 

Karena turunya hasil produksi telur serta ditunjang dengan harga pakan yang naik. Maka memicu terjadinya perubahan harga telur yang cenderung beranjak naik, hingga menembus Rp26 ribu perkilogram. Kenaikan harga telur yang sudah berlangsung tujuh hari tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh Tim Pengendali Inflamasi Daerah Kota Kediri untuk melakukan sidak ke sejumlah Pasar Tradisional.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com