Kamis, 18 Oktober 2018 | 21:58 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Politik

Survei LIPI: Isu SARA muncul dimanipulasi elite politik

Selasa, 07 Agustus 2018 - 13:38 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Dewi Rusiana
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2OK6WQm
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2OK6WQm

Elshinta.com - Hasil survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terhadap 145 orang ahli politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam, menunjukkan bahwa isu suku, agama, ras dan antargolongan menjadi besar karena dikapitalisasi dan dimanipulasi elite politik.

"Hasil survei LIPI menunjukkan bahwa isu SARA tidak signifikan terjadi di tingkat akar rumput. Isu SARA terjadi di Pilkada DKI karena kecenderungan manipulasi dan dikapitalisasi elite politik," ujar peneliti LIPI Syarif Hidayat dalam penjelasan hasil survei LIPI di Jakarta, Selasa (7/8).

Dilansir dari kantor berita Antara, survei ini dilakukan terhadap 145 ahli bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam, yang tersebar di 11 provinsi selama kurun waktu April hingga Juli 2018. Survei ini sebagai bagian pelaksanaan kegiatan survei "pemetaan kondisi politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan menjelang pemilu serentak 2019: dalam rangka penguatan demokrasi" yang merupakan bagian dari program prioritas nasional (PN) tahun 2018.

Syarif mengatakan dari survei ahli yang dilakukan tim peneliti LIPI itu diketahui bahwa tindakan persekusi yang belakangan marak terjadi di masyarakat, mayoritasnya disebabkan penyebaran berita bohong atau hoax (92,4 persen), ujaran kebencian (90,4 persen), radikalisme (84,2 persen), kesenjangan sosial (75,2 persen), perasaan terancam oleh orang atau kelompok lain (71,1 persen), sedangkan aspek "religiusitas" (67,6 persen) dan ketidakpercayaan antarkelompok/suku/agama/ras (67,6 persen).

Persentase itu menurut dia menunjukkan bahwa isu SARA tidak begitu signifikan terjadi di tingkat masyarakat biasa, melainkan hanya merupakan isu yang dipolitisasi para elite politik. Sedangkan untuk solusinya, lanjut dia, adalah dengan mengelola dan mengendalikan perilaku elite politik.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Lingkungan | 18 Oktober 2018 - 21:48 WIB

TMMD, Warga beri lahan, TNI buat jalan

Aktual Dalam Negeri | 18 Oktober 2018 - 21:36 WIB

Naikan branding, Pemkab Kudus optimalkan Tim Jaring Pukat

Aktual Dalam Negeri | 18 Oktober 2018 - 20:55 WIB

Warga temukan ratusan peluru di tempat pembuangan sampah

Pemasaran | 18 Oktober 2018 - 20:45 WIB

Pentingnya menggunakan email marketing bagi bisnis online

Elshinta.com - Hasil survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terhadap 145 orang ahli politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam, menunjukkan bahwa isu suku, agama, ras dan antargolongan menjadi besar karena dikapitalisasi dan dimanipulasi elite politik.

"Hasil survei LIPI menunjukkan bahwa isu SARA tidak signifikan terjadi di tingkat akar rumput. Isu SARA terjadi di Pilkada DKI karena kecenderungan manipulasi dan dikapitalisasi elite politik," ujar peneliti LIPI Syarif Hidayat dalam penjelasan hasil survei LIPI di Jakarta, Selasa (7/8).

Dilansir dari kantor berita Antara, survei ini dilakukan terhadap 145 ahli bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam, yang tersebar di 11 provinsi selama kurun waktu April hingga Juli 2018. Survei ini sebagai bagian pelaksanaan kegiatan survei "pemetaan kondisi politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan menjelang pemilu serentak 2019: dalam rangka penguatan demokrasi" yang merupakan bagian dari program prioritas nasional (PN) tahun 2018.

Syarif mengatakan dari survei ahli yang dilakukan tim peneliti LIPI itu diketahui bahwa tindakan persekusi yang belakangan marak terjadi di masyarakat, mayoritasnya disebabkan penyebaran berita bohong atau hoax (92,4 persen), ujaran kebencian (90,4 persen), radikalisme (84,2 persen), kesenjangan sosial (75,2 persen), perasaan terancam oleh orang atau kelompok lain (71,1 persen), sedangkan aspek "religiusitas" (67,6 persen) dan ketidakpercayaan antarkelompok/suku/agama/ras (67,6 persen).

Persentase itu menurut dia menunjukkan bahwa isu SARA tidak begitu signifikan terjadi di tingkat masyarakat biasa, melainkan hanya merupakan isu yang dipolitisasi para elite politik. Sedangkan untuk solusinya, lanjut dia, adalah dengan mengelola dan mengendalikan perilaku elite politik.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 18 Oktober 2018 - 21:48 WIB

TMMD, Warga beri lahan, TNI buat jalan

Kamis, 18 Oktober 2018 - 20:26 WIB

Malinau jadi tempat pelaksanaan TMMD ke-103

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com