Sabtu, 17 November 2018 | 02:11 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Arestasi

Densus 88 bawa satu keluarga dari Sleman

Rabu, 11 Juli 2018 - 19:25 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto:  https://bit.ly/2ub4XMs
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2ub4XMs

Elshinta.com - Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri membawa satu keluarga di Dusun Beringin Wetan, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Rabu (11/7).

Kepala Rukun Tangga (RT) 5 Dusun Beringin Wetan, Sumarjono di Sleman, mengaku sempat diminta membuka pintu rumah keluarga itu oleh tim Densus 88 dalam penangkapan yang didahului penggeledahan pada pukul 10.00 WIB. "Siapa saja yang dibawa, saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan penggeledahan," kata dia, seperti dikutip Antara.

Menurut Sumarjo, selain dirinya tidak ada warga di kawasan RT itu yang diperbolehkan mendekat dan menyaksikan penggeledahan di rumah kontrakan yang saat ini diberi garis polisi itu.

Saat penggeledahan di dalam rumah, menurut Sumarjo, ada sebanyak sepuluh polisi dan di lima polisi di halaman depan rumah itu.

Ia menyebutkan dalam penggeledahan itu, petugas membawa satu kardus berisi kertas fotokopian, laptop, gawai, pedang, pisau sangkur dan busur panah. Selain itu, petugas juga membawa mobil dan sepeda motor milik keluarga itu. "Hanya saya yang diperbolehkan melihat," kata dia.

Menurut dia, rumah yang didatangi polisi itu ditinggali warga bernama Saefullah serta empat orang anak.

Saefullah, menurut dia, sehari-hari berjualan bakso tusuk serta martabak. Saefullah beserta keluarganya sudah sekitar lima bulan tinggal di rumah kontrakan itu. "Orangnya terbuka. Biasa, senyum kalau ketemu. Biasanya shalat berjamaah," kata dia.

Sumarjono juga mengaku mendapat informasi bahwa Saefullah merupakan mantan narapidana terorisme.

Selain itu, Imah, pemilik kontrakan mengatakan Saefullah menyewa rumah sudah sekitar lima bulan. Ia mengaku jarang berkomunikasi dengan Saefullah. "Ya kalau pagi sampai siang saya jualan di pasar," kata dia.

Sementara itu, saat dimintai konfirmasi Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) AKBP Yulianto mengaku justru belum mengetahui ihwal penangkapan keluarga tersebut. "Saya belum tahu," kata Yulianto singkat.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Arestasi | 16 November 2018 - 21:50 WIB

Polsek Pangkalan Brandan ringkus bandar dan pengedar narkoba

Hukum | 16 November 2018 - 21:38 WIB

Penyerang anggota Polsek Penjaringan jalani tes kejiwaan

Event | 16 November 2018 - 21:24 WIB

Andik siap habis-habisan hadapi Thailand

Politik | 16 November 2018 - 21:07 WIB

DPR: Polemik politik masih jauh dari etika

Megapolitan | 16 November 2018 - 20:55 WIB

Atasi genangan air, Sudin SDA pasang `sheetpile` Kali BGR

Elshinta.com - Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri membawa satu keluarga di Dusun Beringin Wetan, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Rabu (11/7).

Kepala Rukun Tangga (RT) 5 Dusun Beringin Wetan, Sumarjono di Sleman, mengaku sempat diminta membuka pintu rumah keluarga itu oleh tim Densus 88 dalam penangkapan yang didahului penggeledahan pada pukul 10.00 WIB. "Siapa saja yang dibawa, saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan penggeledahan," kata dia, seperti dikutip Antara.

Menurut Sumarjo, selain dirinya tidak ada warga di kawasan RT itu yang diperbolehkan mendekat dan menyaksikan penggeledahan di rumah kontrakan yang saat ini diberi garis polisi itu.

Saat penggeledahan di dalam rumah, menurut Sumarjo, ada sebanyak sepuluh polisi dan di lima polisi di halaman depan rumah itu.

Ia menyebutkan dalam penggeledahan itu, petugas membawa satu kardus berisi kertas fotokopian, laptop, gawai, pedang, pisau sangkur dan busur panah. Selain itu, petugas juga membawa mobil dan sepeda motor milik keluarga itu. "Hanya saya yang diperbolehkan melihat," kata dia.

Menurut dia, rumah yang didatangi polisi itu ditinggali warga bernama Saefullah serta empat orang anak.

Saefullah, menurut dia, sehari-hari berjualan bakso tusuk serta martabak. Saefullah beserta keluarganya sudah sekitar lima bulan tinggal di rumah kontrakan itu. "Orangnya terbuka. Biasa, senyum kalau ketemu. Biasanya shalat berjamaah," kata dia.

Sumarjono juga mengaku mendapat informasi bahwa Saefullah merupakan mantan narapidana terorisme.

Selain itu, Imah, pemilik kontrakan mengatakan Saefullah menyewa rumah sudah sekitar lima bulan. Ia mengaku jarang berkomunikasi dengan Saefullah. "Ya kalau pagi sampai siang saya jualan di pasar," kata dia.

Sementara itu, saat dimintai konfirmasi Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) AKBP Yulianto mengaku justru belum mengetahui ihwal penangkapan keluarga tersebut. "Saya belum tahu," kata Yulianto singkat.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Jumat, 16 November 2018 - 19:47 WIB

Ini kronologis pembunuhan satu keluarga di Bekasi

Jumat, 16 November 2018 - 18:59 WIB

Tim DVI kembali identifikasi tiga korban Lion Air

Jumat, 16 November 2018 - 15:24 WIB

Bulog salurkan beras ke wilayah banjir Riau

Jumat, 16 November 2018 - 14:36 WIB

Kemhan masih hitung kerugian akibat kebakaran

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com